Limbah seseorang adalah harta karun bagi orang lain. Di tangan perancang Wilsen Willim, dengan banyak kreativitas dan sedikit keajaiban, limbah serat denim disulap menjadi karya adibusana dengan mengedepankan algoritma masa lalu hingga kontemporer. Tengara satu dasawarsa ia berkarya.
Wilsen, perancang busana kelahiran Batam, Kepulauan Riau, yang besar di Singapura ini mengadakan pergelaran adibusana pertamanya pada Rabu (8/7/2026) malam. Esoknya, pada Kamis (9/7/2026), awak media diberi kesempatan untuk melihat langsung koleksi terbarunya secara lebih intim.

”Rencana membuat karya haute couture (adibusana) memang sudah diniatin dari dulu. Pokoknya, sepuluh tahun berkarier saya harus bikin haute couture,” kata Wilsen, eksklusif kepada Kompas.
Selama dua tahun ia menyiapkan karya tersebut, sambil juga membuat karya-karya tahunannya. Bagi Wilsen, misi dan komitmennya sudah jelas. Ia ingin melestarikan, mempromosikan, menguatkan, dan memantapkan posisi wastra Nusantara sebagai karya haute couture dari Indonesia.
Ratusan jam yang dipakai perajin untuk membuat wastra itu layak disandingkan dengan kualitas pratama rumah-rumah mode di Barat. Wastra itu kemudian diolah lagi menjadi busana buatan tangan yang dikerjakan dengan ketelitian tingkat tinggi oleh desainer dan timnya.
Wilsen tidak memaknai adibusana sebatas membuat gaun-gaun pesta. Prinsip jenamanya ialah membuat produk yang bisa dipadupadankan. Dalam koleksi bertajuk ”Algorithm: Universal Language” ini, ia membuat 60 potong pakaian yang terdiri dari kemeja, celana, rok, dan jas. Semua bisa dicampur-campur sesuka pemakainya dalam permutasi tanpa batas.





Dalam dokumenter Haute Couture—The Great Designers, Pemimpin Redaksi Vogue 1971-1988 Grace Mirabella menjelaskan, istilah adibusana itu memang tidak melulu gaun atau terpaut definisi dalam budaya Barat. Hal terpenting dari adibusana ialah teknik pengerjaannya. Sebelum kita membicarakan siluet busananya, kita sudah kagum duluan dengan pembuatan tekstil dan kerapian jahitannya. Agaknya prinsip ini diyakini pula oleh Wilsen.
Setiap potong pakaian bisa dipesan secara khusus ke butiknya. Tim Wilsen nanti akan mengukur tubuh si pemesan dan menyesuaikan pakaian tersebut. Aksen yang sudah ada di model dasar bisa ditambah-tambah ataupun dikurangi sesuai selera klien.
Limbah denim
Wilsen bercerita, dalam proses merancang koleksi adibusana, ia bertemu dengan Eco Touch, perusahaan yang mengepul limbah denim. Limbah ini bisa dari perusahaan konfeksi denim, perancang busana, bahkan dalam batas tertentu mencakup pakaian denim bekas dari warga awam.
Eco Touch mengurai limbah denim itu. Semula mereka mengembangkannya hanya sebagai bantalan insulasi ataupun pengedap suara ruangan. Kemudian, perusahaan ini menemukan cara untuk memintal limbah denim menjadi benang.


Saat berdialog dengan Wilsen, Eco Touch mengeluhkan produk benang mereka yang tidak bisa terserap pasar reguler karena jumlahnya sedikit. Limbah denim itu harus dimurnikan, dalam artian hanya serat katun yang diambil dan diproses. Campuran serat sintetis tidak diikutsertakan karena memang menurunkan kualitas benang.
Pada saat yang sama, Wilsen yang rajin berkeliling Tanah Air untuk bertemu para perajin wastra kerap mendengar keluhan perajin tidak memiliki bahan baku yang cukup. Panen kapas tidak selalu stabil dan benang katun impor juga masih sering kosong di pemasok.
”Kebetulan sekali. Mereka adalah solusi masalah satu sama lain. Tebersitlah ide membuat couture perdana saya memakai benang ini,” tutur Wilsen.


Walhasil, Wilsen pun mengontak para petenun di Halaban, Sumatera Barat; Garut, Jawa Barat; Jembrana, Bali; dan Putussibau, Kalimantan Barat. Ia menawarkan kepada mereka paket pesanan menggunakan benang limbah denim dari Eco Touch. Perjanjiannya ialah perajin terserah menenun motif apa saja, semua nanti dibeli oleh Wilsen.
Ternyata tidak semua penenun mau karena ini area baru yang belum pernah mereka rambah. Sejumlah penenun memilih bermain aman dengan tetap di bahan tradisional. Untungnya, di setiap daerah yang didatangi juga ada petenun yang mau mencoba bahan kreasi baru tersebut.
Wilsen sangat berterima kasih kepada para petenun ”gila” ini. Mereka menggunakan teknik gedok, bukan menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM). Alat tenun gedok tidak memiliki jangkar dan benang harus disusun satu per satu oleh si petenun. Dalam pengerjaannya, petenun duduk di lantai.






”Saya serahkan soal motif dan teknik kepada para petenun karena mereka ahlinya. Saya enggak mau menghilangkan ciri khas tiap-tiap daerah,” kata Wilsen.
Saking bebasnya para petenun berkreasi, dari semua wastra yang jadi, tidak semua cocok dengan visi Wilsen untuk saat ini. Meskipun begitu, sesuai perjanjian, Wilsen tetap membeli semua hasil tenun. Persoalan cocok atau tidak, ia mengatakan, suatu saat pasti wastra itu bisa dimanfaatkan untuk koleksi lain.
Struktur
Dalam koleksi adibusana ini, Wilsen menekankan pada struktur. Setiap jenis tenun dipilih secara spesifik untuk membuat potongan pakaian tertentu. Songket Halaban dan Jembrana dipakai untuk membuat jas.
Khasnya songket Minangkabau, jas songket Halaban ini ada yang memakai benang emas, perak, dan tembaga. Dari jauh terlihat layaknya songket pada umumnya. Ketika didekati, kain dasarnya berwarna kelabu dan halus tatkala disentuh. Songket itu ditenun dari serat denim.



Serupa dengan jas dari songket Jembrana dan Putussibau. Jika tak melihat dan merasakan langsung, sukar dipercaya kain itu terbuat dari limbah serat denim dan ditenun secara manual karena teksturnya sedemikian halus.
”Para petenun ini emang gokil kemampuannya. Nilai tambah benang limbah denim ialah teksturnya sudah lembut dan halus, dipakai langsung nyaman di tubuh. Tidak seperti celana atau jaket denim yang baru dibeli,” ucap Wilsen.
Tenun Garut adalah yang paling halus di antara semua wastra di koleksi ”Algorithm”. Benang-benang denim itu dipadu di atas dasar dari serat sutra yang menerawang. Oleh Wilsen, kain ini dipakai untuk membuat kebaya modern dengan palet kelabu, putih, dan biru pucat.




Terdapat pula rok midi dan mengembang dari tenun Garut. Saya iseng mengintip di bawah rok yang dipajang di maneken untuk mencari struktur yang membuatnya mengembang. Biasanya di bawah rok ada lapisan crinoline atau dikenal juga dengan sebutan petikut serta gegelang.
Tidak ada struktur seperti sangkar ayam untuk menyokong rok itu. Ternyata rok itu sendiri adalah petikut. Tulang-tulang yang lentur menjaga struktur rok tetap mengembang. Pada saat yang sama, belulang petikut itu tetap lentur dan ringan sehingga pemakainya bisa duduk.
Biner dan sepatu
Selain bermain dengan tenun, Wilsen juga bermain dengan batik. Rajasa Pramesrywara, Direktur Pemasaran Wilsen Willim, menerangkan, mereka membuat batik tulis terinspirasi dari tenun.
Tenun adalah proses matematis menggunakan algoritma bilangan biner. Ada ruang yang dibiarkan kosong dan ada yang diisi. Semua disimbolkan dengan bilangan 0 dan 1.

Mereka memanfaatkan akal imitasi (AI) untuk membaca pola tenun dan menemukan bilangan binernya. Algoritma biner itu yang kemudian ditorehkan dalam pola batik tulis. Ini membuktikan bahwa wastra saling terkait dan mendukung. Teknologi membantu proses tersebut.
”Waktu fashion show kemarin, musiknya juga dikembangkan dari pola bilangan biner tenun-tenun ini,” ujar Rajasa.







Ajang itu pun menjadi tempat Wilsen mengenalkan koleksi kerja samanya dengan jenama sepatu lokal, Bocorocco. Jenama yang terkenal bersol empuk ini membuat 12 pasang sepatu untuk adibusana perdana Wilsen.
Warna nilakandi dipilih untuk sol dalam dan luar sepatu. Layaknya sepatu bertumit tinggi jenama Christian Louboutin yang terkenal bersol merah, sepatu kolaborasi pertama Wilsen ini mencuri perhatian dengan sol biru.
Memanggungkan tenun
Bagi Wilsen, pemilihan tekstil untuk koleksi adibusana ini juga diharapkan bisa membawa karyanya ke luar negeri. Bilangan angka dan denim adalah bahasa yang dimengerti oleh dunia. Terlepas cara pembuatannya yang tradisional, bahan dasarnya sudah diakrabi oleh mayoritas warga global.
Wilsen berharap, dengan membeli atau melihat koleksinya, orang-orang dari luar negeri tertarik mencari wastra Nusantara. Di koleksi ini pula Wilsen menerapkan sistem keterbukaan. Nanti, ketika dijual, setiap potong tenun itu disertai keterangan nama dan tempat asal perajinnya.
Ia juga tengah merampungkan film dokumenternya mengenai tenun di Halaban, Jembrana, Garut, dan Putussibau. Wilsen menemukan, di Halaban, tinggal tiga petenun senior yang menguasai teknik cungkia. Di Putussibau, hanya empat orang yang bisa melakukan teknik pileh.
Wilsen pun gundah. Ini tidak sekadar melestarikan wastra, tetapi juga berkaitan dengan identitas dirinya. Sebagai keturunan Tionghoa yang mengalami trauma semasa Orde Baru, Wilsen selalu merasa liyan ketika tumbuh di Singapura.
Sepulang ke Tanah Air, ia menemukan budaya Tionghoa berkelindan di semua budaya Nusantara. Wastra adalah perpaduan harmonis budaya berbeda-beda ini dalam suatu keindahan. Identitas dia mutlak bagian dari helaian kemajemukan Nusantara. Wilsen pun mantap menyokong wastra Indonesia.
”Ini benang takdirku. Saya bagian dari wastra,” ucapnya.
Limbah seseorang adalah harta karun bagi orang lain. Di tangan perancang Wilsen Willim, dengan banyak kreativitas dan sedikit keajaiban, limbah serat denim disulap menjadi karya adibusana dengan mengedepankan algoritma masa lalu hingga kontemporer. Tengara satu dasawarsa ia berkarya.
Wilsen, perancang busana kelahiran Batam, Kepulauan Riau, yang besar di Singapura ini mengadakan pergelaran adibusana pertamanya pada Rabu (8/7/2026) malam. Esoknya, pada Kamis (9/7/2026), awak media diberi kesempatan untuk melihat langsung koleksi terbarunya secara lebih intim.


”Rencana membuat karya haute couture (adibusana) memang sudah diniatin dari dulu. Pokoknya, sepuluh tahun berkarier saya harus bikin haute couture,” kata Wilsen, eksklusif kepada Kompas.
Selama dua tahun ia menyiapkan karya tersebut, sambil juga membuat karya-karya tahunannya. Bagi Wilsen, misi dan komitmennya sudah jelas. Ia ingin melestarikan, mempromosikan, menguatkan, dan memantapkan posisi wastra Nusantara sebagai karya haute couture dari Indonesia.
Ratusan jam yang dipakai perajin untuk membuat wastra itu layak disandingkan dengan kualitas pratama rumah-rumah mode di Barat. Wastra itu kemudian diolah lagi menjadi busana buatan tangan yang dikerjakan dengan ketelitian tingkat tinggi oleh desainer dan timnya.
Wilsen tidak memaknai adibusana sebatas membuat gaun-gaun pesta. Prinsip jenamanya ialah membuat produk yang bisa dipadupadankan. Dalam koleksi bertajuk ”Algorithm: Universal Language” ini, ia membuat 60 potong pakaian yang terdiri dari kemeja, celana, rok, dan jas. Semua bisa dicampur-campur sesuka pemakainya dalam permutasi tanpa batas.





Dalam dokumenter Haute Couture—The Great Designers, Pemimpin Redaksi Vogue 1971-1988 Grace Mirabella menjelaskan, istilah adibusana itu memang tidak melulu gaun atau terpaut definisi dalam budaya Barat. Hal terpenting dari adibusana ialah teknik pengerjaannya. Sebelum kita membicarakan siluet busananya, kita sudah kagum duluan dengan pembuatan tekstil dan kerapian jahitannya. Agaknya prinsip ini diyakini pula oleh Wilsen.
Setiap potong pakaian bisa dipesan secara khusus ke butiknya. Tim Wilsen nanti akan mengukur tubuh si pemesan dan menyesuaikan pakaian tersebut. Aksen yang sudah ada di model dasar bisa ditambah-tambah ataupun dikurangi sesuai selera klien.
Limbah denim
Wilsen bercerita, dalam proses merancang koleksi adibusana, ia bertemu dengan Eco Touch, perusahaan yang mengepul limbah denim. Limbah ini bisa dari perusahaan konfeksi denim, perancang busana, bahkan dalam batas tertentu mencakup pakaian denim bekas dari warga awam.
Eco Touch mengurai limbah denim itu. Semula mereka mengembangkannya hanya sebagai bantalan insulasi ataupun pengedap suara ruangan. Kemudian, perusahaan ini menemukan cara untuk memintal limbah denim menjadi benang.


Saat berdialog dengan Wilsen, Eco Touch mengeluhkan produk benang mereka yang tidak bisa terserap pasar reguler karena jumlahnya sedikit. Limbah denim itu harus dimurnikan, dalam artian hanya serat katun yang diambil dan diproses. Campuran serat sintetis tidak diikutsertakan karena memang menurunkan kualitas benang.
Pada saat yang sama, Wilsen yang rajin berkeliling Tanah Air untuk bertemu para perajin wastra kerap mendengar keluhan perajin tidak memiliki bahan baku yang cukup. Panen kapas tidak selalu stabil dan benang katun impor juga masih sering kosong di pemasok.
”Kebetulan sekali. Mereka adalah solusi masalah satu sama lain. Tebersitlah ide membuat couture perdana saya memakai benang ini,” tutur Wilsen.


Walhasil, Wilsen pun mengontak para petenun di Halaban, Sumatera Barat; Garut, Jawa Barat; Jembrana, Bali; dan Putussibau, Kalimantan Barat. Ia menawarkan kepada mereka paket pesanan menggunakan benang limbah denim dari Eco Touch. Perjanjiannya ialah perajin terserah menenun motif apa saja, semua nanti dibeli oleh Wilsen.
Ternyata tidak semua penenun mau karena ini area baru yang belum pernah mereka rambah. Sejumlah penenun memilih bermain aman dengan tetap di bahan tradisional. Untungnya, di setiap daerah yang didatangi juga ada petenun yang mau mencoba bahan kreasi baru tersebut.
Wilsen sangat berterima kasih kepada para petenun ”gila” ini. Mereka menggunakan teknik gedok, bukan menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM). Alat tenun gedok tidak memiliki jangkar dan benang harus disusun satu per satu oleh si petenun. Dalam pengerjaannya, petenun duduk di lantai.






”Saya serahkan soal motif dan teknik kepada para petenun karena mereka ahlinya. Saya enggak mau menghilangkan ciri khas tiap-tiap daerah,” kata Wilsen.
Saking bebasnya para petenun berkreasi, dari semua wastra yang jadi, tidak semua cocok dengan visi Wilsen untuk saat ini. Meskipun begitu, sesuai perjanjian, Wilsen tetap membeli semua hasil tenun. Persoalan cocok atau tidak, ia mengatakan, suatu saat pasti wastra itu bisa dimanfaatkan untuk koleksi lain.
Struktur
Dalam koleksi adibusana ini, Wilsen menekankan pada struktur. Setiap jenis tenun dipilih secara spesifik untuk membuat potongan pakaian tertentu. Songket Halaban dan Jembrana dipakai untuk membuat jas.
Khasnya songket Minangkabau, jas songket Halaban ini ada yang memakai benang emas, perak, dan tembaga. Dari jauh terlihat layaknya songket pada umumnya. Ketika didekati, kain dasarnya berwarna kelabu dan halus tatkala disentuh. Songket itu ditenun dari serat denim.



Serupa dengan jas dari songket Jembrana dan Putussibau. Jika tak melihat dan merasakan langsung, sukar dipercaya kain itu terbuat dari limbah serat denim dan ditenun secara manual karena teksturnya sedemikian halus.
”Para petenun ini emang gokil kemampuannya. Nilai tambah benang limbah denim ialah teksturnya sudah lembut dan halus, dipakai langsung nyaman di tubuh. Tidak seperti celana atau jaket denim yang baru dibeli,” ucap Wilsen.
Tenun Garut adalah yang paling halus di antara semua wastra di koleksi ”Algorithm”. Benang-benang denim itu dipadu di atas dasar dari serat sutra yang menerawang. Oleh Wilsen, kain ini dipakai untuk membuat kebaya modern dengan palet kelabu, putih, dan biru pucat.




Terdapat pula rok midi dan mengembang dari tenun Garut. Saya iseng mengintip di bawah rok yang dipajang di maneken untuk mencari struktur yang membuatnya mengembang. Biasanya di bawah rok ada lapisan crinoline atau dikenal juga dengan sebutan petikut serta gegelang.
Tidak ada struktur seperti sangkar ayam untuk menyokong rok itu. Ternyata rok itu sendiri adalah petikut. Tulang-tulang yang lentur menjaga struktur rok tetap mengembang. Pada saat yang sama, belulang petikut itu tetap lentur dan ringan sehingga pemakainya bisa duduk.
Biner dan sepatu
Selain bermain dengan tenun, Wilsen juga bermain dengan batik. Rajasa Pramesrywara, Direktur Pemasaran Wilsen Willim, menerangkan, mereka membuat batik tulis terinspirasi dari tenun.
Tenun adalah proses matematis menggunakan algoritma bilangan biner. Ada ruang yang dibiarkan kosong dan ada yang diisi. Semua disimbolkan dengan bilangan 0 dan 1.

Mereka memanfaatkan akal imitasi (AI) untuk membaca pola tenun dan menemukan bilangan binernya. Algoritma biner itu yang kemudian ditorehkan dalam pola batik tulis. Ini membuktikan bahwa wastra saling terkait dan mendukung. Teknologi membantu proses tersebut.
”Waktu fashion show kemarin, musiknya juga dikembangkan dari pola bilangan biner tenun-tenun ini,” ujar Rajasa.







Ajang itu pun menjadi tempat Wilsen mengenalkan koleksi kerja samanya dengan jenama sepatu lokal, Bocorocco. Jenama yang terkenal bersol empuk ini membuat 12 pasang sepatu untuk adibusana perdana Wilsen.
Warna nilakandi dipilih untuk sol dalam dan luar sepatu. Layaknya sepatu bertumit tinggi jenama Christian Louboutin yang terkenal bersol merah, sepatu kolaborasi pertama Wilsen ini mencuri perhatian dengan sol biru.
Memanggungkan tenun
Bagi Wilsen, pemilihan tekstil untuk koleksi adibusana ini juga diharapkan bisa membawa karyanya ke luar negeri. Bilangan angka dan denim adalah bahasa yang dimengerti oleh dunia. Terlepas cara pembuatannya yang tradisional, bahan dasarnya sudah diakrabi oleh mayoritas warga global.
Wilsen berharap, dengan membeli atau melihat koleksinya, orang-orang dari luar negeri tertarik mencari wastra Nusantara. Di koleksi ini pula Wilsen menerapkan sistem keterbukaan. Nanti, ketika dijual, setiap potong tenun itu disertai keterangan nama dan tempat asal perajinnya.
Ia juga tengah merampungkan film dokumenternya mengenai tenun di Halaban, Jembrana, Garut, dan Putussibau. Wilsen menemukan, di Halaban, tinggal tiga petenun senior yang menguasai teknik cungkia. Di Putussibau, hanya empat orang yang bisa melakukan teknik pileh.
Wilsen pun gundah. Ini tidak sekadar melestarikan wastra, tetapi juga berkaitan dengan identitas dirinya. Sebagai keturunan Tionghoa yang mengalami trauma semasa Orde Baru, Wilsen selalu merasa liyan ketika tumbuh di Singapura.
Sepulang ke Tanah Air, ia menemukan budaya Tionghoa berkelindan di semua budaya Nusantara. Wastra adalah perpaduan harmonis budaya berbeda-beda ini dalam suatu keindahan. Identitas dia mutlak bagian dari helaian kemajemukan Nusantara. Wilsen pun mantap menyokong wastra Indonesia.
”Ini benang takdirku. Saya bagian dari wastra,” ucapnya.