Banyak orang lebih memilih olahraga di dalam ruangan lengkap dengan pendingin ruangan. Namun, baru-baru ini ada jenis olahraga baru yang cukup banyak diminati, terutama bagi perempuan. Ya, “hot yoga” atau yoga di ruangan panas.
Latihan hot yoga biasanya dilakukan di ruangan panas yang bisa mencapai 40 derajat Celsius. Dari beberapa jurnal mengungkapkan bahwa olahraga ini ternyata tidak hanya menyehatkan tubuh, namun juga dapat membantu mengatasi masalah depresi. Semakin sering mengikuti kelas yoga ini, manfaat untuk mengatasi depresi pun semakin besar.
Hal tersebut salah satunya terungkap dari studi terbaru yang dipublikasi di Journal of Affective Disorders pada Juli 2026. Studi yang dilakukan lewat analisis lanjutan dari uji klinis acak terkontrol ini dilakukan pada 80 orang dewasa yang memiliki depresi tingkat sedang hingga berat.
Para peserta diminta mengikuti kelas hot yoga hatha yang merupakan salah satu jenis yoga selama 90 menit. Latihan dilakukan setidaknya dua kali seminggu. Dalam latihan itu ada urutan yang harus diikuti, yakni 26 posisi tubuh ditambah dua jenis latihan pernapasan. Latihan diulang selama delapan minggu penuh.
Gerakan yoga dan suhu panas dapat menjadi alternatif yang potensial untuk mengatasi depresi.
Dari seluruh peserta tersebut separuhnya diminta untuk memulai program yoga terlebih dahulu, sementara separuh lainnya masuk dalam daftar tunggu. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa efek yang didapatkan dari hot yoga bukan karena efek semu. Terkadang, orang merasa lebih baik karena tahu dirinya sedang ikut penelitian, bukan karena efek nyata dari yoga itu.
Dengan membandingkan dua kelompok tersebut, peneliti dapat memastikan perbaikan suasana hati karena yoga, bukan karena efek plasebo. Hasilnya, pola perbaikan suasana hati ditemukan di kedua kelompok tersebut.
“Manfaat antidepresi meningkat secara proporsional di seluruh kelompok yang diamati. Jadi, gerakan yoga dan suhu panas dapat menjadi alternatif yang potensial untuk mengatasi depresi,” tulis jurnal yang disusun oleh Daniel I Copeland dan tim tersebut.
Selain itu, analisis yang dilakukan juga mengungkapkan bahwa semakin banyak kelas hot yoga yang diikuti, semakin besar penurunan gejala depresi yang dialami. Manfaat tersebut dialami oleh sebagian besar peserta dengan berbagai latar belakang, tidak peduli usia, jenis kelamin, ataupun tingkat pendidikan.
Temuan tersebut sejalan dengan hasil uji klinis yang dilakukan sebelumnya oleh tim di Harvard Medical School. Penelitian yang terbit di Journal of Clinical Psychiatry pada 23 Oktober 2023 tersebut melakukan uji klinis yang serupa.
Meski demikian, hasilnya berbeda karena kelompok yang langsung ikut latihan yoga memiliki dampak penurunan gejala depresi jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok daftar tunggu. Manfaat dari penurunan depresi bahkan ditemukan pada peserta yang rata-rata hanya ikut satu kelas per minggu.
Studi yang dilakukan peneliti dari Harvard ini memang tidak membandingkan antara hot yoga dan jenis yoga lainnya. Namun, hasil yang didapatkan dinilai cukup untuk menunjukkan bahwa hot yoga dapat menjadi alternatif dalam membantu mengatasi depresi.
Manfaat yoga
Secara umum, dikutip dari BBG, ilmuwan neuro-kognitif dari Cardiff University Brain Research Imaging Centre di Inggris, Claudia Metzler-Baddeley menuturkan, peradangan kronis akibat stres yang berkepanjangan dapat mempercepat penuaan tubuh. Hormon stres seperti kortisol dapat memicu peradangan yang kemudian bisa menaikkan tekanan darah.
Latihan pernapasan dalam yoga diyakini dapat mengelola stres yang dialami. Yoga dapat memicu peralihan mode otak dari “siaga” ke mode “istirahat atau pulih”. Kondisi ini yang pada dasarnya memicu respons relaksasi tubuh secara alami.
Selain itu, yoga juga telah terbukti dapat meningkatkan kadar gamma-aminobutyric acid (GABA) yakni sejenis neurotransmiter yang berfungsi meredam aktivitas otak yang berlebihan. Kenaikan kadar GABA yang didapatkan setelah rutin yoga selama 12 minggu dilaporkan terkait dengan perbaikan suasana hati dan penurunan gejala kecemasan yang dialami.
“Kita tahu ada potensi (yoga) untuk menjaga kesehatan kita seiring bertambahnya usia. Sejumlah perbedaan struktur otak juga terlihat pada orang yang berlatih yoga,” tutur Metzler-Baddeley.
Kombinasi latihan postur, pernapasan, dan latihan meditasi pada yoga dinilai memiliki manfaat tambahan untuk kesehatan mental.
Manfaat yoga disampaikan pula oleh pendiri sekolah pelatihan yoga The Minded Institute, Heather Mason. Semua jenis olahraga memang dapat meningkatkan suasana hati dengan menurunkan kadar hormon stres dan meningkatkan endorfin yang berpengaruh pada perasaan senang.
Namun, kombinasi latihan postur, pernapasan, dan latihan meditasi pada yoga dinilai memiliki manfaat tambahan untuk kesehatan mental. Itu terutama untuk mengurangi kecemasan, stres, depresi, dan meningkatkan kesehatan mental secara keseluruhan.
“Saya telah membuktikan, yoga membantu saya mengatasi depresi, kecemasan, dan PTSD (gangguan stres pascatrauma),” kata Mason.
Banyak orang lebih memilih olahraga di dalam ruangan lengkap dengan pendingin ruangan. Namun, baru-baru ini ada jenis olahraga baru yang cukup banyak diminati, terutama bagi perempuan. Ya, “hot yoga” atau yoga di ruangan panas.
Latihan hot yoga biasanya dilakukan di ruangan panas yang bisa mencapai 40 derajat Celsius. Dari beberapa jurnal mengungkapkan bahwa olahraga ini ternyata tidak hanya menyehatkan tubuh, namun juga dapat membantu mengatasi masalah depresi. Semakin sering mengikuti kelas yoga ini, manfaat untuk mengatasi depresi pun semakin besar.
Hal tersebut salah satunya terungkap dari studi terbaru yang dipublikasi di Journal of Affective Disorders pada Juli 2026. Studi yang dilakukan lewat analisis lanjutan dari uji klinis acak terkontrol ini dilakukan pada 80 orang dewasa yang memiliki depresi tingkat sedang hingga berat.
Baca JugaYoga Tak Sekadar Latihan Olah FisikBaca JugaYoga, Sarana Menambah Energi saat Berpuasa
Para peserta diminta mengikuti kelas hot yoga hatha yang merupakan salah satu jenis yoga selama 90 menit. Latihan dilakukan setidaknya dua kali seminggu. Dalam latihan itu ada urutan yang harus diikuti, yakni 26 posisi tubuh ditambah dua jenis latihan pernapasan. Latihan diulang selama delapan minggu penuh.
Gerakan yoga dan suhu panas dapat menjadi alternatif yang potensial untuk mengatasi depresi.
Dari seluruh peserta tersebut separuhnya diminta untuk memulai program yoga terlebih dahulu, sementara separuh lainnya masuk dalam daftar tunggu. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa efek yang didapatkan dari hot yoga bukan karena efek semu. Terkadang, orang merasa lebih baik karena tahu dirinya sedang ikut penelitian, bukan karena efek nyata dari yoga itu.
Dengan membandingkan dua kelompok tersebut, peneliti dapat memastikan perbaikan suasana hati karena yoga, bukan karena efek plasebo. Hasilnya, pola perbaikan suasana hati ditemukan di kedua kelompok tersebut.
“Manfaat antidepresi meningkat secara proporsional di seluruh kelompok yang diamati. Jadi, gerakan yoga dan suhu panas dapat menjadi alternatif yang potensial untuk mengatasi depresi,” tulis jurnal yang disusun oleh Daniel I Copeland dan tim tersebut.
Selain itu, analisis yang dilakukan juga mengungkapkan bahwa semakin banyak kelas hot yoga yang diikuti, semakin besar penurunan gejala depresi yang dialami. Manfaat tersebut dialami oleh sebagian besar peserta dengan berbagai latar belakang, tidak peduli usia, jenis kelamin, ataupun tingkat pendidikan.
Temuan tersebut sejalan dengan hasil uji klinis yang dilakukan sebelumnya oleh tim di Harvard Medical School. Penelitian yang terbit di Journal of Clinical Psychiatry pada 23 Oktober 2023 tersebut melakukan uji klinis yang serupa.




Serial Artikel




Baca Artikel
Meski demikian, hasilnya berbeda karena kelompok yang langsung ikut latihan yoga memiliki dampak penurunan gejala depresi jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok daftar tunggu. Manfaat dari penurunan depresi bahkan ditemukan pada peserta yang rata-rata hanya ikut satu kelas per minggu.
Studi yang dilakukan peneliti dari Harvard ini memang tidak membandingkan antara hot yoga dan jenis yoga lainnya. Namun, hasil yang didapatkan dinilai cukup untuk menunjukkan bahwa hot yoga dapat menjadi alternatif dalam membantu mengatasi depresi.
Manfaat yoga
Secara umum, dikutip dari BBG, ilmuwan neuro-kognitif dari Cardiff University Brain Research Imaging Centre di Inggris, Claudia Metzler-Baddeley menuturkan, peradangan kronis akibat stres yang berkepanjangan dapat mempercepat penuaan tubuh. Hormon stres seperti kortisol dapat memicu peradangan yang kemudian bisa menaikkan tekanan darah.
Latihan pernapasan dalam yoga diyakini dapat mengelola stres yang dialami. Yoga dapat memicu peralihan mode otak dari “siaga” ke mode “istirahat atau pulih”. Kondisi ini yang pada dasarnya memicu respons relaksasi tubuh secara alami.
Selain itu, yoga juga telah terbukti dapat meningkatkan kadar gamma-aminobutyric acid (GABA) yakni sejenis neurotransmiter yang berfungsi meredam aktivitas otak yang berlebihan. Kenaikan kadar GABA yang didapatkan setelah rutin yoga selama 12 minggu dilaporkan terkait dengan perbaikan suasana hati dan penurunan gejala kecemasan yang dialami.
“Kita tahu ada potensi (yoga) untuk menjaga kesehatan kita seiring bertambahnya usia. Sejumlah perbedaan struktur otak juga terlihat pada orang yang berlatih yoga,” tutur Metzler-Baddeley.
Kombinasi latihan postur, pernapasan, dan latihan meditasi pada yoga dinilai memiliki manfaat tambahan untuk kesehatan mental.
Baca JugaKenali Gejalanya, Depresi Calon Dokter Bisa DihindariBaca Juga5 Cara Mengatasi Depresi
Manfaat yoga disampaikan pula oleh pendiri sekolah pelatihan yoga The Minded Institute, Heather Mason. Semua jenis olahraga memang dapat meningkatkan suasana hati dengan menurunkan kadar hormon stres dan meningkatkan endorfin yang berpengaruh pada perasaan senang.
Namun, kombinasi latihan postur, pernapasan, dan latihan meditasi pada yoga dinilai memiliki manfaat tambahan untuk kesehatan mental. Itu terutama untuk mengurangi kecemasan, stres, depresi, dan meningkatkan kesehatan mental secara keseluruhan.
“Saya telah membuktikan, yoga membantu saya mengatasi depresi, kecemasan, dan PTSD (gangguan stres pascatrauma),” kata Mason.