Tulisan Moh Rasyid (Kompas, 4/7/2026) menyita perhatian saya. Selain karena isu ini berkaitan dengan agama, ternyata komoditas politik yang bersumber dari simbol agama masih laku di pasar publik Indonesia.
Dua contoh yang sedang riuh digambarkan dalam tulisan ituadalah figur publik yang terafiliasi dengan istana. Keduanya dinilai menunggangi simbol-simbol agama secara dangkal, demi mendukung suatu proyek atau citra.
Pertanyaan yang mengganggu saya adalah, ”Apakah masyarakat kita memang masih terperangkap menganggungkan nilai agama sebagai simbol atau telah mentransformasikannya sebagai kesadaran yang luhur?”
Jika masyarakat masih terjebak pada problem yang pertama, maka sudah barang tentu bila politikus sengaja mengeluarkan pernyataan tersebut sebagai keuntungan exposure tertentu. Akan tetapi, jika yang dimaksud adalah yang kedua, mengapa masyarakat kita pun masih mudah tertipu oleh figur dengan simbol keagamaan, meskipun korup?
Para politikus masih saja gandrung membawa simbol-simbol keagamaan di mimbar politik mereka. Hal itu menjadi janggal dilakukan oleh para politikus, jika rakyat mengaku telah menyadari buruknya perilaku menjadikan identitas keagamaan dalam panggung politik.
Lalu sebenarnya apa yang terjadi? Para politikus yang gegabah dan kurang akal, atau masyarakat kita yang masih dimabuk agama; religion is the opioum of for people, seperti kata Karl Marx?
Ihsan Nursidik
Pangalengan, Kabupaten Bandung
Tulisan Moh Rasyid (Kompas, 4/7/2026) menyita perhatian saya. Selain karena isu ini berkaitan dengan agama, ternyata komoditas politik yang bersumber dari simbol agama masih laku di pasar publik Indonesia.
Dua contoh yang sedang riuh digambarkan dalam tulisan ituadalah figur publik yang terafiliasi dengan istana. Keduanya dinilai menunggangi simbol-simbol agama secara dangkal, demi mendukung suatu proyek atau citra.
Pertanyaan yang mengganggu saya adalah, ”Apakah masyarakat kita memang masih terperangkap menganggungkan nilai agama sebagai simbol atau telah mentransformasikannya sebagai kesadaran yang luhur?”


Serial Artikel



Baca Artikel
Jika masyarakat masih terjebak pada problem yang pertama, maka sudah barang tentu bila politikus sengaja mengeluarkan pernyataan tersebut sebagai keuntungan exposure tertentu. Akan tetapi, jika yang dimaksud adalah yang kedua, mengapa masyarakat kita pun masih mudah tertipu oleh figur dengan simbol keagamaan, meskipun korup?
Para politikus masih saja gandrung membawa simbol-simbol keagamaan di mimbar politik mereka. Hal itu menjadi janggal dilakukan oleh para politikus, jika rakyat mengaku telah menyadari buruknya perilaku menjadikan identitas keagamaan dalam panggung politik.
Lalu sebenarnya apa yang terjadi? Para politikus yang gegabah dan kurang akal, atau masyarakat kita yang masih dimabuk agama; religion is the opioum of for people, seperti kata Karl Marx?
Ihsan Nursidik
Pangalengan, Kabupaten Bandung