اخبار

Yamal dengan Messi Sejalan tapi Berbeda Tujuan

الكاتبabdulrahman-mustafaتاريخ النشر
Yamal dengan Messi Sejalan tapi Berbeda Tujuan

Perjalanan Lamine Yamal dan Lionel Messi terasa identik. Mereka mengawali karier di Barcelona, mengenakan nomor punggung 19 dan 10, bermain di posisi sayap, berkaki kidal, dan sama-sama punya talenta fenomenal. Keduanya hanya berbeda generasi.

Yamal dan Messi terpaut hampir 20 tahun. Yamal baru saja berulang tahun ke-19 pada Senin (13/7/2026), sementara Messi sudah nyaris menyentuh kepala empat. Saat Yamal baru saja memainkan final Piala Dunia pertamanya pada Senin nanti, laga serupa berpotensi menjadi panggung perpisahan Messi.

Perbedaan itu tidak akan kentara di partai puncak, sebab keduanya berada dalam kondisi prima. Mereka adalah kartu as bagi Spanyol dan Argentina.

Yamal bertumbuh cepat, sehingga lebih matang dari pemain seusianya. Messi memperlambat penuaan, sehingga tidak jadi beban di usia saat ini.

Pelatih Argentina Lionel Scaloni menyebut Messi sebagai pesepak bola terbaik sepanjang masa. Meskipun memiliki sang GOAT (the greatest of all time), sang pelatih ternyata masih menyimpan rasa takut jelang final. Kekhawatiran itu muncul akibat Yamal, megabintang “La Furia Roja”.

Menurut Scaloni, Yamal merupakan harta karun sepak bola, sama seperti layaknya Messi. “Dia masih sangat muda, tetapi punya begitu banyak hal yang bisa ditawarkan ke permainan ini. Bagaimana cara menghentikannya? Saya berharap kami bisa mengurung Lamine di kamarnya,” seloroh Scaloni.

Apa sebenarnya yang ditakutkan Scaloni? Berkaca dari statistik, Yamal baru menghasilkan satu gol sepanjang turnamen. Catatan itu terpaut sangat jauh dengan Messi yang sudah memproduki delapan gol dan empat asis. Sulit dijelaskan, sebab pengaruh Yamal memang tidak bisa dilihat di atas kertas.

Yamal adalah “tumbal” kesuksesan Spanyol dalam sistem pelatih Luis de la Fuente. Alih-alih menjadi eksekutor utama serangan, dia justru ditugaskan sebagai “umpan” untuk membuka jalan kepada rekan-rekannya. Spanyol sangat menikmati gravitasi Yamal di sisi sayap pertahanan lawan.

Gol kedua Spanyol ke gawang Perancis dalam partai semifinal, misalnya. Bek sayap Pedro Porro bisa melakukan underlap ke kotak penalti dan mencetak gol dengan leluasa karena peran Yamal. Sang remaja berdiri di tepi lapangan untuk menarik perhatian bek sayap lawan Lucas Digne.

Kontribusi seperti itu tidak terhitung dalam statistik, tetapi sangat krusial untuk permainan tim. Penampilan Yamal semakin dewasa dengan lebih banyak melibatkan pemain-pemain di sekitarnya. Dia bukan lagi pemain yang hanya mengandakan aksi individu.

Bintang sepak bola berusia 20 tahun Lionel Messi membantu memandikan Lamine Yamal, yang baru berusia enam bulan saat sesi foto pada September 2007 di ruang ganti stadion Camp Nou di Barcelona, Spanyol.

AP/Joan Monfort

Tidak mudah bagi bintang muda untuk menurunkan ego. Yamal bisa melakukan itu karena sudah lebih paham konsep kolektif dalam permainan.

Dia bisa saja melewati satu atau dua pemain, tetapi itu akan kurang efektif. Sebab, dia menyadari, bisa dijaga tiga pemain saat menguasai bola.

“Setidaknya tiga (pemain lawan). Jika beruntung, mungkin dua. Tidak pernah ada kesempatan satu lawan satu. Jadi saya berpikir untuk skema permainan, berbicara kepada bek sayap untuk melakukan ini dan itu. Jika ada tiga pemain menjaga saya, maka ada tiga rekan saya yang terbuka,” kata Yamal.

Sementara itu, kekuatan terbesar Messi adalah bermain dengan otak. Dia bisa membaca permainan dalam kondisi ril dan seperti mampu memprediksi masa depan.

Itu membuatnya selalu tepat dalam mengambil keputusan. Messi tahu kapan harus membawa, mengoper, atau menendang bola.

Soal pengambilan keputusan, Yamal belum sampai di level Messi. Namun, dia sudah di jalur yang tepat dengan berada dalam ekosistem dengan “DNA” sepak bola terbaik seperti di Barca dan Spanyol. Terbukti, kedewasaannya bertumbuh signifikan hanya dalam tiga tahun.

Apakah Yamal bisa setara atau melampaui Messi? Bukan tidak mungkin. Sang remaja nyatanya bersinar lebih cepat dibandingkan Messi.

Dia sudah menghasilkan 56 gol di klub dan timnas dengan umur saat ini. Pada umur yang sama, Messi baru berhasil menciptakan 11 gol.

Yamal juga sudah tampil 32 kali untuk Spanyol, termasuk mengantar negaranya berjaya di Piala Eropa 2024 dan masuk final Piala Dunia 2026. Messi baru bermain 11 kali untuk Argentina saat seusia Yamal, dan baru mampu mempersembahkan trofi untuk tim “Tango” saat berusia 34 tahun.

Lamine Yamal bertarung mememperemet bola dengan bek Prancis Theo Hernandez  dan Manu Kone dalam semifinal  Piala Dunia 2026 antara Prancis dan Spanyol di Stadion Dallas di Arlington pada Selasa (14/7/2026).

AFP/MAURO PIMENTEL

Meskipun begitu, sepak bola bukan matematika. Untuk mengikuti jejak Messi, Yamal harus berdedikasi terhadap sepak bola dalam waktu sangat panjang. Masalahnya, Yamal enggan berkomitmen penuh karena ingin menyeimbangkan kehidupan pribadi dan karier profesional.

“Mustahill. Mustahil. Mustahil. Bermain mungkin saja, tetap untuk berada di level tertinggi itu sangat sulit,” ucap Yamal ketika ditanya soal bermain sampai usia nyaris kepala empat di Piala Dunia seperti Messi.

“Buat saya, dia yang terbaik. Dia terus membuktikan itu,” lanjutnya.

Bagi Yamal, sepak bola sudah menyita waktunya sejak anak-anak hingga remaja. Dia melakukan itu demi mengangkat harkat keluarga. Karena itu pula, dia ingin bisa lebih menikmati hidup saat sudah di posisi saat ini. Fokusnya bukan seratus persen untuk sepak bola.

Perjalanan awal karier Messi dan Yamal memang mirip. Namun, bukan berarti tujuan akhir mereka sama. Yamal punya jalan sendiri, tidak perlu dibebani dengan embel-embel “The Next Messi”. Seperti diketahui, pemain dengan julukan seperti itu biasanya akan tenggelam perlahan.

De la Fuente adalah sosok yang paling membenci perbandingan Yamal dengan Messi. “Mereka memang berbeda. Mereka nyaman dalan situasi yang ekstrem. Apa yang menurut kita luar biasa, mereka anggap normal. Tetapi, mari kita biarkan dia (Yamal) mengikuti jalannya sendiri,” katanya.

Tujuan berbeda keduanya akan dimulai di final Piala Dunia. Yamal dan Messi membawa mising-mising untuk berjaya. Messi akan menutup kariernya, sementara Yamal akan melanjutkan perjalanannya yang masih panjang. Respons Yamal terhadap hasil di partai puncak patut dinanti. (AP/REUTERS)

Perjalanan Lamine Yamal dan Lionel Messi terasa identik. Mereka mengawali karier di Barcelona, mengenakan nomor punggung 19 dan 10, bermain di posisi sayap, berkaki kidal, dan sama-sama punya talenta fenomenal. Keduanya hanya berbeda generasi.

Yamal dan Messi terpaut hampir 20 tahun. Yamal baru saja berulang tahun ke-19 pada Senin (13/7/2026), sementara Messi sudah nyaris menyentuh kepala empat. Saat Yamal baru saja memainkan final Piala Dunia pertamanya pada Senin nanti, laga serupa berpotensi menjadi panggung perpisahan Messi.

Perbedaan itu tidak akan kentara di partai puncak, sebab keduanya berada dalam kondisi prima. Mereka adalah kartu as bagi Spanyol dan Argentina.

Yamal bertumbuh cepat, sehingga lebih matang dari pemain seusianya. Messi memperlambat penuaan, sehingga tidak jadi beban di usia saat ini.

Lamine Yamal mengontrol bola selama pertandingan semifinal turnamen sepak bola Piala Dunia 2026 antara Prancis dan Spanyol di Stadion Dallas di Arlington pada Selasa (14/7/2026).

AFP/MAURO PIMENTEL

Pelatih Argentina Lionel Scaloni menyebut Messi sebagai pesepak bola terbaik sepanjang masa. Meskipun memiliki sang GOAT (the greatest of all time), sang pelatih ternyata masih menyimpan rasa takut jelang final. Kekhawatiran itu muncul akibat Yamal, megabintang “La Furia Roja”.

Menurut Scaloni, Yamal merupakan harta karun sepak bola, sama seperti layaknya Messi. “Dia masih sangat muda, tetapi punya begitu banyak hal yang bisa ditawarkan ke permainan ini. Bagaimana cara menghentikannya? Saya berharap kami bisa mengurung Lamine di kamarnya,” seloroh Scaloni.

Apa sebenarnya yang ditakutkan Scaloni? Berkaca dari statistik, Yamal baru menghasilkan satu gol sepanjang turnamen. Catatan itu terpaut sangat jauh dengan Messi yang sudah memproduki delapan gol dan empat asis. Sulit dijelaskan, sebab pengaruh Yamal memang tidak bisa dilihat di atas kertas.

Baca JugaKeajaiban Terbesar dari Foto Messi ”Membaptis” Yamal

Yamal adalah “tumbal” kesuksesan Spanyol dalam sistem pelatih Luis de la Fuente. Alih-alih menjadi eksekutor utama serangan, dia justru ditugaskan sebagai “umpan” untuk membuka jalan kepada rekan-rekannya. Spanyol sangat menikmati gravitasi Yamal di sisi sayap pertahanan lawan.

Gol kedua Spanyol ke gawang Perancis dalam partai semifinal, misalnya. Bek sayap Pedro Porro bisa melakukan underlap ke kotak penalti dan mencetak gol dengan leluasa karena peran Yamal. Sang remaja berdiri di tepi lapangan untuk menarik perhatian bek sayap lawan Lucas Digne.

Kontribusi seperti itu tidak terhitung dalam statistik, tetapi sangat krusial untuk permainan tim. Penampilan Yamal semakin dewasa dengan lebih banyak melibatkan pemain-pemain di sekitarnya. Dia bukan lagi pemain yang hanya mengandakan aksi individu.

Bintang sepak bola berusia 20 tahun Lionel Messi membantu memandikan Lamine Yamal, yang baru berusia enam bulan saat sesi foto pada September 2007 di ruang ganti stadion Camp Nou di Barcelona, Spanyol.

AP/Joan Monfort

Tidak mudah bagi bintang muda untuk menurunkan ego. Yamal bisa melakukan itu karena sudah lebih paham konsep kolektif dalam permainan.

Dia bisa saja melewati satu atau dua pemain, tetapi itu akan kurang efektif. Sebab, dia menyadari, bisa dijaga tiga pemain saat menguasai bola.

“Setidaknya tiga (pemain lawan). Jika beruntung, mungkin dua. Tidak pernah ada kesempatan satu lawan satu. Jadi saya berpikir untuk skema permainan, berbicara kepada bek sayap untuk melakukan ini dan itu. Jika ada tiga pemain menjaga saya, maka ada tiga rekan saya yang terbuka,” kata Yamal.

Sementara itu, kekuatan terbesar Messi adalah bermain dengan otak. Dia bisa membaca permainan dalam kondisi ril dan seperti mampu memprediksi masa depan.

Itu membuatnya selalu tepat dalam mengambil keputusan. Messi tahu kapan harus membawa, mengoper, atau menendang bola.

Baca JugaMisi Spanyol Membungkam Messi

Soal pengambilan keputusan, Yamal belum sampai di level Messi. Namun, dia sudah di jalur yang tepat dengan berada dalam ekosistem dengan “DNA” sepak bola terbaik seperti di Barca dan Spanyol. Terbukti, kedewasaannya bertumbuh signifikan hanya dalam tiga tahun.

Apakah Yamal bisa setara atau melampaui Messi? Bukan tidak mungkin. Sang remaja nyatanya bersinar lebih cepat dibandingkan Messi.

Dia sudah menghasilkan 56 gol di klub dan timnas dengan umur saat ini. Pada umur yang sama, Messi baru berhasil menciptakan 11 gol.

Yamal juga sudah tampil 32 kali untuk Spanyol, termasuk mengantar negaranya berjaya di Piala Eropa 2024 dan masuk final Piala Dunia 2026. Messi baru bermain 11 kali untuk Argentina saat seusia Yamal, dan baru mampu mempersembahkan trofi untuk tim “Tango” saat berusia 34 tahun.

Lamine Yamal bertarung mememperemet bola dengan bek Prancis Theo Hernandez  dan Manu Kone dalam semifinal  Piala Dunia 2026 antara Prancis dan Spanyol di Stadion Dallas di Arlington pada Selasa (14/7/2026).

AFP/MAURO PIMENTEL

Meskipun begitu, sepak bola bukan matematika. Untuk mengikuti jejak Messi, Yamal harus berdedikasi terhadap sepak bola dalam waktu sangat panjang. Masalahnya, Yamal enggan berkomitmen penuh karena ingin menyeimbangkan kehidupan pribadi dan karier profesional.

“Mustahill. Mustahil. Mustahil. Bermain mungkin saja, tetap untuk berada di level tertinggi itu sangat sulit,” ucap Yamal ketika ditanya soal bermain sampai usia nyaris kepala empat di Piala Dunia seperti Messi.

“Buat saya, dia yang terbaik. Dia terus membuktikan itu,” lanjutnya.

Bagi Yamal, sepak bola sudah menyita waktunya sejak anak-anak hingga remaja. Dia melakukan itu demi mengangkat harkat keluarga. Karena itu pula, dia ingin bisa lebih menikmati hidup saat sudah di posisi saat ini. Fokusnya bukan seratus persen untuk sepak bola.

Baca JugaArena Final di Antara Kritikan dan Pembuktian FIFA

Perjalanan awal karier Messi dan Yamal memang mirip. Namun, bukan berarti tujuan akhir mereka sama. Yamal punya jalan sendiri, tidak perlu dibebani dengan embel-embel “The Next Messi”. Seperti diketahui, pemain dengan julukan seperti itu biasanya akan tenggelam perlahan.

De la Fuente adalah sosok yang paling membenci perbandingan Yamal dengan Messi. “Mereka memang berbeda. Mereka nyaman dalan situasi yang ekstrem. Apa yang menurut kita luar biasa, mereka anggap normal. Tetapi, mari kita biarkan dia (Yamal) mengikuti jalannya sendiri,” katanya.

Tujuan berbeda keduanya akan dimulai di final Piala Dunia. Yamal dan Messi membawa mising-mising untuk berjaya. Messi akan menutup kariernya, sementara Yamal akan melanjutkan perjalanannya yang masih panjang. Respons Yamal terhadap hasil di partai puncak patut dinanti. (AP/REUTERS)