WASHINGTON, KAMIS — Selama bertahun-tahun, Amerika Serikat dipandang lebih positif daripada China oleh masyarakat dunia. Namun, pandangan itu berbalik tahun ini. Pamor China dan Presiden Xi Jinping kini mengungguli AS dan Presiden Donald Trump.
Survei terbaru Pew Research Center menunjukkan, masyarakat di 25 dari 36 negara dan wilayah memandang China lebih positif dibandingkan AS. Negara-negara itu mencakup Kanada, Meksiko, dan Indonesia. Hanya di enam negara, AS masih dipandang lebih positif daripada China, di antaranya Israel.
Survei diadakan pada Februari-Mei 2026, ketika AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran. Hasil survei dirilis pada Rabu (15/7/2026) waktu Washington atau Kamis (16/7/2026) waktu Indonesia.
Di 22 dari 36 negara, lebih banyak responden juga menyatakan lebih percaya kepada Xi daripada Trump dalam menangani urusan dunia. Hal itu terlihat di Kanada, Meksiko, serta sejumlah negara besar Eropa, termasuk Perancis, Jerman, dan Inggris. Meski demikian, masyarakat di banyak negara memiliki tingkat kepercayaan yang rendah terhadap kedua pemimpin itu.
Pandangan yang berbalik juga terjadi di Indonesia. Sebanyak 72 persen responden Indonesia kini berpandangan positif terhadap China. Hanya 29 persen yang berpandangan positif terhadap AS. China unggul hingga 43 poin.
Padahal pada 2023, sebanyak 55 persen responden Indonesia berpandangan positif terhadap AS. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan pandangan terhadap China yang mencapai 49 persen
Kesenjangan serupa terlihat dalam penilaian terhadap kedua pemimpin. Sebanyak 62 persen responden Indonesia menyatakan percaya Xi akan melakukan hal yang benar dalam menangani urusan dunia. Kepercayaan terhadap Trump hanya mencapai 20 persen.
Secara global, AS masih mengungguli China dalam penghormatan pemerintah terhadap kebebasan pribadi. Namun, selisihnya juga menyempit.


Indonesia termasuk negara yang lebih banyak respondennya menilai Pemerintah China menghormati kebebasan pribadi rakyatnya dibandingkan Pemerintah AS. Pola yang sama terlihat di Bangladesh, Malaysia, Thailand, serta Tepi Barat dan Jerusalem Timur.
Laura Silver, Direktur Madya Riset Sikap Global Pew dan salah seorang peneliti dalam studi tersebut, mengatakan, ini pertama kalinya selama sekitar 20 tahun Pew memantau opini global bahwa China dipandang lebih positif daripada AS.
Dalam sejumlah survei sebelumnya, pandangan terhadap Beijing dan Washington pernah berada pada tingkat yang hampir sama. Namun, China belum pernah dipandang secara signifikan lebih positif daripada AS hingga tahun ini.
AS telah melakukan banyak hal dalam beberapa tahun terakhir yang tidak dipandang positif secara internasional.
Menurut Silver, pergeseran tersebut terjadi seiring memudarnya ingatan terhadap pandemi Covid-19. Hal ini disertai memburuknya pandangan global terhadap AS.
”Ada hubungan nyata antara pecahnya perang dan anggapan bahwa AS sama sekali tidak berkontribusi terhadap perdamaian dan stabilitas, serta masyarakat semakin tidak percaya kepada Donald Trump,” kata Silver.
Rendahnya penerimaan juga dipengaruhi sejumlah langkah agresif AS. Langkah itu, antara lain, tuntutan Trump untuk menguasai Greenland, operasi militer AS yang menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro, serta penanganan AS terhadap perang Israel-Hamas di Gaza.
”AS telah melakukan banyak hal dalam beberapa tahun terakhir yang tidak dipandang positif secara internasional,” ujar Silver.


Selain diuntungkan oleh memudarnya ingatan tentang pandemi, posisi China juga menguat ketika dibandingkan dengan AS. ”Sebagai perbandingan, China dipandang sebagai mitra yang lebih dapat diandalkan di banyak tempat. China juga lebih mungkin dipandang berkontribusi terhadap perdamaian dan stabilitas global,” katanya.
Kedutaan Besar China di Washington menyatakan, survei terbaru itu menunjukkan bahwa pencapaian tata kelola dan kemajuan pembangunan China diakui secara luas. Gedung Putih belum segera menanggapi permintaan komentar.
Sekutu AS
Perubahan paling tajam terjadi di sejumlah negara sekutu AS, termasuk Kanada. Dalam survei terbaru, hanya 33 persen warga Kanada yang berpandangan positif terhadap AS, turun dari 57 persen pada 2023. Pada periode yang sama, pandangan positif warga Kanada terhadap China meningkat dari 14 persen menjadi 44 persen.
Hal ini diduga terkait kebijakan tarif Tump. Tahun lalu, Trump memberlakukan serangkaian tarif terhadap barang-barang Kanada. Ia juga pernah menyatakan bahwa Kanada dapat menjadi negara bagian ke-51 milik AS.
Pandangan masyarakat di sejumlah negara besar Eropa, termasuk Perancis, Jerman, Spanyol, Italia, Swedia, dan Belanda, juga berbalik mengunggulkan China. Di Inggris, sebanyak 6 dari 10 orang berpandangan positif terhadap AS pada 2023.


Kini, masyarakat Inggris memandang China dan AS pada tingkat yang hampir sama. Tiga tahun lalu, selisih pandangan positif terhadap kedua negara mencapai 32 persen dengan AS mengungguli China.
Dari enam negara yang masyarakatnya masih memiliki pandangan lebih positif terhadap AS, Israel mencatat tingkat dukungan tertinggi. Sebanyak 8 dari 10 warga Israel memandang AS secara positif, dibanding hanya 19 persen yang berpandangan positif terhadap China.
Lima negara lainnya adalah Jepang, India, Korea Selatan, Filipina, dan Polandia. Namun, pandangan masyarakat positif terhadap AS di negara-negara tersebut meredup dalam beberapa tahun terakhir.
Pew menyurvei lebih dari 42.000 orang di 35 negara serta Tepi Barat dan Jerusalem Timur. Margin kesalahan survei berkisar antara 2,3 dan 5,5 poin persentase, bergantung pada lokasi survei.
Sejak 2025
Pergeseran posisi China dan AS telah terlihat sejak 2025. Survei Gallup di 132 negara dan wilayah pada 2025 menunjukkan, tingkat penerimaan terhadap kepemimpinan China mencapai 36 persen, melampaui AS di 31 persen. Setahun sebelumnya, tingkat penerimaan terhadap kepemimpinan AS masih unggul dengan 39 persen, sedangkan China 32 persen.
Keunggulan lima poin persentase itu merupakan yang terbesar bagi China dalam hampir 20 tahun pengukuran Gallup. Namun, Gallup menegaskan, keunggulan tersebut lebih banyak didorong oleh merosotnya penilaian terhadap AS daripada peningkatan dukungan kepada China.
Pada 2025, ketidaksetujuan terhadap kepemimpinan AS juga naik menjadi 48 persen. Tingkat ini merupakan yang tertinggi yang pernah dicatat Gallup. Adapun ketidaksetujuan terhadap China tetap 37 persen.


Menanggapi survei Gallup, Li Haidong, profesor di Institut Hubungan Internasional, China Foreign Affairs University, mengatakan, masyarakat Global South telah merasakan manfaat nyata dari kerja sama dengan China, termasuk melalui proyek-proyek Inisiatif Sabuk dan Jalan.
”Masyarakat Global South telah merasakan secara mendalam komitmen China untuk menepati janji dan mewujudkannya melalui tindakan serta dengan tulus mengagumi upaya besar China dalam mendorong kemakmuran ekonomi, meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan memperkuat pengaruh internasional Global South,” kata Li, dikutip dari media China People’s Daily Overseas Edition.
Menurut dia, melalui berbagai kerja sama yang konkret, masyarakat di negara-negara Global South tidak hanya memperoleh manfaat langsung, tetapi juga semakin memahami kebijakan luar negeri China yang menekankan bantuan timbal balik dan pembangunan bersama.
Senada dengan itu, Jin Ling, Direktur Institut Tata Kelola Global dan Organisasi Internasional di China Institute of International Studies mengatakan, kesinambungan kebijakan dan kepastian arah pembangunan China turut memperkuat kepercayaan masyarakat Global South.
”Survei-survei ini menunjukkan bahwa masyarakat di sejumlah negara, khususnya di Global South, memperoleh pemahaman yang semakin mendalam mengenai stabilitas dan keterprediksian China,” kata Jin.
Li juga mengaitkan perubahan opini publik tersebut dengan menguatnya tatanan dunia multipolar. Menurut dia, China akan terus menjalankan multilateralisme serta mendorong tata kelola global berdasarkan konsultasi, kontribusi bersama, dan pembagian manfaat. (AP)
WASHINGTON, KAMIS — Selama bertahun-tahun, Amerika Serikat dipandang lebih positif daripada China oleh masyarakat dunia. Namun, pandangan itu berbalik tahun ini. Pamor China dan Presiden Xi Jinping kini mengungguli AS dan Presiden Donald Trump.
Survei terbaru Pew Research Center menunjukkan, masyarakat di 25 dari 36 negara dan wilayah memandang China lebih positif dibandingkan AS. Negara-negara itu mencakup Kanada, Meksiko, dan Indonesia. Hanya di enam negara, AS masih dipandang lebih positif daripada China, di antaranya Israel.


Serial Artikel


Baca Artikel
Survei diadakan pada Februari-Mei 2026, ketika AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran. Hasil survei dirilis pada Rabu (15/7/2026) waktu Washington atau Kamis (16/7/2026) waktu Indonesia.
Di 22 dari 36 negara, lebih banyak responden juga menyatakan lebih percaya kepada Xi daripada Trump dalam menangani urusan dunia. Hal itu terlihat di Kanada, Meksiko, serta sejumlah negara besar Eropa, termasuk Perancis, Jerman, dan Inggris. Meski demikian, masyarakat di banyak negara memiliki tingkat kepercayaan yang rendah terhadap kedua pemimpin itu.
Pandangan yang berbalik juga terjadi di Indonesia. Sebanyak 72 persen responden Indonesia kini berpandangan positif terhadap China. Hanya 29 persen yang berpandangan positif terhadap AS. China unggul hingga 43 poin.

Padahal pada 2023, sebanyak 55 persen responden Indonesia berpandangan positif terhadap AS. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan pandangan terhadap China yang mencapai 49 persen
Kesenjangan serupa terlihat dalam penilaian terhadap kedua pemimpin. Sebanyak 62 persen responden Indonesia menyatakan percaya Xi akan melakukan hal yang benar dalam menangani urusan dunia. Kepercayaan terhadap Trump hanya mencapai 20 persen.
Secara global, AS masih mengungguli China dalam penghormatan pemerintah terhadap kebebasan pribadi. Namun, selisihnya juga menyempit.


Indonesia termasuk negara yang lebih banyak respondennya menilai Pemerintah China menghormati kebebasan pribadi rakyatnya dibandingkan Pemerintah AS. Pola yang sama terlihat di Bangladesh, Malaysia, Thailand, serta Tepi Barat dan Jerusalem Timur.
Laura Silver, Direktur Madya Riset Sikap Global Pew dan salah seorang peneliti dalam studi tersebut, mengatakan, ini pertama kalinya selama sekitar 20 tahun Pew memantau opini global bahwa China dipandang lebih positif daripada AS.
Dalam sejumlah survei sebelumnya, pandangan terhadap Beijing dan Washington pernah berada pada tingkat yang hampir sama. Namun, China belum pernah dipandang secara signifikan lebih positif daripada AS hingga tahun ini.
AS telah melakukan banyak hal dalam beberapa tahun terakhir yang tidak dipandang positif secara internasional.
Menurut Silver, pergeseran tersebut terjadi seiring memudarnya ingatan terhadap pandemi Covid-19. Hal ini disertai memburuknya pandangan global terhadap AS.
”Ada hubungan nyata antara pecahnya perang dan anggapan bahwa AS sama sekali tidak berkontribusi terhadap perdamaian dan stabilitas, serta masyarakat semakin tidak percaya kepada Donald Trump,” kata Silver.
Rendahnya penerimaan juga dipengaruhi sejumlah langkah agresif AS. Langkah itu, antara lain, tuntutan Trump untuk menguasai Greenland, operasi militer AS yang menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro, serta penanganan AS terhadap perang Israel-Hamas di Gaza.
”AS telah melakukan banyak hal dalam beberapa tahun terakhir yang tidak dipandang positif secara internasional,” ujar Silver.


Selain diuntungkan oleh memudarnya ingatan tentang pandemi, posisi China juga menguat ketika dibandingkan dengan AS. ”Sebagai perbandingan, China dipandang sebagai mitra yang lebih dapat diandalkan di banyak tempat. China juga lebih mungkin dipandang berkontribusi terhadap perdamaian dan stabilitas global,” katanya.
Kedutaan Besar China di Washington menyatakan, survei terbaru itu menunjukkan bahwa pencapaian tata kelola dan kemajuan pembangunan China diakui secara luas. Gedung Putih belum segera menanggapi permintaan komentar.
Sekutu AS
Perubahan paling tajam terjadi di sejumlah negara sekutu AS, termasuk Kanada. Dalam survei terbaru, hanya 33 persen warga Kanada yang berpandangan positif terhadap AS, turun dari 57 persen pada 2023. Pada periode yang sama, pandangan positif warga Kanada terhadap China meningkat dari 14 persen menjadi 44 persen.
Hal ini diduga terkait kebijakan tarif Tump. Tahun lalu, Trump memberlakukan serangkaian tarif terhadap barang-barang Kanada. Ia juga pernah menyatakan bahwa Kanada dapat menjadi negara bagian ke-51 milik AS.
Pandangan masyarakat di sejumlah negara besar Eropa, termasuk Perancis, Jerman, Spanyol, Italia, Swedia, dan Belanda, juga berbalik mengunggulkan China. Di Inggris, sebanyak 6 dari 10 orang berpandangan positif terhadap AS pada 2023.


Kini, masyarakat Inggris memandang China dan AS pada tingkat yang hampir sama. Tiga tahun lalu, selisih pandangan positif terhadap kedua negara mencapai 32 persen dengan AS mengungguli China.
Dari enam negara yang masyarakatnya masih memiliki pandangan lebih positif terhadap AS, Israel mencatat tingkat dukungan tertinggi. Sebanyak 8 dari 10 warga Israel memandang AS secara positif, dibanding hanya 19 persen yang berpandangan positif terhadap China.
Lima negara lainnya adalah Jepang, India, Korea Selatan, Filipina, dan Polandia. Namun, pandangan masyarakat positif terhadap AS di negara-negara tersebut meredup dalam beberapa tahun terakhir.
Pew menyurvei lebih dari 42.000 orang di 35 negara serta Tepi Barat dan Jerusalem Timur. Margin kesalahan survei berkisar antara 2,3 dan 5,5 poin persentase, bergantung pada lokasi survei.


Serial Artikel


Baca Artikel
Sejak 2025
Pergeseran posisi China dan AS telah terlihat sejak 2025. Survei Gallup di 132 negara dan wilayah pada 2025 menunjukkan, tingkat penerimaan terhadap kepemimpinan China mencapai 36 persen, melampaui AS di 31 persen. Setahun sebelumnya, tingkat penerimaan terhadap kepemimpinan AS masih unggul dengan 39 persen, sedangkan China 32 persen.
Keunggulan lima poin persentase itu merupakan yang terbesar bagi China dalam hampir 20 tahun pengukuran Gallup. Namun, Gallup menegaskan, keunggulan tersebut lebih banyak didorong oleh merosotnya penilaian terhadap AS daripada peningkatan dukungan kepada China.
Pada 2025, ketidaksetujuan terhadap kepemimpinan AS juga naik menjadi 48 persen. Tingkat ini merupakan yang tertinggi yang pernah dicatat Gallup. Adapun ketidaksetujuan terhadap China tetap 37 persen.


Menanggapi survei Gallup, Li Haidong, profesor di Institut Hubungan Internasional, China Foreign Affairs University, mengatakan, masyarakat Global South telah merasakan manfaat nyata dari kerja sama dengan China, termasuk melalui proyek-proyek Inisiatif Sabuk dan Jalan.
”Masyarakat Global South telah merasakan secara mendalam komitmen China untuk menepati janji dan mewujudkannya melalui tindakan serta dengan tulus mengagumi upaya besar China dalam mendorong kemakmuran ekonomi, meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan memperkuat pengaruh internasional Global South,” kata Li, dikutip dari media China People’s Daily Overseas Edition.
Menurut dia, melalui berbagai kerja sama yang konkret, masyarakat di negara-negara Global South tidak hanya memperoleh manfaat langsung, tetapi juga semakin memahami kebijakan luar negeri China yang menekankan bantuan timbal balik dan pembangunan bersama.
Senada dengan itu, Jin Ling, Direktur Institut Tata Kelola Global dan Organisasi Internasional di China Institute of International Studies mengatakan, kesinambungan kebijakan dan kepastian arah pembangunan China turut memperkuat kepercayaan masyarakat Global South.
”Survei-survei ini menunjukkan bahwa masyarakat di sejumlah negara, khususnya di Global South, memperoleh pemahaman yang semakin mendalam mengenai stabilitas dan keterprediksian China,” kata Jin.
Li juga mengaitkan perubahan opini publik tersebut dengan menguatnya tatanan dunia multipolar. Menurut dia, China akan terus menjalankan multilateralisme serta mendorong tata kelola global berdasarkan konsultasi, kontribusi bersama, dan pembagian manfaat. (AP)