Di Clove Hotel Bandung, Sabtu, 20 Juni 2026, dibuka pameran The Jumping Frog and the Friendly Forest. Pameran menampilkan karya-karya dari 15 seniman neurodivergent. Ada cara pandang lain yang dikedepankan: hutan dan segala makhluk di dalamnya, alih-alih dikesankan tunduk pada ”hukum rimba”, malah dipandang sebagai lingkaran pertemanan. Apakah pameran serupa ini bisa kita anggap berharga, di tengah-tengah riuh rendah perdebatan tentang perhelatan seni besar dalam hubungannya dengan iklim politik negeri ini yang centang perenang?
Medan seni rupa Indonesia sekarang sedang didominasi perdebatan tentang Artjog; kontroversi seputar keterlibatan penaja kegiatan yang dianggap bagian dari rezim penguasa dan kaum pemodal perusak lingkungan. Sebelumnya, ada perdebatan menyangkut Paviliun Indonesia di Venice Biennale 2026. Paviliun Indonesia di Venesia adalah program resmi negara yang tahun ini mengangkat narasi dekolonisasi, tetapi dianggap janggal karena hingga saat ini negara sering menyangkal berbagai peristiwa pelanggaran HAM.
Belum menyebut dalam bidang seni lain, misalnya perdebatan seputar kehadiran delegasi Indonesia di forum Cannes Film Festival. Kesamaannya adalah perdebatan-perdebatan seputar perhelatan besar itu berpusar pada aspek penyelenggaraan dan, katakanlah, ”etika”. Berbagai perdebatan itu tidak sepenuhnya fokus pada isi pameran, tetapi sibuk dengan hubungan antara perhelatan dan berbagai persoalan ”besar” di luarnya.
Pameran The Jumping Frog and the Friendly Forest diinisiasi Tab Space, bekerja sama dengan Clove Hotel, berlangsung hingga 18 Juli. Kelompok Tab Space telah lama dikenal sebagai kelompok yang memfasilitasi praktik seni bagi kaum difabel. Jika Anda buka website-nya, akan langsung ditemukan teks ini: ”With the right support system, disabled artists can become professional practitioners” (Dengan sistem pendukungan yang tepat, seniman disable akan mampu menjadi praktisi profesional). Saya pribadi lebih memilih istilah ”difabel” (differently able) daripada disable—dan dengan itu saya juga menolak penerjemahan yang menggunakan kata ”cacat”. Sebab, ini bukanlah cacat atau kekurangan, melainkan keberbedaan. Keberbedaan inilah yang menurut saya patut dicermati dari pameran The Jumping Frog and the Friendly Forest. Namun, sekali lagi, siapa yang memperhatikan?
Kembali pada persoalan hubungan antara perhelatan pameran dan berbagai persoalan ”besar” itu, dalam dunia seni Indonesia, persoalan ”saluran” selalu menjadi masalah. Indonesia tidak kekurangan seniman atau pekerja seni yang berbakat dengan karya-karya hebat, tetapi saluran untuk menampilkan berbagai karya itu selalu saja seperti tersendat. Perdebatan seputar Artjog, salah satu pangkal persoalannya adalah karena dari tahun ke tahun pihak penyelenggara selalu saja kesulitan mencari penaja. Paviliun Indonesia di Venice Biennale, sejak beberapa kali penyelenggaraannya, persoalan yang menjadi sandungan datang dari aspek teknokratik. Jika terus begini, bagaimana bisa kita punya perhelatan besar yang sungguh-sungguh dapat dibanggakan di level internasional?
Kredo ”anything goes” dalam seni rupa kontemporer bisa dijelaskan secara teoretis sebab sesuatu menjadi karya seni karena disepakati oleh (para pemangku kepentingan dalam) medan seni rupa. Medan seni rupa berisi para pelaku dengan kepentingan berbeda-beda, dan karena pelaku tersebut kemudian berperan secara tertentu, maka menjadi pemangku kepentingan. Lalu bagaimana kesepakatan itu terjalin? Sebab interaksi dan kontestasi wacana. Dalam hal ini, apa yang terjadi sesungguhnya bukan hubungan yang selalu saling bersetara. Inilah yang sering menjadi pangkal perdebatan tentang berbagai perhelatan besar.
Neurodivergent adalah istilah payung untuk beragam gejala keunikan pertumbuhan dan cara kerja otak. Kaum neurodivergent kadang mengalami kesulitan sebab cara kerja otaknya berbeda dari kebanyakan orang; termasuk dalam payung istilah ini adalah autisme dan disleksia. Penting diingat bahwa istilah ini nonmedis dan tidak merujuk pada jenis penyakit. Lawan kata dari istilah ini bukan ”normal”, melainkan neurotypical.
Berbagai perhelatan seni sebenarnya adalah ”saluran”, baik bagi kaum neurotypical maupun neurodivergent. Ada banyak penulis yang mencatat bahwa sejak dulu seniman di Indonesia terobsesi untuk jadi ”seniman mendunia”. Kita tahu—kalaupun pencapaian ini dianggap prestasi yang penting—bahwa untuk mencapai prestasi ini dibutuhkan medan seni yang sehat dan tertata. Perhelatan kecil maupun besar mendapat tempat yang baik. Seniman neurodivergent maupun tipikal, karya-karyanya diamati dengan baik.
Apakah tidak lebih baik jika kita perhatikan saja perhelatan-perhelatan kecil yang punya konsentrasi khusus, seperti yang dilakukan Tab Space dengan teman-teman neurodivergent—atau juga kegiatan lain yang diinisiasi pihak pebisnis seperti Clove Hotel tetapi masih bersedia menyediakan ruang buat bakat-bakat muda untuk tampil dan ”tersalurkan” karyanya? Pertanyaan ini datang dari Bandung, tetapi tentu saja tidak khusus terbatas. Artjog pun telah berinisiatif mengupayakan peluang bagi kaum difabel; juga teman-teman yang selama ini berkarya dengan membawa isu-isu sensitif, misalnya para perupa dari Papua. Kita butuh lebih banyak sudut pandang dan inisiatif untuk menyediakan ruang bagi berbagai gagasan dan karya untuk tampil. Kita tidak bisa melakukannya jika terus-menerus terobsesi dengan ”skala besar”.
Heru Hikayat
Kurator Selasar Sunaryo Art Space; Anggota Koalisi Seni
Di Clove Hotel Bandung, Sabtu, 20 Juni 2026, dibuka pameran The Jumping Frog and the Friendly Forest. Pameran menampilkan karya-karya dari 15 seniman neurodivergent. Ada cara pandang lain yang dikedepankan: hutan dan segala makhluk di dalamnya, alih-alih dikesankan tunduk pada ”hukum rimba”, malah dipandang sebagai lingkaran pertemanan. Apakah pameran serupa ini bisa kita anggap berharga, di tengah-tengah riuh rendah perdebatan tentang perhelatan seni besar dalam hubungannya dengan iklim politik negeri ini yang centang perenang?
Medan seni rupa Indonesia sekarang sedang didominasi perdebatan tentang Artjog; kontroversi seputar keterlibatan penaja kegiatan yang dianggap bagian dari rezim penguasa dan kaum pemodal perusak lingkungan. Sebelumnya, ada perdebatan menyangkut Paviliun Indonesia di Venice Biennale 2026. Paviliun Indonesia di Venesia adalah program resmi negara yang tahun ini mengangkat narasi dekolonisasi, tetapi dianggap janggal karena hingga saat ini negara sering menyangkal berbagai peristiwa pelanggaran HAM.

Belum menyebut dalam bidang seni lain, misalnya perdebatan seputar kehadiran delegasi Indonesia di forum Cannes Film Festival. Kesamaannya adalah perdebatan-perdebatan seputar perhelatan besar itu berpusar pada aspek penyelenggaraan dan, katakanlah, ”etika”. Berbagai perdebatan itu tidak sepenuhnya fokus pada isi pameran, tetapi sibuk dengan hubungan antara perhelatan dan berbagai persoalan ”besar” di luarnya.
Pameran The Jumping Frog and the Friendly Forest diinisiasi Tab Space, bekerja sama dengan Clove Hotel, berlangsung hingga 18 Juli. Kelompok Tab Space telah lama dikenal sebagai kelompok yang memfasilitasi praktik seni bagi kaum difabel. Jika Anda buka website-nya, akan langsung ditemukan teks ini: ”With the right support system, disabled artists can become professional practitioners” (Dengan sistem pendukungan yang tepat, seniman disable akan mampu menjadi praktisi profesional). Saya pribadi lebih memilih istilah ”difabel” (differently able) daripada disable—dan dengan itu saya juga menolak penerjemahan yang menggunakan kata ”cacat”. Sebab, ini bukanlah cacat atau kekurangan, melainkan keberbedaan. Keberbedaan inilah yang menurut saya patut dicermati dari pameran The Jumping Frog and the Friendly Forest. Namun, sekali lagi, siapa yang memperhatikan?
Baca Juga”Frog of Shame”
Kembali pada persoalan hubungan antara perhelatan pameran dan berbagai persoalan ”besar” itu, dalam dunia seni Indonesia, persoalan ”saluran” selalu menjadi masalah. Indonesia tidak kekurangan seniman atau pekerja seni yang berbakat dengan karya-karya hebat, tetapi saluran untuk menampilkan berbagai karya itu selalu saja seperti tersendat. Perdebatan seputar Artjog, salah satu pangkal persoalannya adalah karena dari tahun ke tahun pihak penyelenggara selalu saja kesulitan mencari penaja. Paviliun Indonesia di Venice Biennale, sejak beberapa kali penyelenggaraannya, persoalan yang menjadi sandungan datang dari aspek teknokratik. Jika terus begini, bagaimana bisa kita punya perhelatan besar yang sungguh-sungguh dapat dibanggakan di level internasional?
Kredo ”anything goes” dalam seni rupa kontemporer bisa dijelaskan secara teoretis sebab sesuatu menjadi karya seni karena disepakati oleh (para pemangku kepentingan dalam) medan seni rupa. Medan seni rupa berisi para pelaku dengan kepentingan berbeda-beda, dan karena pelaku tersebut kemudian berperan secara tertentu, maka menjadi pemangku kepentingan. Lalu bagaimana kesepakatan itu terjalin? Sebab interaksi dan kontestasi wacana. Dalam hal ini, apa yang terjadi sesungguhnya bukan hubungan yang selalu saling bersetara. Inilah yang sering menjadi pangkal perdebatan tentang berbagai perhelatan besar.
Neurodivergent adalah istilah payung untuk beragam gejala keunikan pertumbuhan dan cara kerja otak. Kaum neurodivergent kadang mengalami kesulitan sebab cara kerja otaknya berbeda dari kebanyakan orang; termasuk dalam payung istilah ini adalah autisme dan disleksia. Penting diingat bahwa istilah ini nonmedis dan tidak merujuk pada jenis penyakit. Lawan kata dari istilah ini bukan ”normal”, melainkan neurotypical.
Baca JugaMari Ketawa Cara Sosial-Politik Indonesia
Berbagai perhelatan seni sebenarnya adalah ”saluran”, baik bagi kaum neurotypical maupun neurodivergent. Ada banyak penulis yang mencatat bahwa sejak dulu seniman di Indonesia terobsesi untuk jadi ”seniman mendunia”. Kita tahu—kalaupun pencapaian ini dianggap prestasi yang penting—bahwa untuk mencapai prestasi ini dibutuhkan medan seni yang sehat dan tertata. Perhelatan kecil maupun besar mendapat tempat yang baik. Seniman neurodivergent maupun tipikal, karya-karyanya diamati dengan baik.
Apakah tidak lebih baik jika kita perhatikan saja perhelatan-perhelatan kecil yang punya konsentrasi khusus, seperti yang dilakukan Tab Space dengan teman-teman neurodivergent—atau juga kegiatan lain yang diinisiasi pihak pebisnis seperti Clove Hotel tetapi masih bersedia menyediakan ruang buat bakat-bakat muda untuk tampil dan ”tersalurkan” karyanya? Pertanyaan ini datang dari Bandung, tetapi tentu saja tidak khusus terbatas. Artjog pun telah berinisiatif mengupayakan peluang bagi kaum difabel; juga teman-teman yang selama ini berkarya dengan membawa isu-isu sensitif, misalnya para perupa dari Papua. Kita butuh lebih banyak sudut pandang dan inisiatif untuk menyediakan ruang bagi berbagai gagasan dan karya untuk tampil. Kita tidak bisa melakukannya jika terus-menerus terobsesi dengan ”skala besar”.
Heru Hikayat
Kurator Selasar Sunaryo Art Space; Anggota Koalisi Seni