SURABAYA, KOMPAS – PT Pertamina Patra Niaga menurunkan harga bahan bakar minyak nonsubsidi yang berlaku mulai Rabu (1/7/2026). Penurunan 7-15 persen ini diharapkan mengatasi potensi antrean pembelian BBM bersubsidi yang sempat terjadi, termasuk di Jawa Timur.
Antrean truk, bus, dan mobil terutama yang bermesin diesel sempat terjadi pada 24-30 Juni 2026 di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Jatim. Antrean demi gasoil atau solar dipicu perbedaan harga yang amat jauh. Satu liter Biosolar bersubsidi dihargai Rp 6.800, sedangkan yang nonsubsidi, yaitu Dexlite (Rp 23.000 per liter) dan Pertamina Dex (Rp 24.800 per liter).
PT Pertamina (Persero) membatasi konsumsi harian Biosolar. Untuk mobil pribadi, kuotanya 50-60 liter per hari. Mobil penumpang umum maksimal 80 liter per hari. Kendaraan umum angkutan orang dan barang roda enam atau lebih, seperti bus dan truk, dibatasi maksimal 200 liter per hari.
Sepekan sebelum antrean konsumsi solar, di Jatim juga terkena pemadaman listrik bergiliran. Pemulihan secara swadaya oleh masyarakat dan dunia usaha dengan penggunaan mesin genset atau generator set menaikkan konsumsi solar.
Untuk mengatasi lonjakan konsumsi solar yang memicu antrean pembelian di SPBU, Patra Niaga menambah kuota Biosolar untuk Jatim. Kuota 2,4 juta kilo liter (KL) ditambah menjadi 2,7 juta KL. Penambahan kuota dibarengi dengan peningkatan penyaluran Biosolar ke jaringan SPBU dengan truk-truk tangki.
Rabu ini, harga Biosolar tetap Rp 6.800 per liter. Namun, per liter Dexlite turun 14 persen dari Rp 23.000 menjadi Rp 19.700. Harga per liter Pertamina Dex turun 15 persen dari Rp 24.800 menjadi Rp 21.150.
Harga BBM lainnya, yakni gasoline atau bensin jenis Pertamax Turbo, turun 7 persen per liter dari Rp 20.750 menjadi Rp 19.300. Untuk Pertamax Green tetap di harga Rp 17.000 per liter. Untuk Pertalite yang bersubsidi tetap Rp 10.000 per liter. Harga avtur untuk penerbangan domestik sebelum pajak di Bandara Internasional Soekarno-Hatta turun 14 persen dari Rp 22.190 per liter menjadi Rp 19.190 per liter.
Menurut Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak, penambahan kuota dan penyesuaian harga diharapkan bisa dipahami oleh masyarakat bahwa BBM tersedia. Distribusi dari depo ke SPBU perlu dipercepat dengan penambahan truk tangki BBM sehingga dapat segera terserap oleh masyarakat.
”Kami berharap, lonjakan konsumsi yang sempat terjadi luar biasa ini dapat teratasi” ujar Emil.

Area Manager Communication, Relations, and Corporate Social Responsibility Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Ahad Rahedi mengatakan, pihaknya terus mengantisipasi potensi antrean kendaraan terjadi lagi.
”Konsumsi Biosolar meningkat pada awal pekan karena mobilitas masyarakat untuk bekerja serta aktivitas distribusi barang dan jasa juga meningkat,” ujar Ahad.
Patra Niaga telah mengerahkan tambahan mobil tangki untuk memasok Biosolar ke SPBU dengan tingkat penyerapan tinggi. Lokasinya, antara lain, di sekitar pelabuhan, bandara, terminal, pintu masuk jalan tol, area rehat jalan tol, serta jalur nasional antarkota dan antarprovinsi.
Bersamaan dengan penetapan harga terbaru BBM nonsubsidi, pemerintah mulai menerapkan penggunaan biodiesel B50. Pemakaian solar dengan kandungan minyak nabati 50 persen itu merupakan kebijakan strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Guru Besar Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Bambang Sudarmanta mengingatkan, karakteristik biodiesel berbeda dengan solar fosil. Ada perubahan signifikan pada sifat fisik, kimia, dan perilaku pembakaran dalam mesin diesel.
”Jelas memengaruhi performa, keandalan, dan umur sistem mesin,” kata Bambang.
Untuk itu, implementasi B50 jangan sekadar berbasis kebijakan melainkan juga pendekatan teknis atau engineering-driven secara komprehensif. B50 memiliki densitas lebih tinggi sehingga meningkatkan massa BBM yang terinjeksi dalam sistem berbasis volumetrik. Lonjakan dapat memicu over-fueling dan perubahan karakter pembakaran.
Selain itu, viskositas lebih tinggi yang menyebabkan atomisasi bahan bakar menjadi kurang optimal. ”Ini diakibatkan pembakaran menghasilkan ukuran droplet yang lebih besar dan penyebaran partikel tidak homogen,” ujar Bambang.


Secara umum, Bambang mengingatkan, kandungan nabati yang lebih besar dalam BBM berpotensi mengakibatkan kinerja mesin tak optimal. Potensi banyaknya kendaraan tiba-tiba mogok, mesin sulit menyala, bahkan kerusakan akibat kerak seperti dialami ribuan kendaraan di Jatim pada Oktober 2025 bisa terjadi kembali.
Kandungan sampai 50 persen menurunkan kualitas pencampuran BBM dan udara dalam mesin. Penyerapan atau evaporasi melambat. Dalam mesin cenderung lebih cepat muncul zona rich mixture yang menjadi sumber pembentukan deposit dan emisi partikulat.
Bambang mengatakan, B50 lebih cenderung menyerap air dari lingkungan bahkan selama masa penyimpanan dan distribusi. Kandungan air memang tak menurunkan kualitas pembakaran tetapi menciptakan kondisi ideal bagi pertumbuhan mikroorganisme, yakni bakteri dan jamur. Ini memicu pembentukan biofilm dan senyawa asam yang mengakibatkan korosi, penyumbatan penyaring, dan degradasi kualitas BBM.
SURABAYA, KOMPAS – PT Pertamina Patra Niaga menurunkan harga bahan bakar minyak nonsubsidi yang berlaku mulai Rabu (1/7/2026). Penurunan 7-15 persen ini diharapkan mengatasi potensi antrean pembelian BBM bersubsidi yang sempat terjadi, termasuk di Jawa Timur.
Antrean truk, bus, dan mobil terutama yang bermesin diesel sempat terjadi pada 24-30 Juni 2026 di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Jatim. Antrean demi gasoil atau solar dipicu perbedaan harga yang amat jauh. Satu liter Biosolar bersubsidi dihargai Rp 6.800, sedangkan yang nonsubsidi, yaitu Dexlite (Rp 23.000 per liter) dan Pertamina Dex (Rp 24.800 per liter).
PT Pertamina (Persero) membatasi konsumsi harian Biosolar. Untuk mobil pribadi, kuotanya 50-60 liter per hari. Mobil penumpang umum maksimal 80 liter per hari. Kendaraan umum angkutan orang dan barang roda enam atau lebih, seperti bus dan truk, dibatasi maksimal 200 liter per hari.
Sepekan sebelum antrean konsumsi solar, di Jatim juga terkena pemadaman listrik bergiliran. Pemulihan secara swadaya oleh masyarakat dan dunia usaha dengan penggunaan mesin genset atau generator set menaikkan konsumsi solar.
Baca JugaKelangkaan Biosolar di Jawa Timur Picu Antrean Panjang di SPBUBaca JugaKonsumsi BBM Subsidi di Jatim Naik, Pertamina Jamin Pasokan Lancar
Untuk mengatasi lonjakan konsumsi solar yang memicu antrean pembelian di SPBU, Patra Niaga menambah kuota Biosolar untuk Jatim. Kuota 2,4 juta kilo liter (KL) ditambah menjadi 2,7 juta KL. Penambahan kuota dibarengi dengan peningkatan penyaluran Biosolar ke jaringan SPBU dengan truk-truk tangki.
Rabu ini, harga Biosolar tetap Rp 6.800 per liter. Namun, per liter Dexlite turun 14 persen dari Rp 23.000 menjadi Rp 19.700. Harga per liter Pertamina Dex turun 15 persen dari Rp 24.800 menjadi Rp 21.150.
Harga BBM lainnya, yakni gasoline atau bensin jenis Pertamax Turbo, turun 7 persen per liter dari Rp 20.750 menjadi Rp 19.300. Untuk Pertamax Green tetap di harga Rp 17.000 per liter. Untuk Pertalite yang bersubsidi tetap Rp 10.000 per liter. Harga avtur untuk penerbangan domestik sebelum pajak di Bandara Internasional Soekarno-Hatta turun 14 persen dari Rp 22.190 per liter menjadi Rp 19.190 per liter.
Menurut Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak, penambahan kuota dan penyesuaian harga diharapkan bisa dipahami oleh masyarakat bahwa BBM tersedia. Distribusi dari depo ke SPBU perlu dipercepat dengan penambahan truk tangki BBM sehingga dapat segera terserap oleh masyarakat.
”Kami berharap, lonjakan konsumsi yang sempat terjadi luar biasa ini dapat teratasi” ujar Emil.


Area Manager Communication, Relations, and Corporate Social Responsibility Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Ahad Rahedi mengatakan, pihaknya terus mengantisipasi potensi antrean kendaraan terjadi lagi.
”Konsumsi Biosolar meningkat pada awal pekan karena mobilitas masyarakat untuk bekerja serta aktivitas distribusi barang dan jasa juga meningkat,” ujar Ahad.
Patra Niaga telah mengerahkan tambahan mobil tangki untuk memasok Biosolar ke SPBU dengan tingkat penyerapan tinggi. Lokasinya, antara lain, di sekitar pelabuhan, bandara, terminal, pintu masuk jalan tol, area rehat jalan tol, serta jalur nasional antarkota dan antarprovinsi.
Bersamaan dengan penetapan harga terbaru BBM nonsubsidi, pemerintah mulai menerapkan penggunaan biodiesel B50. Pemakaian solar dengan kandungan minyak nabati 50 persen itu merupakan kebijakan strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Baca JugaListrik Padam, Warga dan Dunia Usaha Tanggung Pengeluaran Ekstra Jutaan Rupiah Per HariBaca JugaB50 Dikebut, Transisi Energi Masih Setengah Jalan
Guru Besar Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Bambang Sudarmanta mengingatkan, karakteristik biodiesel berbeda dengan solar fosil. Ada perubahan signifikan pada sifat fisik, kimia, dan perilaku pembakaran dalam mesin diesel.
”Jelas memengaruhi performa, keandalan, dan umur sistem mesin,” kata Bambang.
Untuk itu, implementasi B50 jangan sekadar berbasis kebijakan melainkan juga pendekatan teknis atau engineering-driven secara komprehensif. B50 memiliki densitas lebih tinggi sehingga meningkatkan massa BBM yang terinjeksi dalam sistem berbasis volumetrik. Lonjakan dapat memicu over-fueling dan perubahan karakter pembakaran.
Selain itu, viskositas lebih tinggi yang menyebabkan atomisasi bahan bakar menjadi kurang optimal. ”Ini diakibatkan pembakaran menghasilkan ukuran droplet yang lebih besar dan penyebaran partikel tidak homogen,” ujar Bambang.


Secara umum, Bambang mengingatkan, kandungan nabati yang lebih besar dalam BBM berpotensi mengakibatkan kinerja mesin tak optimal. Potensi banyaknya kendaraan tiba-tiba mogok, mesin sulit menyala, bahkan kerusakan akibat kerak seperti dialami ribuan kendaraan di Jatim pada Oktober 2025 bisa terjadi kembali.
Kandungan sampai 50 persen menurunkan kualitas pencampuran BBM dan udara dalam mesin. Penyerapan atau evaporasi melambat. Dalam mesin cenderung lebih cepat muncul zona rich mixture yang menjadi sumber pembentukan deposit dan emisi partikulat.
Bambang mengatakan, B50 lebih cenderung menyerap air dari lingkungan bahkan selama masa penyimpanan dan distribusi. Kandungan air memang tak menurunkan kualitas pembakaran tetapi menciptakan kondisi ideal bagi pertumbuhan mikroorganisme, yakni bakteri dan jamur. Ini memicu pembentukan biofilm dan senyawa asam yang mengakibatkan korosi, penyumbatan penyaring, dan degradasi kualitas BBM.