اخبار

Tidak Percuma Scaloni Berguru kepada De la Fuente

الكاتبabdulrahman-mustafaتاريخ النشر
Tidak Percuma Scaloni Berguru kepada De la Fuente

Thomas Tuchel adalah sosok paling dibenci publik Inggris saat ini. Pelatih Inggris itu dinilai gagal total dalam penerapan taktik yang berujung kekalahan “Tiga Singa” di semifinal. Tidak banyak orang sadar, Tuchel memang salah, tetapi ada juga hukum “sebab-akibat” di balik itu.

Tuchel terlalu pengecut. Dia memutuskan bertahan total sejak menit ke-72, saat menggantikan pencetak gol Anthony Gordon dengan bek Ezri Konsa. Inggris menjadi tampil super defensif dengan lima bek. Mereka mengundang tekanan dari Argentina, lalu kemasukan dua gol di penghujung laga.

Apa Tuchel patut disalahkan? Jelas. Namun, sang pelatih sebenarnya hanya mengulang formula saat Inggris berjaya di 16 besar dan perempat final. Setelah unggul, mereka “memarkir bus” dengan lima bek saat memasuki menit-menit kritis. Formula itu pula yang membuatnya dihujani pujian.

Ada dua hal dari kubu Argentina yang menyebabkan kegagalan Tuchel. Pertama dan tidak terbantahkan adalah daya magis Lionel Messi yang bisa mengubah takdir di lapangan dari kakinya. Kedua yang tidak kalah penting, kecemerlangan taktik pelatih tim “Tango” Lionel Scaloni.

Scaloni mengalahkan Tuchel dalam adu “catur”, membuat pelatih lawan tampak medioker. Di level manajerial klub, Scaloni jelas tidak ada apa-apanya dibandingkan Tuchel. Namun, jangan main-main Scaloni di level nasional, dia adalah arsitek dari tim juara dunia di edisi sbelumnya.

Scaloni sangat jenius, lima pergantian pemain yang dilakukannya tepat sasaran. Keputusan terbaik adalah memasukkan penyerang Lautaro Martinez pada menit ke-81, menggantikan bek sayap Nicolas Tagliafico. Martinez menjadi penentu lewat gol kemenangan di injury time.

Argentina menunjukkan intensi total untuk menyerang dengan pergantian bek dengan striker. Sebelumnya, pemain sayap Nicolas Gonzales sudah masuk terlebih dahulu menggantikan gelandang bertahan Leandro Paredes. Inggris semakin tertekan, sehingga akhirnya kolaps di menit-menit akhir.

Tidak hanya itu, pergantian Scaloni juga berhasil membebaskan Messi. Dia memainkan gelandang Rodrigo De Paul dan bek sayap Gonzalo Monitel saat 18 menit tersisa. Dua pemain itu tidak banyak memegang bola, tetapi sukses memancing para pemain bertahan lawan untuk tidak terlalu fokus ke Messi.

Di gol pertama, dari situasi tendangan sudut, Messi melakukan kombinasi umpan dengan De Paul sebelum mengumpan ke sang pencetak gol Enzo Fernandez. Sementara itu, Montiel bergerak ke kotak penalti dalam gol kedua agar Messi bisa mengumpan silang tanpa kepungan pemain lawan.

Argentina head coach Lionel Scaloni walks on the side line during the World Cup semifinal soccer match between England and Argentina in Atlanta, Wednesday, July 15, 2026. (AP Photo/Erik S. Lesser)

Setelah gol penentu kemenangan Argentina, Scaloni tidak merayakan berlebihan. Dia tetap “dingin”, hanya berjalan sambil tertawa kecil seolah sudah mengetahui masa depan. “Tim lawan meragukan diri mereka sendiri. Kami mencium bau darah dan memanfaatkan itu,” jelas Scaloni.

Guru versus murid

Sehari sebelumnya, Spanyol lolos terlebih dulu ke partai puncak dengan mengalahkan tim bertabur talenta kelas dunia di lini serang, yaitu Perancis. Di laga itu, pelatih Luis de la Fuente menuai pujian karena mampu meredam para penyerang lawan dengan permainan penuh kontrol ala “La Furia Roja”.

Duel final pun akan mempertemukan dua pelatih hebat yang berbeda generasi, De la Fuente (65) mewakili era lama dan Scaloni (48) menjadi wajah era baru. Di balik kecemerlangan keduanya, De La Fuente dan Scaloni ternyata terhubung satu sama lain. Mereka adalah guru dan murid.

Luis telah banyak membantu. Saya suka cara dia mengelola sesuatu dan bagaimana cara dia membuat para pemain memberikan yang terbaik untuknya.

Semua bermula pada 2017, dua tahun setelah Scaloni pensiun sebagai pemain profesional. De la Fuente, sebagai pelatih kelompok usia Spanyol ketika itu, merupakan salah satu sosok yang membantu para mantan pemain untuk melangkah ke dunia kepelatihan.

De la Fuente menurunkan ilmunya kepada Scaloni di akademi kepelatihan Asosiasi Sepak Bola Spanyol (RFEF). “Luis telah banyak membantu. Saya suka cara dia mengelola sesuatu dan bagaimana cara dia membuat para pemain memberikan yang terbaik untuknya,” kata Scaloni.

Sebelum mengikuti kursus, Scaloni hanya berpengalaman di dunia manajemen sebagai asisten pelatih klub Spanyol Sevilla. Setelah mencuri ilmu sang guru, dia melanjutkan karier di timnas Argentina, dari pelatih kelompok usia sampai akhirnya mendapat kesempatan di senior pada 2018.

Spain's head coach Luis de la Fuente (R) is congratulated by Argentine former football player Juan Pablo Sorin after his team won the 2026 World Cup football tournament semi-final match between France and Spain at the Dallas Stadium in Arlington on July 14, 2026.  (Photo by Paul ELLIS / AFP)

Sungguh kebetulan, selain taktik, kelebihan utama Scaloni adalah mengatasi ruang ganti. Sejak dia memimpin Lionel Messi dan rekan-rekan, Argentina selalu menjadi tim yang mengutamakan kebersamaan dan minim ego. Hasilnya adalah empat gelar juara dalam empat kompetisi beruntun.

De la Fuente bangga dengan Scaloni. “Saya memiliki rasa hormat yang besar kepadanya. Dia telah memenangi segalanya bersama Argentina. Saya setuju denggan banyak idenya. Saya mengaguminya secara profesional dan personal. Dia adalah murid yang sangat rajin dan mau berkembang,” kata sang guru.

Di final nanti, duel “guru versus murid” akan tersaji. Scaloni berterima kasih dengan pelajaran dari De la Fuente. Akan tetapi, dia akan menggunakan ilmu itu untuk mengalahkan sang guru. “Saya sangat, sangat menyesal, tetapi saya akan mencoba mengalahkan Tuan De la Fuente,” pungkas Scaloni. (AFP/REUTERS)

Thomas Tuchel adalah sosok paling dibenci publik Inggris saat ini. Pelatih Inggris itu dinilai gagal total dalam penerapan taktik yang berujung kekalahan “Tiga Singa” di semifinal. Tidak banyak orang sadar, Tuchel memang salah, tetapi ada juga hukum “sebab-akibat” di balik itu.

Tuchel terlalu pengecut. Dia memutuskan bertahan total sejak menit ke-72, saat menggantikan pencetak gol Anthony Gordon dengan bek Ezri Konsa. Inggris menjadi tampil super defensif dengan lima bek. Mereka mengundang tekanan dari Argentina, lalu kemasukan dua gol di penghujung laga.

Apa Tuchel patut disalahkan? Jelas. Namun, sang pelatih sebenarnya hanya mengulang formula saat Inggris berjaya di 16 besar dan perempat final. Setelah unggul, mereka “memarkir bus” dengan lima bek saat memasuki menit-menit kritis. Formula itu pula yang membuatnya dihujani pujian.

England head coach Thomas Tuchel, left, speaks with Jude Bellingham (10) during the World Cup semifinal soccer match between England and Argentina in Atlanta, Wednesday, July 15, 2026. (AP Photo/Rebecca Blackwell)

Ada dua hal dari kubu Argentina yang menyebabkan kegagalan Tuchel. Pertama dan tidak terbantahkan adalah daya magis Lionel Messi yang bisa mengubah takdir di lapangan dari kakinya. Kedua yang tidak kalah penting, kecemerlangan taktik pelatih tim “Tango” Lionel Scaloni.

Scaloni mengalahkan Tuchel dalam adu “catur”, membuat pelatih lawan tampak medioker. Di level manajerial klub, Scaloni jelas tidak ada apa-apanya dibandingkan Tuchel. Namun, jangan main-main Scaloni di level nasional, dia adalah arsitek dari tim juara dunia di edisi sbelumnya.

Scaloni sangat jenius, lima pergantian pemain yang dilakukannya tepat sasaran. Keputusan terbaik adalah memasukkan penyerang Lautaro Martinez pada menit ke-81, menggantikan bek sayap Nicolas Tagliafico. Martinez menjadi penentu lewat gol kemenangan di injury time.

Baca JugaLampaui 15 Menit, Pertunjukan Jeda Laga Final di Antara Sejarah dan Risiko Cedera

Argentina menunjukkan intensi total untuk menyerang dengan pergantian bek dengan striker. Sebelumnya, pemain sayap Nicolas Gonzales sudah masuk terlebih dahulu menggantikan gelandang bertahan Leandro Paredes. Inggris semakin tertekan, sehingga akhirnya kolaps di menit-menit akhir.

Tidak hanya itu, pergantian Scaloni juga berhasil membebaskan Messi. Dia memainkan gelandang Rodrigo De Paul dan bek sayap Gonzalo Monitel saat 18 menit tersisa. Dua pemain itu tidak banyak memegang bola, tetapi sukses memancing para pemain bertahan lawan untuk tidak terlalu fokus ke Messi.

Di gol pertama, dari situasi tendangan sudut, Messi melakukan kombinasi umpan dengan De Paul sebelum mengumpan ke sang pencetak gol Enzo Fernandez. Sementara itu, Montiel bergerak ke kotak penalti dalam gol kedua agar Messi bisa mengumpan silang tanpa kepungan pemain lawan.

Argentina head coach Lionel Scaloni walks on the side line during the World Cup semifinal soccer match between England and Argentina in Atlanta, Wednesday, July 15, 2026. (AP Photo/Erik S. Lesser)

Setelah gol penentu kemenangan Argentina, Scaloni tidak merayakan berlebihan. Dia tetap “dingin”, hanya berjalan sambil tertawa kecil seolah sudah mengetahui masa depan. “Tim lawan meragukan diri mereka sendiri. Kami mencium bau darah dan memanfaatkan itu,” jelas Scaloni.

Guru versus murid

Sehari sebelumnya, Spanyol lolos terlebih dulu ke partai puncak dengan mengalahkan tim bertabur talenta kelas dunia di lini serang, yaitu Perancis. Di laga itu, pelatih Luis de la Fuente menuai pujian karena mampu meredam para penyerang lawan dengan permainan penuh kontrol ala “La Furia Roja”.

Duel final pun akan mempertemukan dua pelatih hebat yang berbeda generasi, De la Fuente (65) mewakili era lama dan Scaloni (48) menjadi wajah era baru. Di balik kecemerlangan keduanya, De La Fuente dan Scaloni ternyata terhubung satu sama lain. Mereka adalah guru dan murid.

Luis telah banyak membantu. Saya suka cara dia mengelola sesuatu dan bagaimana cara dia membuat para pemain memberikan yang terbaik untuknya.

Baca JugaSpanyol Vs Argentina, Duel Penguasa Dua Semesta

Semua bermula pada 2017, dua tahun setelah Scaloni pensiun sebagai pemain profesional. De la Fuente, sebagai pelatih kelompok usia Spanyol ketika itu, merupakan salah satu sosok yang membantu para mantan pemain untuk melangkah ke dunia kepelatihan.

De la Fuente menurunkan ilmunya kepada Scaloni di akademi kepelatihan Asosiasi Sepak Bola Spanyol (RFEF). “Luis telah banyak membantu. Saya suka cara dia mengelola sesuatu dan bagaimana cara dia membuat para pemain memberikan yang terbaik untuknya,” kata Scaloni.

Sebelum mengikuti kursus, Scaloni hanya berpengalaman di dunia manajemen sebagai asisten pelatih klub Spanyol Sevilla. Setelah mencuri ilmu sang guru, dia melanjutkan karier di timnas Argentina, dari pelatih kelompok usia sampai akhirnya mendapat kesempatan di senior pada 2018.

Spain's head coach Luis de la Fuente (R) is congratulated by Argentine former football player Juan Pablo Sorin after his team won the 2026 World Cup football tournament semi-final match between France and Spain at the Dallas Stadium in Arlington on July 14, 2026.  (Photo by Paul ELLIS / AFP)

Sungguh kebetulan, selain taktik, kelebihan utama Scaloni adalah mengatasi ruang ganti. Sejak dia memimpin Lionel Messi dan rekan-rekan, Argentina selalu menjadi tim yang mengutamakan kebersamaan dan minim ego. Hasilnya adalah empat gelar juara dalam empat kompetisi beruntun.

De la Fuente bangga dengan Scaloni. “Saya memiliki rasa hormat yang besar kepadanya. Dia telah memenangi segalanya bersama Argentina. Saya setuju denggan banyak idenya. Saya mengaguminya secara profesional dan personal. Dia adalah murid yang sangat rajin dan mau berkembang,” kata sang guru.

Di final nanti, duel “guru versus murid” akan tersaji. Scaloni berterima kasih dengan pelajaran dari De la Fuente. Akan tetapi, dia akan menggunakan ilmu itu untuk mengalahkan sang guru. “Saya sangat, sangat menyesal, tetapi saya akan mencoba mengalahkan Tuan De la Fuente,” pungkas Scaloni. (AFP/REUTERS)