اخبار

Dua Dekade Lionel Messi dari Penantian ke Dominasi

الكاتبabdulrahman-mustafaتاريخ النشر
Dua Dekade Lionel Messi dari Penantian ke Dominasi

Final Piala Dunia 2026 menjadi panggung sarat makna bagi Lionel Messi, legenda sepak bola yang belum berhenti mengejar sejarah. Pada usia 39 tahun, ia kembali membawa Argentina ke partai puncak turnamen sepak bola terbesar dunia. Bagaimana perjalanan dua dekade Sang Messiah mengubah tim yang menanti pencapaian menjadi kekuatan dominan sepak bola?

Bayang-bayang kejayaan masa lalu hidup dalam benak timnas dan publik Argentina. Gelar Piala Dunia 1986 era Diego Maradona seolah sulit terulang kembali. Padahal, negeri itu terus menelurkan bakat-bakat terbaik sepak bola, tampil kompetitif di berbagai turnamen, bahkan acap kali mencapai partai final. Namun, gelar itu selalu lepas dari genggaman.

Sejak saat itu, performa tim nasional Argentina cenderung naik turun. ”Albiceleste” pernah kembali mencapai final 1990, tetapi harus puas sebagai peringkat kedua. Setelah itu, mereka tersingkir di babak 16 besar pada Piala Dunia 1994, mencapai babak perempat final 1998, lalu mengalami keterpurukan dengan gagal lolos dari fase grup Piala Dunia 2002.

Hingga pada tahun 2005 muncul bocah asal Rosario bernama Lionel Andres Messi, yang belum lama juga debut di tim senior Barcelona, kemudian menjalani debut senior timnas Argentina pada 17 Agustus 2005. Usianya saat itu baru menginjak 18 tahun.

Publik Argentina melihatnya sebagai sosok yang diproyeksikan menjadi penerus si ”Tangan Tuhan”, Diego Maradona, pemain eksentrik nan fenomenal dengan bakat alami yang menempatkan Argentina di takhta tertinggi dunia saat itu.

Keduanya memiliki sejumlah kemiripan, sama-sama berkaki kidal, bermain untuk Barcelona, dengan dribel dan teknik melewati lawan di atas rata-rata. Harapan kembali muncul melihat bakat yang akan mengangkat kembali martabat mereka.

Sayangnya, Messi kurang beruntung di laga pertamanya berseragam tim nasional. Messi hanya bermain selama dua menit dalam pertandingan persahabatan melawan Hongaria pada 2005. Masuk menggantikan Lisandro Lopez pada menit ke-63, ia langsung diberi kartu merah setelah menyikut pemain tengah Hongaria yang menjaganya.

Setahun kemudian, Messi tampil perdana di Piala Dunia 2006 Jerman. Ia menjadi salah satu pemain termuda dan langsung mencatatkan namanya sebagai pencetak gol termuda skuad Argentina di ajang tersebut.

Meski kontribusinya mulai terlihat, perannya masih terbatas karena Argentina masih diperkuat Juan Román Riquelme, Hernán Crespo, Javier Zanetti, dan Roberto Ayala yang tengah berada dalam performa yang  sedang moncer-moncernya di klub masing-masing.

Pada fase awal karier internasionalnya, Messi lebih banyak berperan sebagai penyerang sayap, dengan kelincahannya mengandalkan kecepatan dan kemampuan menggiring bola yang seolah tidak lepas dari kakinya. Gaya bermainnya saat itu masih sangat dipengaruhi oleh karakteristiknya di Barcelona.

infografik
Profil Lionel Messi di Timnas Argentina

Era hampir juara

Memasuki dekade 2010-an, beban di pundak Messi semakin berat. Selain telah menjadi peraih Ballon d’Or, ia juga dipercaya mengemban ban kapten. Harapan mimpi sekitar 45 juta penduduk Argentina kini bertumpu kepadanya.

Piala Dunia 2014, Messi tampil luar biasa dengan membawa Argentina hingga final, melawan Jerman di partai puncak. Sayangnya, harapan harus pupus. Gol Mario Götze pada babak tambahan memastikan kemenangan Jerman 1-0.

Kegagalan itu belum berakhir. Setahun kemudian Argentina kembali kalah dari Chile pada final Copa America 2015. Sebelumnya, pada final Copa America 2007 di Venezuela, Argentina yang juga diperkuat Messi takluk 0-3 dari Brasil.

Rangkaian hasil tersebut memunculkan berbagai kritik. Messi dinilai gagal mengulang kejayaan Maradona di level tim nasional meski di Barcelona ia telah memenangi hampir semua gelar bergengsi.

TOPSHOT - Argentina's Lionel Messi (R) is marked by Venezuela's Ronald Hernandez during their Copa America football tournament quarter-final match at Maracana Stadium in Rio de Janeiro, Brazil, on June 28, 2019.

Puncak kekecewaan setelah Argentina kembali kalah pada final Copa America Centenario 2016 di Amerika Serikat. Itu menjadi kegagalan keempat Messi di final bersama tim ”Tango”. Kapten kesebelasan Argentina itu memutuskan untuk pensiun dari tim nasional.

Keputusan itu memicu reaksi besar. Sebagian orang mencemoohnya sebagai pecundang. Namun, tidak sedikit pula yang memohon agar ia berubah pikiran. Ribuan warga Buenos Aires rela berhujan-hujan dan berdoa bersama agar Messi kembali membela negaranya.

Selama dua setengah bulan, Messi menolak semua permintaan tersebut. Presiden Asosiasi Sepak Bola Argentina Armando Perez hingga Presiden Argentina Mauricio Macri sama-sama mencoba membujuknya. Hasilnya nihil.

Perubahan baru terjadi ketika Edgardo Bauza ditunjuk sebagai Pelatih Argentina. Bauza tidak memaksa Messi segera kembali. Ia membiarkan luka itu pulih oleh waktu, sembari rutin berdiskusi dengannya. Pendekatan tersebut akhirnya membuahkan hasil. Messi memutuskan mengenakan kembali seragam Argentina.

infografik
Capaian Timnas Argentina di Piala Dunia Sejak 1978

Momentum

Empat kekalahan di partai final justru menempa mental Argentina. Titik balik itu datang pada Copa America 2021 ketika mereka mengalahkan Brasil 1-0 di Stadion Maracana.

Setelah peluit panjang berbunyi, Messi langsung berlutut di lapangan. Kedua tangannya menutupi wajah, matanya berkaca-kaca. Rekan-rekannya kemudian berlari menghampiri dan memeluk sang kapten.

Kemenangan di Rio de Janeiro itu disebut Maracanazo. Tamparan bagi Brasil di ”kuil” sepak bolanya. Tidak diunggulkan ketimbang tuan rumah, tetapi justru Argentina menjadi juara pertama kali sejak 1993.

Pelatih Lionel Scaloni menilai Messi tetap menjadi sosok paling vital meskipun usianya tidak lagi muda. Ia masih menjadi pemain terbaik sekaligus pencetak gol terbanyak Copa America 2021 dengan empat gol dan lima asis.

Gelar tersebut menjadi titik balik yang mengubah mentalitas skuad Argentina, seolah mereka dipersatukan oleh kegagalan. Tren positif terus berlanjut dengan menjuarai Finalissima dan gelar yang paling dinanti juara Piala Dunia 2022.

Lionel Messi, pemain sepak bola Argentina, mencium trofi setelah memenangkan pertandingan sepak bola final Piala Dunia antara Argentina dan Perancis di Stadion Lusail, Lusail, Qatar, Minggu (18/12/2022). Argentina menang 4-2 dalam adu penalti setelah pertandingan berakhir imbang 3 -3. (AP/Martin Meissner)

Kini, pada Piala Dunia 2026, sebagian besar pemain yang membawa Argentina menjadi juara empat tahun lalu masih dipertahankan. Scaloni tetap memercayai kerangka lama karena telah terbangun chemistry yang kuat, dengan Messi tetap menjadi pusat permainan.

Salah satu kekuatan terbesar Argentina mendominasi saat ini bukan hanya kualitas individu, melainkan mentalitas yang dibangun di sekitar Messi. Perjuangan, dedikasi, dan pengorbanan selama dua dekade untuk negaranya menjadi inspirasi pemain lain untuk terus memenangi pertandingan hingga peluit akhir berbunyi.

Argentina melaju ke final dengan catatan sempurna di fase grup. Mereka mengalahkan Aljazair 3-0, Austria 2-0, dan Jordania 3-1. Dari delapan gol yang dicetak Argentina pada fase tersebut, lima gol lahir dari kaki Messi.

Berbeda dengan babak grup, pada babak gugur rintangan cukup terjal bagi Argentina. Pertama melawan tim debutan Tanjung Verde yang merupakan tim kejutan pada turnamen ini karena belum pernah kalah di babak grup. Argentina bisa memenangi pertandingan pada babak tambahan waktu setelah dalam waktu normal skor Argentina dua kali disamakan oleh Tanjung Verde.

Namun, jalan menuju final tidak sepenuhnya mulus. Pada babak gugur, Argentina harus melewati kejutan dari Tanjung Verde yang belum pernah kalah sepanjang fase grup. Laga baru bisa dipastikan melalui babak perpanjangan waktu setelah lawan dua kali menyamakan kedudukan.

Ujian sesungguhnya datang saat menghadapi Mesir di semifinal. Dipimpin Mohamed Salah, Mesir unggul dua gol hingga menit ke-79. Dalam situasi yang tampak mustahil, Argentina justru bangkit dan mencetak tiga gol hanya dalam waktu 13 menit untuk membalikkan keadaan.

Infografik Duel Wakil Eropa vs Amerika di Babak Final Piala Dunia

Messi, Sang Pengecualian

Pada turnamen kali ini, Messi telah berusia 39 tahun. Argentina bahkan menjadi salah satu skuad tertua di Piala Dunia 2026 dengan rata-rata usia 29,2 tahun. Messi merupakan pemain tertua di antara semua peserta semifinal.

Namun, usia bukanlah batas bagi sang megabintang. Messi menggendong skuad dengan menjadi pencetak gol terbanyak, asis, umpan kunci, dribel sukses, hingga pemain terbaik pertandingan. Sebelum laga puncak nanti, Messi merupakan kandidat utama peraih Sepatu Emas dengan delapan gol dan empat asis.

Pencapaian tersebut terasa semakin istimewa karena bertolak belakang dengan tren umum sepak bola modern. Berdasarkan penelitian Seifi Dendiry dari Radford University terhadap performa pemain di empat liga top Eropa, pemain penyerang umumnya mencapai puncak performa terbaik pada usia 25–27 tahun.

Messi menjadi pengecualian. Kecerdasannya membaca permainan, mengatur ritme, dan mengelola energi membuatnya mampu bertahan di level tertinggi selama dua dekade. Warisan terbesarnya bukan hanya trofi, melainkan membangun mentalitas menjadi kekuatan yang dominan.

Argentina's Lionel Messi celebrates on the shoulders of Enzo Fernandez (24) at the end of the World Cup semifinal soccer match between England and Argentina in Atlanta, Wednesday, July 15, 2026. (AP Photo/Rebecca Blackwell)

Bayangkan jika saat dua kali menyatakan pensiun dari tim nasional, Messi benar-benar pergi. Sejarah sepak bola mungkin akan mencatat kisah yang berbeda.

Beruntung bagi Argentina dan para pencinta sepak bola, Messi memilih bertahan. Di usia yang tak lagi muda, ia justru menghadirkan magis terbesar dalam kariernya. Ia membawa Argentina meraih semua gelar yang pernah terlepas dari genggaman.

Kini, segala pencapaian yang mungkin diraih seorang pesepak bola telah direngkuh oleh Lionel Messi, tetapi menjadi juara dalam dua pergelaran Piala Dunia sekaligus menjadi prestasi lain yang tercatat dalam sejarah rekor miliknya.

Malam nanti merupakan final yang mempertemukan Argentina vs Spanyol di partai puncak. Dua tim pemenang Copa America dan Euro, tim teratas dalam peringkat FIFA. Tidak berlebihan jika dikatakan final Piala Dunia 2026 merupakan laga ideal bagi para penggemar sepak bola. (LITBANG KOMPAS)

Final Piala Dunia 2026 menjadi panggung sarat makna bagi Lionel Messi, legenda sepak bola yang belum berhenti mengejar sejarah. Pada usia 39 tahun, ia kembali membawa Argentina ke partai puncak turnamen sepak bola terbesar dunia. Bagaimana perjalanan dua dekade Sang Messiah mengubah tim yang menanti pencapaian menjadi kekuatan dominan sepak bola?

Bayang-bayang kejayaan masa lalu hidup dalam benak timnas dan publik Argentina. Gelar Piala Dunia 1986 era Diego Maradona seolah sulit terulang kembali. Padahal, negeri itu terus menelurkan bakat-bakat terbaik sepak bola, tampil kompetitif di berbagai turnamen, bahkan acap kali mencapai partai final. Namun, gelar itu selalu lepas dari genggaman.

Sejak saat itu, performa tim nasional Argentina cenderung naik turun. ”Albiceleste” pernah kembali mencapai final 1990, tetapi harus puas sebagai peringkat kedua. Setelah itu, mereka tersingkir di babak 16 besar pada Piala Dunia 1994, mencapai babak perempat final 1998, lalu mengalami keterpurukan dengan gagal lolos dari fase grup Piala Dunia 2002.

Hingga pada tahun 2005 muncul bocah asal Rosario bernama Lionel Andres Messi, yang belum lama juga debut di tim senior Barcelona, kemudian menjalani debut senior timnas Argentina pada 17 Agustus 2005. Usianya saat itu baru menginjak 18 tahun.

Football Soccer - Argentina v Chile - World Cup 2018 Qualifiers - Antonio Liberti Stadium, Buenos Aires, Argentina - 23/3/17 - Argentina's Lionel Messi reacts after scoring a penalty goal. REUTERS/Alberto Raggio EDITORIAL USE ONLY. NO RESALES. NO ARCHIVE

Publik Argentina melihatnya sebagai sosok yang diproyeksikan menjadi penerus si ”Tangan Tuhan”, Diego Maradona, pemain eksentrik nan fenomenal dengan bakat alami yang menempatkan Argentina di takhta tertinggi dunia saat itu.

Keduanya memiliki sejumlah kemiripan, sama-sama berkaki kidal, bermain untuk Barcelona, dengan dribel dan teknik melewati lawan di atas rata-rata. Harapan kembali muncul melihat bakat yang akan mengangkat kembali martabat mereka.

Sayangnya, Messi kurang beruntung di laga pertamanya berseragam tim nasional. Messi hanya bermain selama dua menit dalam pertandingan persahabatan melawan Hongaria pada 2005. Masuk menggantikan Lisandro Lopez pada menit ke-63, ia langsung diberi kartu merah setelah menyikut pemain tengah Hongaria yang menjaganya.

Setahun kemudian, Messi tampil perdana di Piala Dunia 2006 Jerman. Ia menjadi salah satu pemain termuda dan langsung mencatatkan namanya sebagai pencetak gol termuda skuad Argentina di ajang tersebut.

Meski kontribusinya mulai terlihat, perannya masih terbatas karena Argentina masih diperkuat Juan Román Riquelme, Hernán Crespo, Javier Zanetti, dan Roberto Ayala yang tengah berada dalam performa yang  sedang moncer-moncernya di klub masing-masing.

Pada fase awal karier internasionalnya, Messi lebih banyak berperan sebagai penyerang sayap, dengan kelincahannya mengandalkan kecepatan dan kemampuan menggiring bola yang seolah tidak lepas dari kakinya. Gaya bermainnya saat itu masih sangat dipengaruhi oleh karakteristiknya di Barcelona.

infografik
Profil Lionel Messi di Timnas Argentina

Era hampir juara

Memasuki dekade 2010-an, beban di pundak Messi semakin berat. Selain telah menjadi peraih Ballon d’Or, ia juga dipercaya mengemban ban kapten. Harapan mimpi sekitar 45 juta penduduk Argentina kini bertumpu kepadanya.

Piala Dunia 2014, Messi tampil luar biasa dengan membawa Argentina hingga final, melawan Jerman di partai puncak. Sayangnya, harapan harus pupus. Gol Mario Götze pada babak tambahan memastikan kemenangan Jerman 1-0.

Kegagalan itu belum berakhir. Setahun kemudian Argentina kembali kalah dari Chile pada final Copa America 2015. Sebelumnya, pada final Copa America 2007 di Venezuela, Argentina yang juga diperkuat Messi takluk 0-3 dari Brasil.

Rangkaian hasil tersebut memunculkan berbagai kritik. Messi dinilai gagal mengulang kejayaan Maradona di level tim nasional meski di Barcelona ia telah memenangi hampir semua gelar bergengsi.

TOPSHOT - Argentina's Lionel Messi (R) is marked by Venezuela's Ronald Hernandez during their Copa America football tournament quarter-final match at Maracana Stadium in Rio de Janeiro, Brazil, on June 28, 2019.

Puncak kekecewaan setelah Argentina kembali kalah pada final Copa America Centenario 2016 di Amerika Serikat. Itu menjadi kegagalan keempat Messi di final bersama tim ”Tango”. Kapten kesebelasan Argentina itu memutuskan untuk pensiun dari tim nasional.

Keputusan itu memicu reaksi besar. Sebagian orang mencemoohnya sebagai pecundang. Namun, tidak sedikit pula yang memohon agar ia berubah pikiran. Ribuan warga Buenos Aires rela berhujan-hujan dan berdoa bersama agar Messi kembali membela negaranya.

Selama dua setengah bulan, Messi menolak semua permintaan tersebut. Presiden Asosiasi Sepak Bola Argentina Armando Perez hingga Presiden Argentina Mauricio Macri sama-sama mencoba membujuknya. Hasilnya nihil.

Perubahan baru terjadi ketika Edgardo Bauza ditunjuk sebagai Pelatih Argentina. Bauza tidak memaksa Messi segera kembali. Ia membiarkan luka itu pulih oleh waktu, sembari rutin berdiskusi dengannya. Pendekatan tersebut akhirnya membuahkan hasil. Messi memutuskan mengenakan kembali seragam Argentina.

infografik
Capaian Timnas Argentina di Piala Dunia Sejak 1978

Momentum

Empat kekalahan di partai final justru menempa mental Argentina. Titik balik itu datang pada Copa America 2021 ketika mereka mengalahkan Brasil 1-0 di Stadion Maracana.

Setelah peluit panjang berbunyi, Messi langsung berlutut di lapangan. Kedua tangannya menutupi wajah, matanya berkaca-kaca. Rekan-rekannya kemudian berlari menghampiri dan memeluk sang kapten.

Kemenangan di Rio de Janeiro itu disebut Maracanazo. Tamparan bagi Brasil di ”kuil” sepak bolanya. Tidak diunggulkan ketimbang tuan rumah, tetapi justru Argentina menjadi juara pertama kali sejak 1993.

Pelatih Lionel Scaloni menilai Messi tetap menjadi sosok paling vital meskipun usianya tidak lagi muda. Ia masih menjadi pemain terbaik sekaligus pencetak gol terbanyak Copa America 2021 dengan empat gol dan lima asis.

Gelar tersebut menjadi titik balik yang mengubah mentalitas skuad Argentina, seolah mereka dipersatukan oleh kegagalan. Tren positif terus berlanjut dengan menjuarai Finalissima dan gelar yang paling dinanti juara Piala Dunia 2022.

Lionel Messi, pemain sepak bola Argentina, mencium trofi setelah memenangkan pertandingan sepak bola final Piala Dunia antara Argentina dan Perancis di Stadion Lusail, Lusail, Qatar, Minggu (18/12/2022). Argentina menang 4-2 dalam adu penalti setelah pertandingan berakhir imbang 3 -3. (AP/Martin Meissner)

Kini, pada Piala Dunia 2026, sebagian besar pemain yang membawa Argentina menjadi juara empat tahun lalu masih dipertahankan. Scaloni tetap memercayai kerangka lama karena telah terbangun chemistry yang kuat, dengan Messi tetap menjadi pusat permainan.

Salah satu kekuatan terbesar Argentina mendominasi saat ini bukan hanya kualitas individu, melainkan mentalitas yang dibangun di sekitar Messi. Perjuangan, dedikasi, dan pengorbanan selama dua dekade untuk negaranya menjadi inspirasi pemain lain untuk terus memenangi pertandingan hingga peluit akhir berbunyi.

Argentina melaju ke final dengan catatan sempurna di fase grup. Mereka mengalahkan Aljazair 3-0, Austria 2-0, dan Jordania 3-1. Dari delapan gol yang dicetak Argentina pada fase tersebut, lima gol lahir dari kaki Messi.

Berbeda dengan babak grup, pada babak gugur rintangan cukup terjal bagi Argentina. Pertama melawan tim debutan Tanjung Verde yang merupakan tim kejutan pada turnamen ini karena belum pernah kalah di babak grup. Argentina bisa memenangi pertandingan pada babak tambahan waktu setelah dalam waktu normal skor Argentina dua kali disamakan oleh Tanjung Verde.

Namun, jalan menuju final tidak sepenuhnya mulus. Pada babak gugur, Argentina harus melewati kejutan dari Tanjung Verde yang belum pernah kalah sepanjang fase grup. Laga baru bisa dipastikan melalui babak perpanjangan waktu setelah lawan dua kali menyamakan kedudukan.

Ujian sesungguhnya datang saat menghadapi Mesir di semifinal. Dipimpin Mohamed Salah, Mesir unggul dua gol hingga menit ke-79. Dalam situasi yang tampak mustahil, Argentina justru bangkit dan mencetak tiga gol hanya dalam waktu 13 menit untuk membalikkan keadaan.

Infografik Duel Wakil Eropa vs Amerika di Babak Final Piala Dunia

Messi, Sang Pengecualian

Pada turnamen kali ini, Messi telah berusia 39 tahun. Argentina bahkan menjadi salah satu skuad tertua di Piala Dunia 2026 dengan rata-rata usia 29,2 tahun. Messi merupakan pemain tertua di antara semua peserta semifinal.

Namun, usia bukanlah batas bagi sang megabintang. Messi menggendong skuad dengan menjadi pencetak gol terbanyak, asis, umpan kunci, dribel sukses, hingga pemain terbaik pertandingan. Sebelum laga puncak nanti, Messi merupakan kandidat utama peraih Sepatu Emas dengan delapan gol dan empat asis.

Pencapaian tersebut terasa semakin istimewa karena bertolak belakang dengan tren umum sepak bola modern. Berdasarkan penelitian Seifi Dendiry dari Radford University terhadap performa pemain di empat liga top Eropa, pemain penyerang umumnya mencapai puncak performa terbaik pada usia 25–27 tahun.

Messi menjadi pengecualian. Kecerdasannya membaca permainan, mengatur ritme, dan mengelola energi membuatnya mampu bertahan di level tertinggi selama dua dekade. Warisan terbesarnya bukan hanya trofi, melainkan membangun mentalitas menjadi kekuatan yang dominan.

Argentina's Lionel Messi celebrates on the shoulders of Enzo Fernandez (24) at the end of the World Cup semifinal soccer match between England and Argentina in Atlanta, Wednesday, July 15, 2026. (AP Photo/Rebecca Blackwell)

Bayangkan jika saat dua kali menyatakan pensiun dari tim nasional, Messi benar-benar pergi. Sejarah sepak bola mungkin akan mencatat kisah yang berbeda.

Beruntung bagi Argentina dan para pencinta sepak bola, Messi memilih bertahan. Di usia yang tak lagi muda, ia justru menghadirkan magis terbesar dalam kariernya. Ia membawa Argentina meraih semua gelar yang pernah terlepas dari genggaman.

Kini, segala pencapaian yang mungkin diraih seorang pesepak bola telah direngkuh oleh Lionel Messi, tetapi menjadi juara dalam dua pergelaran Piala Dunia sekaligus menjadi prestasi lain yang tercatat dalam sejarah rekor miliknya.

Malam nanti merupakan final yang mempertemukan Argentina vs Spanyol di partai puncak. Dua tim pemenang Copa America dan Euro, tim teratas dalam peringkat FIFA. Tidak berlebihan jika dikatakan final Piala Dunia 2026 merupakan laga ideal bagi para penggemar sepak bola. (LITBANG KOMPAS)

Baca JugaMisi Spanyol Membungkam Messi