اخبار

Racikan Kue Mini yang Tak Biasa

الكاتبabdulrahman-mustafaتاريخ النشر
Racikan Kue Mini yang Tak Biasa

Sepotong kue dalam ukuran mini memungkinkan kita untuk mengeksplorasi beragam jenis yang disajikan dalam satu piring. Di tangan Chef Louis Tanuhadi, kue mini itu dipadukan dengan unsur nostalgia dan kelokalan yang bisa diterima lidah. Tampilannya yang imut memicu lapar mata karena penasaran sejak pandangan pertama. Ah, mari berpetualang menyelaminya….

Bandung menjadi titik pertama untuk mencicipi eksplorasi resep pastri mini karya Chef Louis Tanuhadi, seorang Director and Executive Chef di Academy of Pastry and Culinary Arts (APCA) Indonesia sekaligus President Indonesian Pastry Bakery Society. Pengalaman dan kepiawaian Chef Louis dalam dunia pastri membuat perjalanan kami dari Jakarta menuju Bandung begitu menggebu. Sangat antusias.

Chef Louis Tanuhadi dalam wawancara dengan media di acara Indomilk F&B Solution bertema "The Art of Curated Bite-Sized Pastries x Coffe Pairing" di Hotel Indigo, Dago Pakar, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu (13/6/2026). 

KOMPAS/AGUS SUSANTO
13-6-2026

Pemilihan Bandung sebagai daerah pertama kolaborasi Chef Louis dan Indomilk FnB Solutions bertema “The Art of Curated Bite-Sized Pastries x Coffee Pairing”, boleh dibilang cukup jitu. Ini mengingat sejumlah inovasi tren dan kreativitas produk bermunculan dari sana. Ah, rupanya ini juga yang menginspirasi Chef Louis untuk menyisipkan cita rasa lokal ke dalam beberapa kreasinya dengan menggunakan beragam produk susu dan mentega (butter) dari jenama Indomilk.

Chef Louis menyebut kue berukuran mini itu petit four atau mignardise yang bermakna mungil atau imut. Biasanya kue mini itu disajikan sebagai makanan penutup atau manisan dengan minuman pendamping. Kali ini, kue mini racikan Chef Louis akan berdampingan dengan Sun Kiss Creamy Coffee dari Nacha Coffee.

”Kue-kue kecil bisa dinikmati secara nyaman dengan kopi. Kalau makan satu kroisan sudah pasti kenyang, tetapi kalau dibikin satu piring dengan bermacam jenis kue dengan tekstur, rasa, dan aroma terasa lebih bervariasi,” ucap Chef Louis di Hotel Indigo Bandung, Jawa Barat, Sabtu (13/6/2026).

Menu sun kiss creamy coffe buatan Natanael Charis dari Nacha Coffee disajikan dalam Indomilk F&B Solution bertema "The Art of Curated Bite-Sized Pastries x Coffe Pairing" di Hotel Indigo, Dago Pakar, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu (13/6/2026). 

KOMPAS/AGUS SUSANTO
13-6-2026

Sore itu, kami disuguhi sebuah platter atau nampan berisi Lemon Raspberry Madelaines, Moringa Gluten-Free Financier, Orange Cacao Spice Bread, Chocolate Sablé Cookie Caramel, dan Tiramichoux. Warna gelap pada platter itu membuat setiap elemen tampil intens dan menonjol. Tak monoton. Ada coklat gelap, coklat muda, kekuningan, hingga hijau. Ada rasa manis, pahit, gurih, hingga asam yang tampil di panggung piring.

Aroma kopi dari Tiramichoux menyapa kami duluan. Kue sekali suap alias bite size memang terasa lebih pas jika disuapkan langsung pakai tangan sehingga kami tak membutuhkan bantuan alat makan. Setelah memasukkannya ke dalam mulut, kita niscaya akan terkesan dengan sensasi yang dihasilkan.

Wah, Chef Louis begitu brilian memadukan choux dan tiramisu dalam satu gigitan. Siapa sangka kulit choux yang biasanya kaku terasa membaur lembut dengan isian mascarpone cream atau krim keju yang langsung meleleh di mulut. Ini mengingatkan pada hidangan penutup klasik asal Perancis, profiteroles, dengan es krim di dalamnya. Nyess….

Menu lemon raspberry madelaines, moringa gluten-free financier, orange cacao spice bread, tiramichoux, dan chocolate sable cookie caramel buatan chef Louis Tanuhadi disajikan dalam Indomilk F&B Solution bertema "The Art of Curated Bite-Sized Pastries x Coffe Pairing" di Hotel Indigo, Dago Pakar, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu (13/6/2026). 

KOMPAS/AGUS SUSANTO
13-6-2026

Setelah kopi, saatnya aroma jeruk, kayu manis, dan cokelat tampil dalam Orange Cacao Spice Bread. Uniknya, Chef Louis tidak menambahkan gula, tetapi madu ke dalamnya. Pantas saja, tekstur kue ini terasa lebih lembap dan ada aroma floral khas madu.

Biasanya kue yang diberi lapisan dark chocolate berpotensi menutupi rasa rempah yang dimiliki kue. Namun, tidak dengan racikan ini. Justru komposisi yang tepat akan membuat keduanya tampil bergantian. Maksudnya, di awal gigitan, kita bisa merasakan rasa cokelat lebih dominan, kemudian pada akhir barulah muncul lapisan rasa kayu manis dan cengkeh. Ini akan berbeda ceritanya jika penambahannya kurang seimbang, rasanya jadi tidak jelas.

”Ini seperti kue kuno zaman dahulu. Saya menggunakan buah asli, yakni bagian kulit jeruk yang dibikin manisan. Kemudian dihaluskan dan dicampurkan dengan susu yang sudah dimasak dan didiamkan dengan kayu manis selama beberapa jam,” ucapnya.

Menu lemon raspberry madelaines, moringa gluten-free financier, orange cacao spice bread, tiramichoux, dan chocolate sable cookie caramel buatan chef Louis Tanuhadi disajikan dalam Indomilk F&B Solution bertema "The Art of Curated Bite-Sized Pastries x Coffe Pairing" di Hotel Indigo, Dago Pakar, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu (13/6/2026). 

KOMPAS/AGUS SUSANTO
13-6-2026

Rasa klasik masih dipertahankan juga dalam Chocolate Sablé Cookie Caramel. Kue ini terbuat dari sablé (kukis klasik dari Perancis) yang menggunakan cokelat. Di dalamnya tersembunyi coffee ganache atau glasir kopi yang lembut dan agak pahit. Sentuhan caramel buttercream atau krim mentega karamel di atasnya menyeimbangkan karakter kopi sehingga bukan pahit yang mengganggu.

Unsur lokal

Jika melihat warna hijau pada kue, biasanya kita buru-buru menduga itu rasa matcha atau pandan. Namun, yang ini berbeda. Warna hijau pada kue Moringa Gluten-Free Financier justru menggunakan daun kelor. Meski hanya menggunakan maizena, tekstur financier terasa padat sekaligus lembab. Hanya saja, lidah ini butuh penyesuaian dengan rasa dan aroma langu yang mungkin berasal dari kelor. Oh, belum terbiasa saja.…

Inspirasi bahan lokal lainnya terlihat pada sajian Quiche Soto Ayam. Sebenarnya agak kaget saat melihat tampilan konsep pai gurih asal Perancis itu menjadi versi bulat, imut, dan berwarna kuning terang. Dari segi rasa, Quiche Soto Ayam tetap mempertahankan karakter gurih dan berkrim. Aroma soto ayamnya lumayan kuat.

Menu quiche soto ayam dan bandrek eclair buatan chef Louis Tanuhadi disajikan dalam Indomilk F&B Solution bertema "The Art of Curated Bite-Sized Pastries x Coffe Pairing" di Hotel Indigo, Dago Pakar, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu (13/6/2026). 

KOMPAS/AGUS SUSANTO
13-6-2026

”Quiche yang ini berbeda dari biasanya, yakni disusun dari kulit pai yang diberi isian, lalu dipanggang. Kalau ini, kulit pai-nya dipanggang dulu, lalu isiannya saya panggang dengan cetakan silikon. Setelah matang, saya bungkuskan, tinggal dilepas,” ucap Chef Louis.  

Saat melumatnya, konsentrasi tersedot ke rongga mulut. Kami seperti sedang mengunyah seluruh elemen soto. Ada suwiran daging ayam, irisan kubis, daun bawang, dan taburan bihun di atasnya. Bagian fondasi quiche diberi potongan kukis sablé yang teksturnya menjelma seperti elemen kerupuk, si pendamping makan soto.

Dengan demikian, soto tak lagi harus dimakan saat kuahnya masih hangat, tetapi saat dinginpun tetap nikmat. Sungguh pengalaman lidah yang unik. Siapa sangka kuliner lokal yang diolah dengan teknik Prancis ternyata menghasilkan rasa yang nikmat.

Chef Louis Tanuhadi (kanan) dan chef Sydney De Hart dalam wawancara dengan media di acara Indomilk F&B Solution bertema "The Art of Curated Bite-Sized Pastries x Coffe Pairing" di Hotel Indigo, Dago Pakar, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu (13/6/2026). 

KOMPAS/AGUS SUSANTO
13-6-2026
Menu tahu brulee Bandung buatan chef Sydney De Hart disajikan dalam Indomilk F&B Solution bertema "The Art of Curated Bite-Sized Pastries x Coffe Pairing" di Hotel Indigo, Dago Pakar, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu (13/6/2026). 

KOMPAS/AGUS SUSANTO
13-6-2026

Selain Chef Louis, Executive Chef & B Hotel Indigo Bandung Sydney de Hart juga meracik dua hidangan yang terinspirasi dari kuliner lokal, yakni Creamy Jagung Bakar Soup dan Tahu Brulee Bandung.

Chef Sydney begitu piawai meracik elemen kedelai menjadi brulee yang lembut. Jika tidak disebut di awal kalau ini berbahan itu, kami mungkin akan tetap mengiranya custard. Teksturnya benar-benar lembut. Wangi karamelnya pun harum, tak ada sedikit pun aroma langu khas kedelai. Ringan dan tidak bikin enek.

Selesai sudah petualangan rasa kue mini di sini. Menikmati kue-kue di atas meninggalkan kesan yang tertinggal lama. Proses kreatif di baliknya mungkin jauh dari sederhana, tetapi biarkan saja itu menjadi rahasia dapur. Semua kudapan itu terasa pas ditemani segelas Sun Kiss Creamy Coffee dari Nacha Coffee yang menyegarkan.

 

Sepotong kue dalam ukuran mini memungkinkan kita untuk mengeksplorasi beragam jenis yang disajikan dalam satu piring. Di tangan Chef Louis Tanuhadi, kue mini itu dipadukan dengan unsur nostalgia dan kelokalan yang bisa diterima lidah. Tampilannya yang imut memicu lapar mata karena penasaran sejak pandangan pertama. Ah, mari berpetualang menyelaminya….

Bandung menjadi titik pertama untuk mencicipi eksplorasi resep pastri mini karya Chef Louis Tanuhadi, seorang Director and Executive Chef di Academy of Pastry and Culinary Arts (APCA) Indonesia sekaligus President Indonesian Pastry Bakery Society. Pengalaman dan kepiawaian Chef Louis dalam dunia pastri membuat perjalanan kami dari Jakarta menuju Bandung begitu menggebu. Sangat antusias.

Chef Louis Tanuhadi dalam wawancara dengan media di acara Indomilk F&B Solution bertema "The Art of Curated Bite-Sized Pastries x Coffe Pairing" di Hotel Indigo, Dago Pakar, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu (13/6/2026). 

KOMPAS/AGUS SUSANTO
13-6-2026
Chef Louis Tanuhadi dalam wawancara dengan media di acara Indomilk F&B Solution bertema "The Art of Curated Bite-Sized Pastries x Coffe Pairing" di Hotel Indigo, Dago Pakar, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu (13/6/2026). 

KOMPAS/AGUS SUSANTO
13-6-2026

Pemilihan Bandung sebagai daerah pertama kolaborasi Chef Louis dan Indomilk FnB Solutions bertema “The Art of Curated Bite-Sized Pastries x Coffee Pairing”, boleh dibilang cukup jitu. Ini mengingat sejumlah inovasi tren dan kreativitas produk bermunculan dari sana. Ah, rupanya ini juga yang menginspirasi Chef Louis untuk menyisipkan cita rasa lokal ke dalam beberapa kreasinya dengan menggunakan beragam produk susu dan mentega (butter) dari jenama Indomilk.

Chef Louis menyebut kue berukuran mini itu petit four atau mignardise yang bermakna mungil atau imut. Biasanya kue mini itu disajikan sebagai makanan penutup atau manisan dengan minuman pendamping. Kali ini, kue mini racikan Chef Louis akan berdampingan dengan Sun Kiss Creamy Coffee dari Nacha Coffee.

”Kue-kue kecil bisa dinikmati secara nyaman dengan kopi. Kalau makan satu kroisan sudah pasti kenyang, tetapi kalau dibikin satu piring dengan bermacam jenis kue dengan tekstur, rasa, dan aroma terasa lebih bervariasi,” ucap Chef Louis di Hotel Indigo Bandung, Jawa Barat, Sabtu (13/6/2026).

Menu sun kiss creamy coffe buatan Natanael Charis dari Nacha Coffee disajikan dalam Indomilk F&B Solution bertema "The Art of Curated Bite-Sized Pastries x Coffe Pairing" di Hotel Indigo, Dago Pakar, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu (13/6/2026). 

KOMPAS/AGUS SUSANTO
13-6-2026

Sore itu, kami disuguhi sebuah platter atau nampan berisi Lemon Raspberry Madelaines, Moringa Gluten-Free Financier, Orange Cacao Spice Bread, Chocolate Sablé Cookie Caramel, dan Tiramichoux. Warna gelap pada platter itu membuat setiap elemen tampil intens dan menonjol. Tak monoton. Ada coklat gelap, coklat muda, kekuningan, hingga hijau. Ada rasa manis, pahit, gurih, hingga asam yang tampil di panggung piring.

Aroma kopi dari Tiramichoux menyapa kami duluan. Kue sekali suap alias bite size memang terasa lebih pas jika disuapkan langsung pakai tangan sehingga kami tak membutuhkan bantuan alat makan. Setelah memasukkannya ke dalam mulut, kita niscaya akan terkesan dengan sensasi yang dihasilkan.

Wah, Chef Louis begitu brilian memadukan choux dan tiramisu dalam satu gigitan. Siapa sangka kulit choux yang biasanya kaku terasa membaur lembut dengan isian mascarpone cream atau krim keju yang langsung meleleh di mulut. Ini mengingatkan pada hidangan penutup klasik asal Perancis, profiteroles, dengan es krim di dalamnya. Nyess….

Menu lemon raspberry madelaines, moringa gluten-free financier, orange cacao spice bread, tiramichoux, dan chocolate sable cookie caramel buatan chef Louis Tanuhadi disajikan dalam Indomilk F&B Solution bertema "The Art of Curated Bite-Sized Pastries x Coffe Pairing" di Hotel Indigo, Dago Pakar, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu (13/6/2026). 

KOMPAS/AGUS SUSANTO
13-6-2026

Setelah kopi, saatnya aroma jeruk, kayu manis, dan cokelat tampil dalam Orange Cacao Spice Bread. Uniknya, Chef Louis tidak menambahkan gula, tetapi madu ke dalamnya. Pantas saja, tekstur kue ini terasa lebih lembap dan ada aroma floral khas madu.

Biasanya kue yang diberi lapisan dark chocolate berpotensi menutupi rasa rempah yang dimiliki kue. Namun, tidak dengan racikan ini. Justru komposisi yang tepat akan membuat keduanya tampil bergantian. Maksudnya, di awal gigitan, kita bisa merasakan rasa cokelat lebih dominan, kemudian pada akhir barulah muncul lapisan rasa kayu manis dan cengkeh. Ini akan berbeda ceritanya jika penambahannya kurang seimbang, rasanya jadi tidak jelas.

”Ini seperti kue kuno zaman dahulu. Saya menggunakan buah asli, yakni bagian kulit jeruk yang dibikin manisan. Kemudian dihaluskan dan dicampurkan dengan susu yang sudah dimasak dan didiamkan dengan kayu manis selama beberapa jam,” ucapnya.

Menu lemon raspberry madelaines, moringa gluten-free financier, orange cacao spice bread, tiramichoux, dan chocolate sable cookie caramel buatan chef Louis Tanuhadi disajikan dalam Indomilk F&B Solution bertema "The Art of Curated Bite-Sized Pastries x Coffe Pairing" di Hotel Indigo, Dago Pakar, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu (13/6/2026). 

KOMPAS/AGUS SUSANTO
13-6-2026

Rasa klasik masih dipertahankan juga dalam Chocolate Sablé Cookie Caramel. Kue ini terbuat dari sablé (kukis klasik dari Perancis) yang menggunakan cokelat. Di dalamnya tersembunyi coffee ganache atau glasir kopi yang lembut dan agak pahit. Sentuhan caramel buttercream atau krim mentega karamel di atasnya menyeimbangkan karakter kopi sehingga bukan pahit yang mengganggu.

Unsur lokal

Jika melihat warna hijau pada kue, biasanya kita buru-buru menduga itu rasa matcha atau pandan. Namun, yang ini berbeda. Warna hijau pada kue Moringa Gluten-Free Financier justru menggunakan daun kelor. Meski hanya menggunakan maizena, tekstur financier terasa padat sekaligus lembab. Hanya saja, lidah ini butuh penyesuaian dengan rasa dan aroma langu yang mungkin berasal dari kelor. Oh, belum terbiasa saja.…

Inspirasi bahan lokal lainnya terlihat pada sajian Quiche Soto Ayam. Sebenarnya agak kaget saat melihat tampilan konsep pai gurih asal Perancis itu menjadi versi bulat, imut, dan berwarna kuning terang. Dari segi rasa, Quiche Soto Ayam tetap mempertahankan karakter gurih dan berkrim. Aroma soto ayamnya lumayan kuat.

Baca JugaL’Entrecôte by Bouchon, Sentuhan Klasik yang Lentur

Menu quiche soto ayam dan bandrek eclair buatan chef Louis Tanuhadi disajikan dalam Indomilk F&B Solution bertema "The Art of Curated Bite-Sized Pastries x Coffe Pairing" di Hotel Indigo, Dago Pakar, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu (13/6/2026). 

KOMPAS/AGUS SUSANTO
13-6-2026

”Quiche yang ini berbeda dari biasanya, yakni disusun dari kulit pai yang diberi isian, lalu dipanggang. Kalau ini, kulit pai-nya dipanggang dulu, lalu isiannya saya panggang dengan cetakan silikon. Setelah matang, saya bungkuskan, tinggal dilepas,” ucap Chef Louis.  

Saat melumatnya, konsentrasi tersedot ke rongga mulut. Kami seperti sedang mengunyah seluruh elemen soto. Ada suwiran daging ayam, irisan kubis, daun bawang, dan taburan bihun di atasnya. Bagian fondasi quiche diberi potongan kukis sablé yang teksturnya menjelma seperti elemen kerupuk, si pendamping makan soto.

Dengan demikian, soto tak lagi harus dimakan saat kuahnya masih hangat, tetapi saat dinginpun tetap nikmat. Sungguh pengalaman lidah yang unik. Siapa sangka kuliner lokal yang diolah dengan teknik Prancis ternyata menghasilkan rasa yang nikmat.

Chef Louis Tanuhadi (kanan) dan chef Sydney De Hart dalam wawancara dengan media di acara Indomilk F&B Solution bertema "The Art of Curated Bite-Sized Pastries x Coffe Pairing" di Hotel Indigo, Dago Pakar, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu (13/6/2026). 

KOMPAS/AGUS SUSANTO
13-6-2026
Menu tahu brulee Bandung buatan chef Sydney De Hart disajikan dalam Indomilk F&B Solution bertema "The Art of Curated Bite-Sized Pastries x Coffe Pairing" di Hotel Indigo, Dago Pakar, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu (13/6/2026). 

KOMPAS/AGUS SUSANTO
13-6-2026

Selain Chef Louis, Executive Chef & B Hotel Indigo Bandung Sydney de Hart juga meracik dua hidangan yang terinspirasi dari kuliner lokal, yakni Creamy Jagung Bakar Soup dan Tahu Brulee Bandung.

Chef Sydney begitu piawai meracik elemen kedelai menjadi brulee yang lembut. Jika tidak disebut di awal kalau ini berbahan itu, kami mungkin akan tetap mengiranya custard. Teksturnya benar-benar lembut. Wangi karamelnya pun harum, tak ada sedikit pun aroma langu khas kedelai. Ringan dan tidak bikin enek.

Selesai sudah petualangan rasa kue mini di sini. Menikmati kue-kue di atas meninggalkan kesan yang tertinggal lama. Proses kreatif di baliknya mungkin jauh dari sederhana, tetapi biarkan saja itu menjadi rahasia dapur. Semua kudapan itu terasa pas ditemani segelas Sun Kiss Creamy Coffee dari Nacha Coffee yang menyegarkan.

Baca JugaShojin Omakase, Menyulam Cita Rasa Nabati