Segala kata pujian memang pantas diucapkan kepada Lionel Messi yang dengan segala magisnya, menggendong Argentina ke partai puncak Piala Dunia 2026. Namun, di balik penampilan fenomenal La Pulga, ada sosok-sosok yang menjadi bodyguard sekaligus pelayan setia di lapangan.
Suasana kompleks latihan klub MLS Atlanta United FC di kawasan Marietta, Georgia, Selasa (14/7/2026), ramai dengan lebih 100 jurnalis peliput Piala Dunia 2026. Mereka hendak menyaksikan latihan timnas Argentina menjelang laga semifinal Piala Dunia melawan Inggris. Ada juga sesi wawancara dengan tiga pemain tim ”Tango”, yaitu Rodrigo de Paul, Alexis Mac Allister, dan Gonzalo Montiel.
Setelah antrean memasuki pinggir lapangan cukup lama, akhirnya para jurnalis bisa mendekat ke tepi lapangan latihan. Sebagian duduk atau berdiri di tribun di tepi lapangan. Sebagian lagi ikut melakukan wawancara mixed zone dengan tiga pemain Argentina sebelum mereka mengikuti sesi latihan.
Setelah menunggu beberapa saat, satu per satu para pemain Argentina mulai memasuki lapangan. Selain pemain yang sudah dijadwalkan untuk wawancara, yang ditunggu adalah keluarnya sang legenda, Lionel Messi.
Akhirnya, Messi pun tiba bersama para pemain Argentina lain. Ia kemudian duduk di bangku yang tersedia di tepi lapangan.
De Paul terlihat ikut duduk di bangku di samping Messi sebelum menghampiri kumpulan wartawan. Messi yang masih duduk memperhatikannya melangkah untuk wawancara.
Salah satu yang disampaikan oleh de Paul dalam wawancara itu adalah soal Messi. “Melihatnya menikmati permainan membuat saya sangat bahagia, mengingat semua hal yang telah ia lalui dengan jersi ini dan segala hal yang harus ia perjuangkan. Menurut saya, Piala Dunia kali ini benar-benar membuatnya sangat menikmati permainannya sendiri,” ujar de Paul kepada wartawan.
Selepas wawancara yang berlangsung sekitar 15 menit, de Paul, Mac Allister, dan Montiel kembali bersama rekan-rekannya untuk memulai sesi latihan. Menariknya, De Paul terus menempel Messi. Kedua pemain yang sama-sama bermain klub MLS Inter Miami tersebut seperti tak terpisahkan.
Saat pemanasan, de Paul terus mengikuti Messi dari belakang sambil terkadang diselingi obrolan. Ibaratnya, de Paul adalah seorang bodyguard atau pengawal yang terus melindungi tuannya ke manapun ia pergi.

Akan tetapi, bisa dikatakan memang seperti itulah peran de Paul di skuad Argentina. Ia menjadi bagian dari para gelandang Argentina yang tugasnya adalah “melindungi” dan “melayani” sehingga Messi bisa bebas berkreasi mengeluarkan magisnya.
Sebenarnya, permainan Argentina itu bisa dibilang sederhana. Pelatih Lionel Scaloni membangun tim untuk mengoptimalkan segala kelebihan La Pulga. Hanya saja, tim-tim lawan masih belum bisa memecahkan misteri tersebut sehingga Messi bisa merajalela.
Messi bisa bermain dengan bebas, bahkan cukup berjalan-jalan saja di lapangan, karena peran pemain yang lain memungkinkan hal itu terjadi. Messi tidak perlu ikut berlari melakukan pressing ketika kehilangan bola atau membantu pertahanan saat La Scaloneta diserang.

Tentu saja yang melakukan tugas kotor itu adalah para gelandang yang membantunya. Selain de Paul, barisan gelandang yang selama ini menjadi pelindung Messi di lapangan adalah Mac Allister, Leandro Paredes, dan Enzo Fernandez. Para pemain itu mau melakukan apa saja asal Messi bahagia, seperti dikatakan de Paul.
Menurut salah satu pakar Technical Study Group FIFA, Jon Dahl Tomasson, permainan menyerang Argentina dirancang untuk mengacaukan lawan dan membebaskan Messi—baik untuk memberinya bola di area berbahaya atau untuk membebaskan pemain lain, saat Messi menarik perhatian dari beberapa pemain lawan sekaligus.
Ketika Scaloni mengambil alih kepelatihan timnas Argentina dari Jorge Sampaoli pada 2019, tugas pertamanya adalah meringankan beban berat yang selama ini dipanggul Messi, baik di dalam maupun di luar lapangan. Ia menciptakan lingkungan tim yang solid dan suportif.

Seperti de Paul, para pemain Argenina sering menyatakan bahwa mereka ingin bermain dan menang demi Messi. Kepercayaan tim tumbuh berkat kehadiran dua gelandang dinamis yang andal dalam mengalirkan bola progesif pada diri Mac Allister dan Fernadez.
Kemampuan para gelandang ini dalam mengirimkan umpan-umpan terobosan membuat Messi yang sudah berusia 39 tahun tidak perlu lagi turun terlalu jauh ke belakang.
Saat lini tengah Argentina mengalirkan bola ke depan, Messi bisa menghemat energinya dan menunggu momen yang tepat di dekat kotak penalti lawan untuk melepaskan tembakan khasnya atau mengirimkan umpan matang untuk rekan setimnya.
Messi banyak menghemat tenaga dengan berjalan, hanya sesekali berlari saat benar-benar dibutuhkan. Dari semua pergerakan Messi, menurut data FIFA, sebanyak 64 persen didominasi dengan berjalan atau dalam kecepatan nol hingga 7 kilometer per jam.
Lalu, dia menghabiskan 25 persen lainnya dengan berdiri diam. Hanya 0,1 persen yang dipakai untuk sprint atau begerak lebih dari 25,2 km/jam. (Kompas.id, 14/7/2026).
Menariknya, mobilitas rendah itu berbanding terbalik dengan produktivitasnya, khususnya di sisi ofensif. Messi menjadi pemain dengan catatan terbaik dalam berbagai aspek di sepanjang turnamen, mulai dari jumlah gol (8), tembakan (33), hingga kreasi peluang (21).

Meskipun stamina Messi tidak lagi seperti dulu, kemampuan bermain, kreativitas, dan penyelesaian akhirnya yang mematikan justru berlipat ganda karena ia bermain di dalam tim yang sepenuhnya bekerja untuknya.
Itu pula yang terjadi saat Messi kembali mengeluarkan sihirnya sehingga membawa Argentina bangkit dari ketinggalan saat lawan Inggris di semifinal Piala Dunia 2026 di Stadion Mercedes Benz, Atlanta, Georgia, Rabu (16/7/2026).
Messi mengirim dua asis untuk diselesaikan oleh Fernandez untuk menyamakan kedudukan dan kepada Lautaro Martinez untuk mencetak gol penentu kemenangan.

De Paul adalah gelandang bertahan berusia 32 tahun yang bermain bersama Messi di Inter Miami. Ia adalah seorang pekerja keras yang sering berlari tanpa lelah melakukan tugas kotor agar bintang Argentina bisa bersinar.
Lahir pada Mei 1994, de Paul sempat membela Udinese dan menghabiskan empat musim di Atletico Madrid sebelum bergabung dengan Inter Miami pada 2025.
Ia menjadi sosok sentral dalam keberhasilan Argentina menjuarai Piala Dunia 2022—yang membuatnya terkenal dengan julukan bodyguard Messi di lapangan—serta turut memenangi Copa America pada 2021 dan 2024.

Adapun Fernandez adalah gelandang tengah yang bermain untuk Chelsea di Liga Inggris. Penampilan cemerlangnya saat membantu Messi menjadi juara Piala Dunia 2022, membuatnya menjadi salah satu pemain termahal di dunia. Chelsea menebus sang pemain dengan harga 108 juta poundsterling untuk memboyongnya dari Benfica.
Berdasarkan perannya di tim nasional Argentina dan Chelsea, gaya bermain Fernández dapat dikategorikan sebagai perpaduan antara gelandang pengatur tempo (deep-lying playmaker) dan gelandang box-to-box.
Ia memiliki keunggulan pada kemampuan distribusi bola dan umpan-umapn progresif karena memiliki visi bermain yang luar biasa. Kemampuan itu membuat Messi bisa berjalan-jalan di sekitar kotak penalti lawan menunggu umpan terobosan yang dialirkan oleh Fernandez dari belakang.
Fernandez juga gelandang yang memiliki ketahanan terhadap tekanan (press resistance) sehingga sulit merebut bola darinya. Sebagai bagian dari “pelindung” Messi, Enzo tidak hanya fokus menyerang.

Ia memiliki daya jelajah tinggi, mampu melakukan tekel, memotong jalur umpan lawan, dan memenangkan duel di lini tengah untuk merebut kembali penguasaan bola.
Yang berbahaya, ia memiliki tembakan jarak jauh yang akurat dan keras. Itu ia buktikan ketika membobol gawang Inggris untuk menyamakan kedudukan, memanfaatkan umpan Messi di lini tengah.
Peran dan gaya permainan Mac Allister mirip dengan Fernandez. Pemain Liverpool ini memiliki kecerdasan sepak bola yang sangat tinggi, taktis, dan serba bisa, baik saat bermain di klub maupun timnas. Ia bisa bermain sebagai gelandang bertahan, box to box, maupun sebagai gelandang serang pengatur permainan.
Meskipun dikenal karena kemampuan teknisnya yang elegan, Mac Allister tidak ragu untuk melakukan “tugas kotor”. Ia memiliki intensitas tinggi dalam melakukan pressing dan merebut kembali penguasaan bola saat tim kehilangan bola (counter-pressing), menjadikannya gelandang yang sangat tangguh dalam transisi bertahan.
Satu lagi gelandang yang menjadi tulang punggung di lini tengah Argentina adalah Leandro Paredes. Dalam skema formasi permainan yang sering dipakai Scaloni, 4-1-3-2, Paredes adalah gelandang yang dipercaya sebagai jangkar tunggal atau single pivot.

Tidak seperti rekan-rekannya yang bermain di luar negeri, Paredes kini bermain di liga dalam negeri bersama Boca Juniors. Pemain berusia 32 tahun ini menjadi semacam metronom atau pengendali tempo permainan tim Tango dari belakang. Meskipun berposisi sebagai gelandang bertahan, Paredes memiliki kemampuan teknis dan akurasi operan yang sangat tinggi.
Ia bertugas menjemput bola dari lini belakang, dan mendistribusikannya ke depan untuk membangun serangan. Sebagai seorang single pivot, ia menjadi pelindung barisan belakang sekaligus sering menjadi orang pertama yang mengawali serangan. Kemampuan bertahannya membuat para pemain lain bisa lebih fokus menjalankan tugas untuk menyerang.
Messi layak mendapat segala puja-puji, tetapi pekerjaan kotor para gelandang Argentina itu yang memungkinkan dia mengeluarkan sihirnya. Demi Messi, de Paul dan kawan-kawan mau melakukan apa saja di lapangan.
Segala kata pujian memang pantas diucapkan kepada Lionel Messi yang dengan segala magisnya, menggendong Argentina ke partai puncak Piala Dunia 2026. Namun, di balik penampilan fenomenal La Pulga, ada sosok-sosok yang menjadi bodyguard sekaligus pelayan setia di lapangan.
Suasana kompleks latihan klub MLS Atlanta United FC di kawasan Marietta, Georgia, Selasa (14/7/2026), ramai dengan lebih 100 jurnalis peliput Piala Dunia 2026. Mereka hendak menyaksikan latihan timnas Argentina menjelang laga semifinal Piala Dunia melawan Inggris. Ada juga sesi wawancara dengan tiga pemain tim ”Tango”, yaitu Rodrigo de Paul, Alexis Mac Allister, dan Gonzalo Montiel.
Setelah antrean memasuki pinggir lapangan cukup lama, akhirnya para jurnalis bisa mendekat ke tepi lapangan latihan. Sebagian duduk atau berdiri di tribun di tepi lapangan. Sebagian lagi ikut melakukan wawancara mixed zone dengan tiga pemain Argentina sebelum mereka mengikuti sesi latihan.

Setelah menunggu beberapa saat, satu per satu para pemain Argentina mulai memasuki lapangan. Selain pemain yang sudah dijadwalkan untuk wawancara, yang ditunggu adalah keluarnya sang legenda, Lionel Messi.
Akhirnya, Messi pun tiba bersama para pemain Argentina lain. Ia kemudian duduk di bangku yang tersedia di tepi lapangan.
De Paul terlihat ikut duduk di bangku di samping Messi sebelum menghampiri kumpulan wartawan. Messi yang masih duduk memperhatikannya melangkah untuk wawancara.
Salah satu yang disampaikan oleh de Paul dalam wawancara itu adalah soal Messi. “Melihatnya menikmati permainan membuat saya sangat bahagia, mengingat semua hal yang telah ia lalui dengan jersi ini dan segala hal yang harus ia perjuangkan. Menurut saya, Piala Dunia kali ini benar-benar membuatnya sangat menikmati permainannya sendiri,” ujar de Paul kepada wartawan.
Selepas wawancara yang berlangsung sekitar 15 menit, de Paul, Mac Allister, dan Montiel kembali bersama rekan-rekannya untuk memulai sesi latihan. Menariknya, De Paul terus menempel Messi. Kedua pemain yang sama-sama bermain klub MLS Inter Miami tersebut seperti tak terpisahkan.
Saat pemanasan, de Paul terus mengikuti Messi dari belakang sambil terkadang diselingi obrolan. Ibaratnya, de Paul adalah seorang bodyguard atau pengawal yang terus melindungi tuannya ke manapun ia pergi.
Baca JugaBisakah Lionel Messi Dihentikan?

Akan tetapi, bisa dikatakan memang seperti itulah peran de Paul di skuad Argentina. Ia menjadi bagian dari para gelandang Argentina yang tugasnya adalah “melindungi” dan “melayani” sehingga Messi bisa bebas berkreasi mengeluarkan magisnya.
Sebenarnya, permainan Argentina itu bisa dibilang sederhana. Pelatih Lionel Scaloni membangun tim untuk mengoptimalkan segala kelebihan La Pulga. Hanya saja, tim-tim lawan masih belum bisa memecahkan misteri tersebut sehingga Messi bisa merajalela.
Messi bisa bermain dengan bebas, bahkan cukup berjalan-jalan saja di lapangan, karena peran pemain yang lain memungkinkan hal itu terjadi. Messi tidak perlu ikut berlari melakukan pressing ketika kehilangan bola atau membantu pertahanan saat La Scaloneta diserang.

Tentu saja yang melakukan tugas kotor itu adalah para gelandang yang membantunya. Selain de Paul, barisan gelandang yang selama ini menjadi pelindung Messi di lapangan adalah Mac Allister, Leandro Paredes, dan Enzo Fernandez. Para pemain itu mau melakukan apa saja asal Messi bahagia, seperti dikatakan de Paul.
Menurut salah satu pakar Technical Study Group FIFA, Jon Dahl Tomasson, permainan menyerang Argentina dirancang untuk mengacaukan lawan dan membebaskan Messi—baik untuk memberinya bola di area berbahaya atau untuk membebaskan pemain lain, saat Messi menarik perhatian dari beberapa pemain lawan sekaligus.
Ketika Scaloni mengambil alih kepelatihan timnas Argentina dari Jorge Sampaoli pada 2019, tugas pertamanya adalah meringankan beban berat yang selama ini dipanggul Messi, baik di dalam maupun di luar lapangan. Ia menciptakan lingkungan tim yang solid dan suportif.
Baca JugaArgentina Berpesta Mengantar Messi Menuju Keabadian

Seperti de Paul, para pemain Argenina sering menyatakan bahwa mereka ingin bermain dan menang demi Messi. Kepercayaan tim tumbuh berkat kehadiran dua gelandang dinamis yang andal dalam mengalirkan bola progesif pada diri Mac Allister dan Fernadez.
Kemampuan para gelandang ini dalam mengirimkan umpan-umpan terobosan membuat Messi yang sudah berusia 39 tahun tidak perlu lagi turun terlalu jauh ke belakang.
Saat lini tengah Argentina mengalirkan bola ke depan, Messi bisa menghemat energinya dan menunggu momen yang tepat di dekat kotak penalti lawan untuk melepaskan tembakan khasnya atau mengirimkan umpan matang untuk rekan setimnya.
Messi banyak menghemat tenaga dengan berjalan, hanya sesekali berlari saat benar-benar dibutuhkan. Dari semua pergerakan Messi, menurut data FIFA, sebanyak 64 persen didominasi dengan berjalan atau dalam kecepatan nol hingga 7 kilometer per jam.
Lalu, dia menghabiskan 25 persen lainnya dengan berdiri diam. Hanya 0,1 persen yang dipakai untuk sprint atau begerak lebih dari 25,2 km/jam. (Kompas.id, 14/7/2026).
Menariknya, mobilitas rendah itu berbanding terbalik dengan produktivitasnya, khususnya di sisi ofensif. Messi menjadi pemain dengan catatan terbaik dalam berbagai aspek di sepanjang turnamen, mulai dari jumlah gol (8), tembakan (33), hingga kreasi peluang (21).

Meskipun stamina Messi tidak lagi seperti dulu, kemampuan bermain, kreativitas, dan penyelesaian akhirnya yang mematikan justru berlipat ganda karena ia bermain di dalam tim yang sepenuhnya bekerja untuknya.
Itu pula yang terjadi saat Messi kembali mengeluarkan sihirnya sehingga membawa Argentina bangkit dari ketinggalan saat lawan Inggris di semifinal Piala Dunia 2026 di Stadion Mercedes Benz, Atlanta, Georgia, Rabu (16/7/2026).
Messi mengirim dua asis untuk diselesaikan oleh Fernandez untuk menyamakan kedudukan dan kepada Lautaro Martinez untuk mencetak gol penentu kemenangan.
Baca JugaArgentina Vs Inggris: Messi Menuju Keabadian

De Paul adalah gelandang bertahan berusia 32 tahun yang bermain bersama Messi di Inter Miami. Ia adalah seorang pekerja keras yang sering berlari tanpa lelah melakukan tugas kotor agar bintang Argentina bisa bersinar.
Lahir pada Mei 1994, de Paul sempat membela Udinese dan menghabiskan empat musim di Atletico Madrid sebelum bergabung dengan Inter Miami pada 2025.
Ia menjadi sosok sentral dalam keberhasilan Argentina menjuarai Piala Dunia 2022—yang membuatnya terkenal dengan julukan bodyguard Messi di lapangan—serta turut memenangi Copa America pada 2021 dan 2024.

Adapun Fernandez adalah gelandang tengah yang bermain untuk Chelsea di Liga Inggris. Penampilan cemerlangnya saat membantu Messi menjadi juara Piala Dunia 2022, membuatnya menjadi salah satu pemain termahal di dunia. Chelsea menebus sang pemain dengan harga 108 juta poundsterling untuk memboyongnya dari Benfica.
Berdasarkan perannya di tim nasional Argentina dan Chelsea, gaya bermain Fernández dapat dikategorikan sebagai perpaduan antara gelandang pengatur tempo (deep-lying playmaker) dan gelandang box-to-box.
Ia memiliki keunggulan pada kemampuan distribusi bola dan umpan-umapn progresif karena memiliki visi bermain yang luar biasa. Kemampuan itu membuat Messi bisa berjalan-jalan di sekitar kotak penalti lawan menunggu umpan terobosan yang dialirkan oleh Fernandez dari belakang.
Fernandez juga gelandang yang memiliki ketahanan terhadap tekanan (press resistance) sehingga sulit merebut bola darinya. Sebagai bagian dari “pelindung” Messi, Enzo tidak hanya fokus menyerang.

Ia memiliki daya jelajah tinggi, mampu melakukan tekel, memotong jalur umpan lawan, dan memenangkan duel di lini tengah untuk merebut kembali penguasaan bola.
Yang berbahaya, ia memiliki tembakan jarak jauh yang akurat dan keras. Itu ia buktikan ketika membobol gawang Inggris untuk menyamakan kedudukan, memanfaatkan umpan Messi di lini tengah.
Peran dan gaya permainan Mac Allister mirip dengan Fernandez. Pemain Liverpool ini memiliki kecerdasan sepak bola yang sangat tinggi, taktis, dan serba bisa, baik saat bermain di klub maupun timnas. Ia bisa bermain sebagai gelandang bertahan, box to box, maupun sebagai gelandang serang pengatur permainan.
Meskipun dikenal karena kemampuan teknisnya yang elegan, Mac Allister tidak ragu untuk melakukan “tugas kotor”. Ia memiliki intensitas tinggi dalam melakukan pressing dan merebut kembali penguasaan bola saat tim kehilangan bola (counter-pressing), menjadikannya gelandang yang sangat tangguh dalam transisi bertahan.
Satu lagi gelandang yang menjadi tulang punggung di lini tengah Argentina adalah Leandro Paredes. Dalam skema formasi permainan yang sering dipakai Scaloni, 4-1-3-2, Paredes adalah gelandang yang dipercaya sebagai jangkar tunggal atau single pivot.

Tidak seperti rekan-rekannya yang bermain di luar negeri, Paredes kini bermain di liga dalam negeri bersama Boca Juniors. Pemain berusia 32 tahun ini menjadi semacam metronom atau pengendali tempo permainan tim Tango dari belakang. Meskipun berposisi sebagai gelandang bertahan, Paredes memiliki kemampuan teknis dan akurasi operan yang sangat tinggi.
Ia bertugas menjemput bola dari lini belakang, dan mendistribusikannya ke depan untuk membangun serangan. Sebagai seorang single pivot, ia menjadi pelindung barisan belakang sekaligus sering menjadi orang pertama yang mengawali serangan. Kemampuan bertahannya membuat para pemain lain bisa lebih fokus menjalankan tugas untuk menyerang.
Messi layak mendapat segala puja-puji, tetapi pekerjaan kotor para gelandang Argentina itu yang memungkinkan dia mengeluarkan sihirnya. Demi Messi, de Paul dan kawan-kawan mau melakukan apa saja di lapangan.