Empat tim rangking teratas bertemu di semifinal Piala Dunia 2026, Argentina, Spanyol, Perancis, dan Inggris. Yang juga istimewa, keempat negara pernah menjuarainya. Tak heran, gelaran turnamen kali ini terasa istimewa.
Argentina tiga kali, pertama di tahun 1978 saat menjadi tuan rumah. Argentina menjadi juara setelah dalam final mengalahkan Belanda 3-1 lewat perpanjangan waktu. Kali kedua adalah tahun 1986 dengan mengalahkan Jerman Barat 3-2 di Azteca, Kota Meksiko dengan skor 3–2. Dan gelar juara dunia terakhir di Piala Dunia 2022 di Qatar saat berhasil mengalahkan Perancis dengan drama adu penalti.
Spanyol pernah menjuarai Piala Dunia satu kali sepanjang sejarah, yaitu pada tahun 2010 di Afika Selatan. Andres Iniesta menjadi pahlawan Spanyol saat berhasil mencetal gol di babak tambahan, setelah pertandingan selama 2×45 menit berahir imbang.


Lionel Messi berlari selama sesi latihan di Marietta, Selasa (14/7/2-26_.
AP/Erik S. Lesser
Lionel Messi dari Argentina menggiring bola melewati Djed Spence Marc Guehi di menit-menit terakhir pertandingan sepak bola semifinal Piala Dunia antara Inggris dan Argentina di Atlanta, Rabu (15/7/2026). AP/Rebecca Blackwell
Kegembiraan Lionel Messi saat merayakan gol kedua Argentina pada semifinal Piala Dunia antara Inggris dan Argentina di Atlanta (Ra/7/2026). AP/Rebecca Blackwell
Kini, kedua tim akan kembali bertemu di partai puncak untuk memperebutkan gelar juara Piala Dunia 2026. Spanyol mempunyai catatan enam kemenangan, satu imbang dan belum pernah terkalahkan.
Selain itu, sampai sejauh ini, sebanyak 13 gol telah disarangkan timnas Spanyol sepanjang perjalanan turnamen ini dan hanya kebobolan satu kali. Satu-satunya yang pernah membobol gawang Spanyol adalah timnas Belgia di babak delapan besar.
Perjalanan Spanyol dimulai dengan menahan imbang 0-0 Tanjung Verde, mengalahkan Arab Saudi 4-0, dan mengalahkan Uruguay 1-0 dalam babak penyisihan. Sedangkan di babak gugur, Spanyol mengalahkan Austria 3-0, mengalahkan Portugal 1-0, mengalahkan Belgia 2-1, dan mengandaskan peringkat ketiga FIFA Perancis 2-0 di semifinal.
Capaian Argentina sedikit lebih baik dibanding Spanyol, dengan tujuh kemenangan, belum pernah imbang dan belum pernah kalah. Walaupun membukukukan lebih banyak gol, yakni 19 gol, namun Argentina juga kebobolan sebanyak 9 gol.
Perjalanan Argentina di penyisihan grup dimulai dengan mengalahkan Aljazair 3-0, mengalahkan Austria 2-0 dan mengalahkan Yordania 3-2. Selanjutnya, di fase gugur timnas Argentina dimulai dengan mengalahkan Tanjung Verde 3-2, mengalahkan Mesir 3-2, mengalahkan Swiss 3-2 dan lolos ke final setelah mengandaskan Inggris 2-1. Kedua tim memasuki final dengan rekor tak terkalahkan yang mengesankan.
Pertemuan Messi dan Yamal
Lionel Messi telah memenangkan Piala Dunia, tetapi kapten Argentina berkeinginan menambahkan babak baru dalam kariernya saat menginspirasi timnya untuk meraih kemenangan di semifinal melawan Inggris. Sang juara bertahan menghadapi tantangan berat, tertinggal oleh gol Anthony Gordon hingga menit ke-85.
Tak lama kemudian Messi menunjukkan keajaibannya. Kali ini pencetak gol terbanyak sepanjang masa di turnamen Piala Dunia tersebut tidak mencetak gol. Namun, ia memberikan umpan kepada Enzo Fernandez untuk gol pertama dan mengirimkan umpan silang untuk Lautaro Martinez yang kemudian menyundul bola masuk ke gawang untuk mengamankan kemenangan 2-1.


“Ini adalah pertandingan yang sangat ingin dimenangkan oleh rakyat Argentina, dan begitu juga kami,” kata Messi, setelah menghadapi Inggris untuk pertama kalinya.
Ia tidak sepenuhnya mampu meniru Diego Maradona, yang mencetak dua gol ikonik dalam kemenangan Argentina atas Inggris di perempat final Piala Dunia 1986. Namun ia akan puas dengan dua assist tersebut, dan ia telah meniru pendahulunya yang legendaris dengan memenangkan trofi empat tahun lalu di Qatar.
Kini, setelah Argentina mempertahankan rekor luar biasa mereka yang tak pernah kalah di semifinal Piala Dunia, Messi akan tampil di final kedua berturut-turut, dan final ketiga secara keseluruhan. Messi akan menjadi pemain kedua setelah legenda Brasil, Cafu, yang tampil di tiga final.
Sedangkan di Spanyol ada Lamine Yamal. Walaupun baru mencetak 1 gol dalam penampilan pertamanya saat Spanyol bertemu Arab Saudi, namun gol pada menit kesepuluh yang dicetaknya menjadi inspirasi kemenangan tim itu 4-0.



Penyerang Spanyol Lamine Yamal bereaksi di akhir pertandingan semifinal Piala Dunia 2026 antara Prancis dan Spanyol di Stadion Dallas di Arlington pada Selasa (14/7/2026).
AFP/FRANCK FIFE
Kegembiraan Lionel Messi saat merayakan gol kedua Argentina pada semifinal Piala Dunia antara Inggris dan Argentina di Atlanta (Ra/7/2026).
AP/Rebecca Blackwell
Seniman Kosovar Alkent Pozhegu mengerjakan mosaik di tanah, dibuat dengan biji-bijian dan biji-bijian, yang menggambarkan Lionel Messi dan Lamine Yamal, di kota Gjakova pada Kamis (16/7/2026). AFP/Armend NIMANI
Hal menarik dan menjadi perbincangan jagad maya ketika Argentina memastikan diri di final melawan Spanyol adalah foto saat Messi memandikan bayi di bak mandi plastik berwarna biru. Bayi itu adalah Lamine Yamal, yang 18 tahun kemudian, keduanya akan saling bertemu dan saling mengalahkan untuk menjuarai Piala Dunia 2026.
Pada akhir tahun 2007, keluarga Yamal memenangkan undian untuk berfoto bersama Lionel Messi, bintang muda Barcelona yang saat itu berumur 20 tahun. Undian yang diadakan oleh surat kabar Diorio Sport bekerja sama dengan UNICEF berbentuk pemotretan untuk kalender promosi.
Lamine Yamal yang saat itu baru berusia enam bulan, digendong dan dimandikan Messi dalam sebuah sesi foto di ruang ganti stadion Nou Camp. Kini, hampir dua dekade setelah pertemuan pertama mereka dalam kegiatan amal UNICEF, Messi dan Lamine Yamal kembali dipertemukan.
Bedanya, kali ini bukan dalam sesi pemotretan, melainkan di panggung terbesar sepak bola dunia saat Argentina dan Spanyol berebut trofi Piala Dunia 2026. (AP/AFP/REUTERS)
Empat tim rangking teratas bertemu di semifinal Piala Dunia 2026, Argentina, Spanyol, Perancis, dan Inggris. Yang juga istimewa, keempat negara pernah menjuarainya. Tak heran, gelaran turnamen kali ini terasa istimewa.
Argentina tiga kali, pertama di tahun 1978 saat menjadi tuan rumah. Argentina menjadi juara setelah dalam final mengalahkan Belanda 3-1 lewat perpanjangan waktu. Kali kedua adalah tahun 1986 dengan mengalahkan Jerman Barat 3-2 di Azteca, Kota Meksiko dengan skor 3–2. Dan gelar juara dunia terakhir di Piala Dunia 2022 di Qatar saat berhasil mengalahkan Perancis dengan drama adu penalti.
Spanyol pernah menjuarai Piala Dunia satu kali sepanjang sejarah, yaitu pada tahun 2010 di Afika Selatan. Andres Iniesta menjadi pahlawan Spanyol saat berhasil mencetal gol di babak tambahan, setelah pertandingan selama 2×45 menit berahir imbang.



Lionel Messi berlari selama sesi latihan di Marietta, Selasa (14/7/2-26_.
AP/Erik S. Lesser
Lionel Messi dari Argentina menggiring bola melewati Djed Spence Marc Guehi di menit-menit terakhir pertandingan sepak bola semifinal Piala Dunia antara Inggris dan Argentina di Atlanta, Rabu (15/7/2026). AP/Rebecca Blackwell
Kegembiraan Lionel Messi saat merayakan gol kedua Argentina pada semifinal Piala Dunia antara Inggris dan Argentina di Atlanta (Ra/7/2026). AP/Rebecca Blackwell
Kini, kedua tim akan kembali bertemu di partai puncak untuk memperebutkan gelar juara Piala Dunia 2026. Spanyol mempunyai catatan enam kemenangan, satu imbang dan belum pernah terkalahkan.
Selain itu, sampai sejauh ini, sebanyak 13 gol telah disarangkan timnas Spanyol sepanjang perjalanan turnamen ini dan hanya kebobolan satu kali. Satu-satunya yang pernah membobol gawang Spanyol adalah timnas Belgia di babak delapan besar.
Perjalanan Spanyol dimulai dengan menahan imbang 0-0 Tanjung Verde, mengalahkan Arab Saudi 4-0, dan mengalahkan Uruguay 1-0 dalam babak penyisihan. Sedangkan di babak gugur, Spanyol mengalahkan Austria 3-0, mengalahkan Portugal 1-0, mengalahkan Belgia 2-1, dan mengandaskan peringkat ketiga FIFA Perancis 2-0 di semifinal.
Capaian Argentina sedikit lebih baik dibanding Spanyol, dengan tujuh kemenangan, belum pernah imbang dan belum pernah kalah. Walaupun membukukukan lebih banyak gol, yakni 19 gol, namun Argentina juga kebobolan sebanyak 9 gol.
Perjalanan Argentina di penyisihan grup dimulai dengan mengalahkan Aljazair 3-0, mengalahkan Austria 2-0 dan mengalahkan Yordania 3-2. Selanjutnya, di fase gugur timnas Argentina dimulai dengan mengalahkan Tanjung Verde 3-2, mengalahkan Mesir 3-2, mengalahkan Swiss 3-2 dan lolos ke final setelah mengandaskan Inggris 2-1. Kedua tim memasuki final dengan rekor tak terkalahkan yang mengesankan.
Pertemuan Messi dan Yamal
Lionel Messi telah memenangkan Piala Dunia, tetapi kapten Argentina berkeinginan menambahkan babak baru dalam kariernya saat menginspirasi timnya untuk meraih kemenangan di semifinal melawan Inggris. Sang juara bertahan menghadapi tantangan berat, tertinggal oleh gol Anthony Gordon hingga menit ke-85.
Tak lama kemudian Messi menunjukkan keajaibannya. Kali ini pencetak gol terbanyak sepanjang masa di turnamen Piala Dunia tersebut tidak mencetak gol. Namun, ia memberikan umpan kepada Enzo Fernandez untuk gol pertama dan mengirimkan umpan silang untuk Lautaro Martinez yang kemudian menyundul bola masuk ke gawang untuk mengamankan kemenangan 2-1.


“Ini adalah pertandingan yang sangat ingin dimenangkan oleh rakyat Argentina, dan begitu juga kami,” kata Messi, setelah menghadapi Inggris untuk pertama kalinya.
Ia tidak sepenuhnya mampu meniru Diego Maradona, yang mencetak dua gol ikonik dalam kemenangan Argentina atas Inggris di perempat final Piala Dunia 1986. Namun ia akan puas dengan dua assist tersebut, dan ia telah meniru pendahulunya yang legendaris dengan memenangkan trofi empat tahun lalu di Qatar.
Kini, setelah Argentina mempertahankan rekor luar biasa mereka yang tak pernah kalah di semifinal Piala Dunia, Messi akan tampil di final kedua berturut-turut, dan final ketiga secara keseluruhan. Messi akan menjadi pemain kedua setelah legenda Brasil, Cafu, yang tampil di tiga final.
Sedangkan di Spanyol ada Lamine Yamal. Walaupun baru mencetak 1 gol dalam penampilan pertamanya saat Spanyol bertemu Arab Saudi, namun gol pada menit kesepuluh yang dicetaknya menjadi inspirasi kemenangan tim itu 4-0.



Penyerang Spanyol Lamine Yamal bereaksi di akhir pertandingan semifinal Piala Dunia 2026 antara Prancis dan Spanyol di Stadion Dallas di Arlington pada Selasa (14/7/2026).
AFP/FRANCK FIFE
Kegembiraan Lionel Messi saat merayakan gol kedua Argentina pada semifinal Piala Dunia antara Inggris dan Argentina di Atlanta (Ra/7/2026).
AP/Rebecca Blackwell
Seniman Kosovar Alkent Pozhegu mengerjakan mosaik di tanah, dibuat dengan biji-bijian dan biji-bijian, yang menggambarkan Lionel Messi dan Lamine Yamal, di kota Gjakova pada Kamis (16/7/2026). AFP/Armend NIMANI
Hal menarik dan menjadi perbincangan jagad maya ketika Argentina memastikan diri di final melawan Spanyol adalah foto saat Messi memandikan bayi di bak mandi plastik berwarna biru. Bayi itu adalah Lamine Yamal, yang 18 tahun kemudian, keduanya akan saling bertemu dan saling mengalahkan untuk menjuarai Piala Dunia 2026.
Pada akhir tahun 2007, keluarga Yamal memenangkan undian untuk berfoto bersama Lionel Messi, bintang muda Barcelona yang saat itu berumur 20 tahun. Undian yang diadakan oleh surat kabar Diorio Sport bekerja sama dengan UNICEF berbentuk pemotretan untuk kalender promosi.
Lamine Yamal yang saat itu baru berusia enam bulan, digendong dan dimandikan Messi dalam sebuah sesi foto di ruang ganti stadion Nou Camp. Kini, hampir dua dekade setelah pertemuan pertama mereka dalam kegiatan amal UNICEF, Messi dan Lamine Yamal kembali dipertemukan.
Bedanya, kali ini bukan dalam sesi pemotretan, melainkan di panggung terbesar sepak bola dunia saat Argentina dan Spanyol berebut trofi Piala Dunia 2026. (AP/AFP/REUTERS)
Baca JugaBukan ”Tangan Tuhan”, melainkan Kemurahan Hati MessiBaca JugaMbappe Berpaling ke Sepatu EmasBaca JugaNangkring di Reruntuhan, ”Nobar” Piala Dunia Seru Warga Gaza