Mengambil judul dari memoar penulis keturunan Palestina-Amerika, Hala Alyan, pameran I Will Tell You when I am Home (Aku akan Memberitahumu Ketika Aku Pulang) menyatukan enam seniman. Kolaborasi praktik seni ini melibatkan kompleksitas tempat, perpindahan, identitas, dan rasa memiliki. Pameran yang berlangsung di galeri Ara Contemporary, Jakarta, ini menavigasi medan yang tidak pasti antara keinginan untuk berakar dan keniscayaan perpindahan.
Melalui lukisan, patung, instalasi, fotografi, dan media campuran, para seniman merefleksikan pengalaman migrasi, ingatan, dan warisan budaya, mempertimbangkan bagaimana hal-hal ini terus membentuk identitas pribadi dan kolektif. Konsepsi rumah di sini tidak melulu sebuah bangunan. Seniman merasakan rumah sebagai memori. Ada juga yang menggambarkan bahwa rumah ini adalah impian dan ada pula yang menggambarkan bahwa rumah adalah diri kita sendiri.
Karya-karya mereka memetakan gagasan tentang penguraian dan pembentukan, tentang kehilangan dan penebusan, tentang asal-usul yang hilang dan diciptakan kembali. Alih-alih memosisikan rasa memiliki sebagai kondisi tetap, I Will Tell You when I am Home mendekatinya sebagai proses negosiasi yang berkelanjutan.
Para seniman memeriksa ruang antara keberangkatan dan kedatangan, ingatan dan penemuan kembali, menelusuri bagaimana gagasan tentang rumah terus-menerus hilang, direkonstruksi, dan dibayangkan kembali. Karya-karya mereka bersama-sama menunjukkan bahwa rasa memiliki tidak didefinisikan oleh kembali ke asal, tetapi oleh cara kontinuitas dapat ditemukan dan dibawa melalui perpindahan.
Pameran ini menampilkan enam seniman yang dibentuk oleh geografi, penelitian, dan pengalaman hidup yang berbeda. Seniman Belanda keturunan Indonesia, Nazif Lopulissa, mengeksplorasi tempat, identitas, dan warisan budaya melalui warisan darah Maluku-nya. Ia secara kritis membahas tema dekolonisasi dan multikulturalisme.
Karya Nazif berjudul ”Trying to Compose It, Not to Bury It” dibuat dengan teknik anyaman yang memungkinkan dua gambar dengan narasi yang berbeda atau bahkan bertentangan untuk hidup berdampingan dalam satu permukaan, disatukan melalui ketegangan fisik. Dalam karya itu, potret Ratu Wilhelmina di Burgerzaal (aula warga) Istana Kerajaan di Dam Square di Amsterdam ditenun bersama dengan gambar susunan anggrek yang tampak memudar dari pandangan.
Anggrek cooktown, atau anggrek laratin dalam bahasa Indonesia, adalah lambang bunga resmi Provinsi Maluku. Istana Kerajaan ini adalah tempat penyerahan kedaulatan dari Belanda ke Indonesia diresmikan pada 1949.
Seniman yang berbasis di New York, Shuyi Cao, mengeksplorasi persimpangan arkeologi, ekologi, sains, teknologi, dan kosmologi melalui penelitian berbasis material, baru-baru ini menyelesaikan program residensi di Ruang Arta Derau, Bali.
Karya-karya Shuyi Cao merupakan bukti dari gagasan bahwa tidak ada yang tetap seperti dulu dan tidak pula didefinisikan semata-mata oleh asal-usulnya. Praktiknya mengeksplorasi siklus hidup xenophora (yang berarti ’membawa orang asing’), sejenis genus moluska gastropoda laut yang menempelkan cangkang, batu, karang, dan materi asing lainnya dari lingkungannya ke cangkangnya sendiri.
Organisme tersebut menjadi arsip bergerak, membawa catatan lingkungan yang telah dilaluinya dan material yang telah ditemuinya. Dengan membentuk kembali materi-materi ini menjadi bentuk-bentuk baru, Cao menunjukkan bagaimana tubuh mengingat tempat-tempat yang pernah mereka lalui, bagaimana bertahan hidup menjadi suatu bentuk komposisi.

Seniman Vietnam, Nguyễn Phương Linh, mengamati keseragaman dalam jenis pekerjaan yang tersedia bagi perempuan kelas pekerja Vietnam di pusat-pusat kota di seluruh dunia. Ia menyajikan video, instalasi, dan patung yang diberikan efek asap kabut.
Nguyễn mengkaji pergeseran geografis dan budaya sambil menelusuri sejarah yang terfragmentasi dan ambigu di Vietnam, yang dibentuk oleh persimpangan kompleks etnisitas, agama, dan pengaruh geopolitik. Karya-karyanya meneliti hubungan antara visibilitas dan invisibilitas, bentuk dan waktu, berat dan kekosongan, merefleksikan perpindahan, ketahanan, kekerasan, kerentanan, dan kefanaan.


Asap kabut dalam ruangan instalasi seni menggambarkan salah satu prosedur kecantikan nail art yang menyebabkan residu debu-debu. Phuong Din ingin bercerita bahwa ini adalah salah satu hal yang harus dilewati oleh pekerja imigran asal Vietnam yang bekerja di salon-salon kuku di perantauan.
Seniman Singapura, Khairulddin Wahab, mengangkat tema geografi budaya, sejarah lingkungan, dan narasi pascakolonial. Ia menghadirkan karya-karya yang meneliti sejarah perkebunan dan struktur kekuasaan kolonial yang tertanam dalam lanskap lingkungan Asia Tenggara melalui lukisan berjudul ”A Forest of Names”.
Seniman Vietnam, Arlette Quỳnh-Anh Trần, mereproduksi halaman-halaman jurnal Bauhaus yang ditumpangkan dengan gambar dan citra yang dihasilkan AI berdasarkan arahan seniman yang terinspirasi oleh elemen-elemen lokal di sekitarnya.
Arlette menciptakan karya seni baik secara kolektif maupun individu, serta menjadi kurator dan penulis. Karya seninya menggabungkan politik dan estetika fiksi ilmiah melalui penggunaan animasi, desain 3D, arsip sejarah, dan arsitektur.
Ia terpesona oleh gagasan utopia Dunia Ketiga futuristik, di mana cita-cita politik dibayangkan kembali dan manusia serta makhluk nonmanusia hidup berdampingan dan menyatu. Ia menyajikan interpretasi nonlinear dan absurd dari sejarah modern yang menantang narasi dominan seusai Perang Dingin tentang Dunia Ketiga.
Melengkapi pameran ini adalah seniman Indonesia, Mar Kristoff, merefleksikan memori, arsip, dan konstruksi identitas yang dinamis. Ia mengumpulkan inspirasi dan referensi dari arsip pribadinya dan citra yang ditemukan.
Kristoff dikenal karena interpretasinya terhadap citra fotografi dalam bentuk lukisan yang menangkap hakikat kenangan. Ia mempertanyakan keterbatasan, potensi, kontras dan kesamaan antara lukisan dan fotografi sebagai medium, sambil menggali tema-tema identitas, ingatan, nostalgia, konsep waktu, dan pencarian abadi akan rasa memiliki.
Dalam karyanya yang berjudul ”Taman Ayun”, Kristoff merekonstruksi foto sebuah keluarga asal Semarang yang bersantai di halaman Pura Taman Ayun, Bali, dari internet. Di bawah gambar ini terdapat gambar grafiti berdasarkan foto-foto dari arsip keluarga Kristoff, sebagian besar menggambarkan orangtuanya di Bali.
Karyanya menumpuk realitas yang berbeda ke dalam satu gambar, menyatukan orang, tempat, dan momen yang berbeda. Ini menunjukkan pengalaman bersama tentang suatu tempat di sepanjang sejarah pribadi, mengungkapkan rasa universalitas meskipun kita memiliki jalan hidup masing-masing. Arsip dari keluarga itu ditumpuk dan dikompilasi dengan lukisan di Taman Ayun dan di situ Kristoff ingin menunjukkan kita semua punya memori beda-beda.
Karya ini menimbulkan pertanyaan tentang ingatan kita terhadap suatu tempat: apa yang terjadi ketika suatu tempat bukan lagi tempat yang kita ingat. Pertanyaan terkait muncul dalam Castle, yang merekonstruksi interior sebuah ruangan di Kastil Windsor berdasarkan kartu pos wisata abad ke-20 yang ditemukan Kristoff di toko barang bekas di Melbourne. Seperti halnya sebagian besar karyanya, gambar sumber kartu pos ini menjadi dokumen sejarah sekaligus titik awal untuk meneliti pengalaman dan pertanyaan pribadinya.
Sebagai seseorang dengan warisan campuran Polandia-Kanada dan Indonesia, yang identitasnya mencakup sejarah kekaisaran dan penjajahan, Kristoff menggunakan gambar-gambar yang ditemukan untuk menegosiasikan ketegangan antara ingatan pribadi dan sejarah yang diwariskan. Kolaborasi para seniman dalam I Will Tell You when I am Home ini dapat dinikmati hingga 9 Agustus.
Mengambil judul dari memoar penulis keturunan Palestina-Amerika, Hala Alyan, pameran I Will Tell You when I am Home (Aku akan Memberitahumu Ketika Aku Pulang) menyatukan enam seniman. Kolaborasi praktik seni ini melibatkan kompleksitas tempat, perpindahan, identitas, dan rasa memiliki. Pameran yang berlangsung di galeri Ara Contemporary, Jakarta, ini menavigasi medan yang tidak pasti antara keinginan untuk berakar dan keniscayaan perpindahan.
Melalui lukisan, patung, instalasi, fotografi, dan media campuran, para seniman merefleksikan pengalaman migrasi, ingatan, dan warisan budaya, mempertimbangkan bagaimana hal-hal ini terus membentuk identitas pribadi dan kolektif. Konsepsi rumah di sini tidak melulu sebuah bangunan. Seniman merasakan rumah sebagai memori. Ada juga yang menggambarkan bahwa rumah ini adalah impian dan ada pula yang menggambarkan bahwa rumah adalah diri kita sendiri.
Karya-karya mereka memetakan gagasan tentang penguraian dan pembentukan, tentang kehilangan dan penebusan, tentang asal-usul yang hilang dan diciptakan kembali. Alih-alih memosisikan rasa memiliki sebagai kondisi tetap, I Will Tell You when I am Home mendekatinya sebagai proses negosiasi yang berkelanjutan.
Para seniman memeriksa ruang antara keberangkatan dan kedatangan, ingatan dan penemuan kembali, menelusuri bagaimana gagasan tentang rumah terus-menerus hilang, direkonstruksi, dan dibayangkan kembali. Karya-karya mereka bersama-sama menunjukkan bahwa rasa memiliki tidak didefinisikan oleh kembali ke asal, tetapi oleh cara kontinuitas dapat ditemukan dan dibawa melalui perpindahan.
Pameran ini menampilkan enam seniman yang dibentuk oleh geografi, penelitian, dan pengalaman hidup yang berbeda. Seniman Belanda keturunan Indonesia, Nazif Lopulissa, mengeksplorasi tempat, identitas, dan warisan budaya melalui warisan darah Maluku-nya. Ia secara kritis membahas tema dekolonisasi dan multikulturalisme.
Karya Nazif berjudul ”Trying to Compose It, Not to Bury It” dibuat dengan teknik anyaman yang memungkinkan dua gambar dengan narasi yang berbeda atau bahkan bertentangan untuk hidup berdampingan dalam satu permukaan, disatukan melalui ketegangan fisik. Dalam karya itu, potret Ratu Wilhelmina di Burgerzaal (aula warga) Istana Kerajaan di Dam Square di Amsterdam ditenun bersama dengan gambar susunan anggrek yang tampak memudar dari pandangan.
Anggrek cooktown, atau anggrek laratin dalam bahasa Indonesia, adalah lambang bunga resmi Provinsi Maluku. Istana Kerajaan ini adalah tempat penyerahan kedaulatan dari Belanda ke Indonesia diresmikan pada 1949.
Seniman yang berbasis di New York, Shuyi Cao, mengeksplorasi persimpangan arkeologi, ekologi, sains, teknologi, dan kosmologi melalui penelitian berbasis material, baru-baru ini menyelesaikan program residensi di Ruang Arta Derau, Bali.
Karya-karya Shuyi Cao merupakan bukti dari gagasan bahwa tidak ada yang tetap seperti dulu dan tidak pula didefinisikan semata-mata oleh asal-usulnya. Praktiknya mengeksplorasi siklus hidup xenophora (yang berarti ’membawa orang asing’), sejenis genus moluska gastropoda laut yang menempelkan cangkang, batu, karang, dan materi asing lainnya dari lingkungannya ke cangkangnya sendiri.
Organisme tersebut menjadi arsip bergerak, membawa catatan lingkungan yang telah dilaluinya dan material yang telah ditemuinya. Dengan membentuk kembali materi-materi ini menjadi bentuk-bentuk baru, Cao menunjukkan bagaimana tubuh mengingat tempat-tempat yang pernah mereka lalui, bagaimana bertahan hidup menjadi suatu bentuk komposisi.

Seniman Vietnam, Nguyễn Phương Linh, mengamati keseragaman dalam jenis pekerjaan yang tersedia bagi perempuan kelas pekerja Vietnam di pusat-pusat kota di seluruh dunia. Ia menyajikan video, instalasi, dan patung yang diberikan efek asap kabut.
Nguyễn mengkaji pergeseran geografis dan budaya sambil menelusuri sejarah yang terfragmentasi dan ambigu di Vietnam, yang dibentuk oleh persimpangan kompleks etnisitas, agama, dan pengaruh geopolitik. Karya-karyanya meneliti hubungan antara visibilitas dan invisibilitas, bentuk dan waktu, berat dan kekosongan, merefleksikan perpindahan, ketahanan, kekerasan, kerentanan, dan kefanaan.


Asap kabut dalam ruangan instalasi seni menggambarkan salah satu prosedur kecantikan nail art yang menyebabkan residu debu-debu. Phuong Din ingin bercerita bahwa ini adalah salah satu hal yang harus dilewati oleh pekerja imigran asal Vietnam yang bekerja di salon-salon kuku di perantauan.
Seniman Singapura, Khairulddin Wahab, mengangkat tema geografi budaya, sejarah lingkungan, dan narasi pascakolonial. Ia menghadirkan karya-karya yang meneliti sejarah perkebunan dan struktur kekuasaan kolonial yang tertanam dalam lanskap lingkungan Asia Tenggara melalui lukisan berjudul ”A Forest of Names”.
Seniman Vietnam, Arlette Quỳnh-Anh Trần, mereproduksi halaman-halaman jurnal Bauhaus yang ditumpangkan dengan gambar dan citra yang dihasilkan AI berdasarkan arahan seniman yang terinspirasi oleh elemen-elemen lokal di sekitarnya.
Arlette menciptakan karya seni baik secara kolektif maupun individu, serta menjadi kurator dan penulis. Karya seninya menggabungkan politik dan estetika fiksi ilmiah melalui penggunaan animasi, desain 3D, arsip sejarah, dan arsitektur.
Ia terpesona oleh gagasan utopia Dunia Ketiga futuristik, di mana cita-cita politik dibayangkan kembali dan manusia serta makhluk nonmanusia hidup berdampingan dan menyatu. Ia menyajikan interpretasi nonlinear dan absurd dari sejarah modern yang menantang narasi dominan seusai Perang Dingin tentang Dunia Ketiga.
Melengkapi pameran ini adalah seniman Indonesia, Mar Kristoff, merefleksikan memori, arsip, dan konstruksi identitas yang dinamis. Ia mengumpulkan inspirasi dan referensi dari arsip pribadinya dan citra yang ditemukan.
Kristoff dikenal karena interpretasinya terhadap citra fotografi dalam bentuk lukisan yang menangkap hakikat kenangan. Ia mempertanyakan keterbatasan, potensi, kontras dan kesamaan antara lukisan dan fotografi sebagai medium, sambil menggali tema-tema identitas, ingatan, nostalgia, konsep waktu, dan pencarian abadi akan rasa memiliki.
Dalam karyanya yang berjudul ”Taman Ayun”, Kristoff merekonstruksi foto sebuah keluarga asal Semarang yang bersantai di halaman Pura Taman Ayun, Bali, dari internet. Di bawah gambar ini terdapat gambar grafiti berdasarkan foto-foto dari arsip keluarga Kristoff, sebagian besar menggambarkan orangtuanya di Bali.
Karyanya menumpuk realitas yang berbeda ke dalam satu gambar, menyatukan orang, tempat, dan momen yang berbeda. Ini menunjukkan pengalaman bersama tentang suatu tempat di sepanjang sejarah pribadi, mengungkapkan rasa universalitas meskipun kita memiliki jalan hidup masing-masing. Arsip dari keluarga itu ditumpuk dan dikompilasi dengan lukisan di Taman Ayun dan di situ Kristoff ingin menunjukkan kita semua punya memori beda-beda.
Karya ini menimbulkan pertanyaan tentang ingatan kita terhadap suatu tempat: apa yang terjadi ketika suatu tempat bukan lagi tempat yang kita ingat. Pertanyaan terkait muncul dalam Castle, yang merekonstruksi interior sebuah ruangan di Kastil Windsor berdasarkan kartu pos wisata abad ke-20 yang ditemukan Kristoff di toko barang bekas di Melbourne. Seperti halnya sebagian besar karyanya, gambar sumber kartu pos ini menjadi dokumen sejarah sekaligus titik awal untuk meneliti pengalaman dan pertanyaan pribadinya.
Sebagai seseorang dengan warisan campuran Polandia-Kanada dan Indonesia, yang identitasnya mencakup sejarah kekaisaran dan penjajahan, Kristoff menggunakan gambar-gambar yang ditemukan untuk menegosiasikan ketegangan antara ingatan pribadi dan sejarah yang diwariskan. Kolaborasi para seniman dalam I Will Tell You when I am Home ini dapat dinikmati hingga 9 Agustus.
Baca JugaKetika Musik Orkestra Menjadi Milik Warga
Baca JugaIni Waktunya Seni Menginvasi Taman Kota