DUBAI, SABTU – Sudah tujuh hari, pertempuran terbaru antara Amerika Serikat dan Iran belum menunjukkan tanda-tanda selesai. Selain menyasar kapal di Selat Hormuz, Iran kembali menyerang target di negara-negara Teluk. Sementara AS mengincar berbagai infrastruktur di Iran.
Pada Sabtu (18/7/2026), Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan, dua kapal tanker minyak meledak dan terbakar di Selat Hormuz. Kedua kapal itu menabrak ranjau laut.
“Satu jam yang lalu, dua kapal tanker minyak, yang mencoba melewati ladang ranjau di selatan Selat Hormuz, meledak dan terbakar,” kata IRGC dalam pernyataan yang diterbitkan oleh kantor berita resmi Iran, IRNA.
IRGC tidak menyebutkan nama kapal tanker yang menabrak ranjau dan meledak. “Untuk melindungi modal mereka dan, yang lebih penting, nyawa mereka, para pelaut tidak boleh tertipu dan memasuki ladang ranjau,” kata IRGC.
Komando Tengah AS (Centcom) membantah klaim IRGC dan menyebut pernyataan mereka salah. Centcom menyebutkan, serangan malam ketujuh berturut-turut telah menghantam situs pengawasan, infrastruktur logistik militer, penyimpanan senjata bawah tanah, dan kemampuan maritim Iran.
Selain dua kapal tanker yang meledak, IRGC menyatakan telah menghentikan empat kapal yang mencoba melintasi Selat Hormuz. “Dalam beberapa jam terakhir, empat kapal pelanggar dengan dukungan tentara AS mencoba melewati Selat Hormuz. Keempat kapal itu dihentikan di tempat selama operasi gabungan rudal dan drone,” sebut pernyataan IRGC yang disiarkan stasiun televisi pemerintah.
Tindakan Iran tersebut merupakan bagian dari upayanya untuk mengendalikan Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi pengiriman seperlima energi dunia itu. Iran kembali menutup Selat Hormuz selama seminggu terakhir.
Iran memperingatkan kapal tanker dan kapal kargo agar hanya menggunakan jalur yang dekat dengan garis pantai Iran, di utara Selat Hormuz. Iran memperingatkan kapal-kapal untuk tidak melewati koridor selatan, jalur yang ditetapkan AS untuk dilindungi.
Namun, gangguan pelayaran tidak hanya terjadi di Selat Hormuz. Kelompok Houthi menyita kapal lain di lepas pantai Yaman. Gangguan ini meningkatkan kekhawatiran tentang keamanan pelayaran di kawasan penting lain di Timur Tengah untuk pengiriman minyak, khususnya melalui muara Laut Merah.
Sebagai tanggapan atas kembali ditutupnya Selat Hormuz, AS memberlakukan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Blokade dimaksudkan supaya Iran tidak bisa mengirim minyak.
Televisi pemerintah Iran mengutip pernyataan IRGC melaporkan, sampai agresi AS berakhir, tidak mungkin untuk mengekspor pupuk kimia atau ”setetes pun minyak dan gas” dari wilayah Teluk. Konflik terbaru ini kembali memutus pasokan energi dari Teluk. Krisis energi global kembali mengintai.

Target infrastruktur
Selain blokade, AS meluncurkan serangan udara setiap malam terhadap target di Iran dengan sasaran infrastruktur sipil. Serangan ini bertujuan untuk melemahkan kemampuan Teheran untuk memantau dan mengancam selat tersebut.
Baik AS maupun Iran saling menargetkan infrastruktur. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan keprihatinan atas eskalasi serangan yang menargetkan infrastruktur sipil di Iran dan di kawasan.
Media Pemerintah Iran sebelumnya melaporkan, setidaknya lima jembatan dihantam di selatan Iran dalam serangan AS pada Jumat. Tujuh orang dilaporkan tewas dalam serangan terhadap jembatan di pelabuhan di selatan Bandar Khamir.
Stasiun kereta api dilaporkan terkena serangan. Sebuah bandara di provinsi yang berbatasan dengan Pakistan turut dilaporkan terkena serangan.
Pada Sabtu pagi, serangan AS mengenai Provinsi Hormozgan di pesisir Selat Hormuz, sisi Iran. Televisi pemerintah menyebutkan, tiga orang tewas dan delapan luka-luka, sementara dua jembatan dan sebuah terowongan jalan rusak.
IRNA, melaporkan, lima ledakan terdengar pada Sabtu dini hari di Yazd, Iran tengah. Kantor berita Iran lainnya, Mehr, melaporkan, ledakan terdengar di beberapa provinsi di selatan Iran, seperti Sirik dan Ahvaz.

Iran membalas serangan dengan mengumumkan serangan terhadap sebuah kapal AS di Samudra Hindia bagian utara. Iran juga menyerang negara-negara Teluk yang menjadi pangkalan udara AS, di antaranya Bahrain, Qatar, dan Kuwait.
IRGC mengatakan, mereka menyerang depot drone AS di Bahrain dan menghancurkan pusat kecerdasan buatan utama Bahrain dengan rudal balistik dan drone.
Kuwait, Sabtu, menyatakan telah mencegat rudal dan drone Iran. Serangan Iran mengenai salah satu pembangkit listrik dan stasiun desalinasi air. Menurut otoritas Kuwait, serangan menyebabkan kerusakan, kebakaran, dan gangguan pada sejumlah besar unit pembangkit listrik.
Sementara Irak menembak jatuh drone serang di atas Kota Irbil. Kantor berita Petra milik Pemerintah Jordania melaporkan, sitem pertahanan udara negara itu menembak jatuh rudal Iran. Sirene udara berbunyi di Bahrain.
Mohsen Rezaei, penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, pada Jumat mengeluarkan peringatan terkait eskalasi AS atau upaya apa pun untuk merebut wilayah Iran. “Jika serangan AS berlanjut selama beberapa hari lagi, kita akan memasuki fase operasi ofensif skala penuh,” kata Rezaei, mantan komandan tertinggi IRGC, kepada televisi pemerintah.
Eskalasi terbaru ini, menurut pelacak pengiriman internasional, menyebabkan lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz turun ke level terendah dalam tiga minggu terakhir. Hal ini sudah menyebabkan harga minyak melonjak.
Harga minyak mentah Brent acuan pada Jumat naik 3 persen, menjadi di atas 86 dolar AS per barel. Ini kenaikan harga mingguan ketiga berturut-turut.
Bagi Iran, kenaikan harga minyak memberi Iran pengaruh signifikan dalam negosiasi. Bagi Presiden AS Donald Trump, kenaikan harga memberikan tekanan politik menjelang pemilu sela pada November mendatang. (AP/AFP/REUTERS)
DUBAI, SABTU – Sudah tujuh hari, pertempuran terbaru antara Amerika Serikat dan Iran belum menunjukkan tanda-tanda selesai. Selain menyasar kapal di Selat Hormuz, Iran kembali menyerang target di negara-negara Teluk. Sementara AS mengincar berbagai infrastruktur di Iran.
Pada Sabtu (18/7/2026), Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan, dua kapal tanker minyak meledak dan terbakar di Selat Hormuz. Kedua kapal itu menabrak ranjau laut.
“Satu jam yang lalu, dua kapal tanker minyak, yang mencoba melewati ladang ranjau di selatan Selat Hormuz, meledak dan terbakar,” kata IRGC dalam pernyataan yang diterbitkan oleh kantor berita resmi Iran, IRNA.
Baca JugaTekan Teheran, AS Serang Infrastruktur Iran
IRGC tidak menyebutkan nama kapal tanker yang menabrak ranjau dan meledak. “Untuk melindungi modal mereka dan, yang lebih penting, nyawa mereka, para pelaut tidak boleh tertipu dan memasuki ladang ranjau,” kata IRGC.
Komando Tengah AS (Centcom) membantah klaim IRGC dan menyebut pernyataan mereka salah. Centcom menyebutkan, serangan malam ketujuh berturut-turut telah menghantam situs pengawasan, infrastruktur logistik militer, penyimpanan senjata bawah tanah, dan kemampuan maritim Iran.

Selain dua kapal tanker yang meledak, IRGC menyatakan telah menghentikan empat kapal yang mencoba melintasi Selat Hormuz. “Dalam beberapa jam terakhir, empat kapal pelanggar dengan dukungan tentara AS mencoba melewati Selat Hormuz. Keempat kapal itu dihentikan di tempat selama operasi gabungan rudal dan drone,” sebut pernyataan IRGC yang disiarkan stasiun televisi pemerintah.
Tindakan Iran tersebut merupakan bagian dari upayanya untuk mengendalikan Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi pengiriman seperlima energi dunia itu. Iran kembali menutup Selat Hormuz selama seminggu terakhir.
Baca JugaSelat Hormuz Memanas, Harga Minyak Melonjak
Iran memperingatkan kapal tanker dan kapal kargo agar hanya menggunakan jalur yang dekat dengan garis pantai Iran, di utara Selat Hormuz. Iran memperingatkan kapal-kapal untuk tidak melewati koridor selatan, jalur yang ditetapkan AS untuk dilindungi.
Namun, gangguan pelayaran tidak hanya terjadi di Selat Hormuz. Kelompok Houthi menyita kapal lain di lepas pantai Yaman. Gangguan ini meningkatkan kekhawatiran tentang keamanan pelayaran di kawasan penting lain di Timur Tengah untuk pengiriman minyak, khususnya melalui muara Laut Merah.
Sebagai tanggapan atas kembali ditutupnya Selat Hormuz, AS memberlakukan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Blokade dimaksudkan supaya Iran tidak bisa mengirim minyak.
Televisi pemerintah Iran mengutip pernyataan IRGC melaporkan, sampai agresi AS berakhir, tidak mungkin untuk mengekspor pupuk kimia atau ”setetes pun minyak dan gas” dari wilayah Teluk. Konflik terbaru ini kembali memutus pasokan energi dari Teluk. Krisis energi global kembali mengintai.

Target infrastruktur
Selain blokade, AS meluncurkan serangan udara setiap malam terhadap target di Iran dengan sasaran infrastruktur sipil. Serangan ini bertujuan untuk melemahkan kemampuan Teheran untuk memantau dan mengancam selat tersebut.
Baik AS maupun Iran saling menargetkan infrastruktur. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan keprihatinan atas eskalasi serangan yang menargetkan infrastruktur sipil di Iran dan di kawasan.
Baca JugaIran-AS Berebut Kendali Selat Hormuz
Media Pemerintah Iran sebelumnya melaporkan, setidaknya lima jembatan dihantam di selatan Iran dalam serangan AS pada Jumat. Tujuh orang dilaporkan tewas dalam serangan terhadap jembatan di pelabuhan di selatan Bandar Khamir.
Stasiun kereta api dilaporkan terkena serangan. Sebuah bandara di provinsi yang berbatasan dengan Pakistan turut dilaporkan terkena serangan.
Pada Sabtu pagi, serangan AS mengenai Provinsi Hormozgan di pesisir Selat Hormuz, sisi Iran. Televisi pemerintah menyebutkan, tiga orang tewas dan delapan luka-luka, sementara dua jembatan dan sebuah terowongan jalan rusak.
IRNA, melaporkan, lima ledakan terdengar pada Sabtu dini hari di Yazd, Iran tengah. Kantor berita Iran lainnya, Mehr, melaporkan, ledakan terdengar di beberapa provinsi di selatan Iran, seperti Sirik dan Ahvaz.

Iran membalas serangan dengan mengumumkan serangan terhadap sebuah kapal AS di Samudra Hindia bagian utara. Iran juga menyerang negara-negara Teluk yang menjadi pangkalan udara AS, di antaranya Bahrain, Qatar, dan Kuwait.
IRGC mengatakan, mereka menyerang depot drone AS di Bahrain dan menghancurkan pusat kecerdasan buatan utama Bahrain dengan rudal balistik dan drone.
Kuwait, Sabtu, menyatakan telah mencegat rudal dan drone Iran. Serangan Iran mengenai salah satu pembangkit listrik dan stasiun desalinasi air. Menurut otoritas Kuwait, serangan menyebabkan kerusakan, kebakaran, dan gangguan pada sejumlah besar unit pembangkit listrik.
Sementara Irak menembak jatuh drone serang di atas Kota Irbil. Kantor berita Petra milik Pemerintah Jordania melaporkan, sitem pertahanan udara negara itu menembak jatuh rudal Iran. Sirene udara berbunyi di Bahrain.
Baca JugaIran Ancam Hentikan Semua Ekspor Energi dari Timur Tengah
Mohsen Rezaei, penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, pada Jumat mengeluarkan peringatan terkait eskalasi AS atau upaya apa pun untuk merebut wilayah Iran. “Jika serangan AS berlanjut selama beberapa hari lagi, kita akan memasuki fase operasi ofensif skala penuh,” kata Rezaei, mantan komandan tertinggi IRGC, kepada televisi pemerintah.
Eskalasi terbaru ini, menurut pelacak pengiriman internasional, menyebabkan lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz turun ke level terendah dalam tiga minggu terakhir. Hal ini sudah menyebabkan harga minyak melonjak.
Harga minyak mentah Brent acuan pada Jumat naik 3 persen, menjadi di atas 86 dolar AS per barel. Ini kenaikan harga mingguan ketiga berturut-turut.
Bagi Iran, kenaikan harga minyak memberi Iran pengaruh signifikan dalam negosiasi. Bagi Presiden AS Donald Trump, kenaikan harga memberikan tekanan politik menjelang pemilu sela pada November mendatang. (AP/AFP/REUTERS)