Kesebelasan Spanyol tampil sebagai juara Piala Dunia 2026 dengan penampilan impresif yang layak dikenang dalam sejarah sepak bola. Pada laga final menghadapi juara bertahan Argentina di Stadion MetLife, New Jersey, Amerika Serikat, Spanyol unggul jauh dalam penguasaan bola dengan 65 persen berbanding tim ”Tango” yang hanya 35 persen.
Dominasi tim asuhan Luis de la Fuente juga tecermin dari jumlah tendangan ke gawang yang tercatat 12 kali, sementara Argentina tanpa sekali pun mengancam gawang Unai Simon. Hasilnya, Spanyol menang 1-0 melalui gol Ferran Torres di babak perpanjangan waktu.
Kaki Lionel Messi, bintang Argentina, yang bagai tongkat sihir selama turnamen, hari itu menjadi tak berdaya karena penguasaan bola dominan lini tengah La Roja. Kekalahan Argentina makin ternoda oleh sikap kurang sportif sejumlah pemain mereka yang bertindak emosional pascalaga.
Pelatih Spanyol Luis de la Fuente menjadi pelatih pertama yang berhasil memecahkan misteri bagaimana cara menghentikan Messi. Semua pelatih sebelumnya seperti tak berdaya menghadapi magis Messi yang merajalela sepanjang turnamen dengan torehan delapan gol. Pada laga itu, Spanyol membuat Messi tak berdaya (Kompas.id, 20/7/2026).
”Sangat bangga. Bangga untuk generasi pesepak bola ini yang tumbuh dengan gagasan ini, tetap setia pada gagasan tersebut, dan melakukan yang terbaik. Mereka contoh dari sebuah tim, sebuah kelompok, sebuah keluarga, dan kumpulan pemain hebat yang luar biasa,” tutur Luis de la Fuente.
Spanyol juga meraih penghargaan Pemain Terbaik (Bola Emas) untuk kapten tim Rodrigo Hernandez alias Rodri, Pemain Muda Terbaik pada diri Pau Cubarsi, dan Unai Simon sebagai Kiper Terbaik (Sarung Tangan Emas). Penyerang Perancis Kylian Mbappe menjadi Pencetak Gol Terbanyak dengan 10 gol dan berhak atas penghargaan Sepatu Emas.

Spanyol tentu mencapai podium tertinggi Piala Dunia 2026 dengan melewati berbagai tahapan yang tak mudah. Ibarat terjal dan berliku. Setelah sukses menjuarai Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, mereka terpuruk ketika tersingkir di fase grup Piala Dunia Brasil 2014.
Setelah itu, Spanyol juga gugur di babak 16 besar Piala Dunia Rusia 2018 dan Qatar 2022. La Roja menyadari, mereka harus menjalankan regenerasi skuad tim nasional karena tak bisa lagi mengandalkan pemain-pemain senior, seperti Xavi, Andres Iniesta, Carles Puyol, dan Sergio Ramos.

Proses regenerasi skuad timnas itu diuntungkan oleh sistem pembinaan sepak bola Spanyol yang memprioritaskan bakat-bakat lokal. Talenta-talenta domestik itu dibina melalui akademi-akademi sepak bola yang menjadi bagian dari klub profesional kontestan Liga Spanyol.
Saat sudah terseleksi untuk tim nasional, skuad Spanyol tinggal ”dituai” untuk optimalisasi bermain dengan karakter sepak bola Spanyol: tiki-taka, umpan-umpan efektif satu-dua sentuhan, dan dominasi penguasaan bola.
Pola permainan yang terbukti menyisihkan tim-tim favorit, seperti Portugal, Perancis, dan Argentina, ini mujarab untuk dua hal: meraih kemenangan sekaligus menghibur penonton. Selamat untuk Spanyol, sampai jumpa di Piala Dunia 2030.
Baca JugaTak Cukup Trofi Juara, Spanyol Borong Gelar Individual
Kesebelasan Spanyol tampil sebagai juara Piala Dunia 2026 dengan penampilan impresif yang layak dikenang dalam sejarah sepak bola. Pada laga final menghadapi juara bertahan Argentina di Stadion MetLife, New Jersey, Amerika Serikat, Spanyol unggul jauh dalam penguasaan bola dengan 65 persen berbanding tim ”Tango” yang hanya 35 persen.
Dominasi tim asuhan Luis de la Fuente juga tecermin dari jumlah tendangan ke gawang yang tercatat 12 kali, sementara Argentina tanpa sekali pun mengancam gawang Unai Simon. Hasilnya, Spanyol menang 1-0 melalui gol Ferran Torres di babak perpanjangan waktu.
Kaki Lionel Messi, bintang Argentina, yang bagai tongkat sihir selama turnamen, hari itu menjadi tak berdaya karena penguasaan bola dominan lini tengah La Roja. Kekalahan Argentina makin ternoda oleh sikap kurang sportif sejumlah pemain mereka yang bertindak emosional pascalaga.
Baca JugaDominasi Total Sang Juara

Baca JugaLuis de la Fuente, ”Don” Penakluk Eropa
Pelatih Spanyol Luis de la Fuente menjadi pelatih pertama yang berhasil memecahkan misteri bagaimana cara menghentikan Messi. Semua pelatih sebelumnya seperti tak berdaya menghadapi magis Messi yang merajalela sepanjang turnamen dengan torehan delapan gol. Pada laga itu, Spanyol membuat Messi tak berdaya (Kompas.id, 20/7/2026).
”Sangat bangga. Bangga untuk generasi pesepak bola ini yang tumbuh dengan gagasan ini, tetap setia pada gagasan tersebut, dan melakukan yang terbaik. Mereka contoh dari sebuah tim, sebuah kelompok, sebuah keluarga, dan kumpulan pemain hebat yang luar biasa,” tutur Luis de la Fuente.
Spanyol juga meraih penghargaan Pemain Terbaik (Bola Emas) untuk kapten tim Rodrigo Hernandez alias Rodri, Pemain Muda Terbaik pada diri Pau Cubarsi, dan Unai Simon sebagai Kiper Terbaik (Sarung Tangan Emas). Penyerang Perancis Kylian Mbappe menjadi Pencetak Gol Terbanyak dengan 10 gol dan berhak atas penghargaan Sepatu Emas.

Baca JugaSaat Messi Kehilangan Sentuhan Magis di Final Piala Dunia
Spanyol tentu mencapai podium tertinggi Piala Dunia 2026 dengan melewati berbagai tahapan yang tak mudah. Ibarat terjal dan berliku. Setelah sukses menjuarai Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, mereka terpuruk ketika tersingkir di fase grup Piala Dunia Brasil 2014.
Setelah itu, Spanyol juga gugur di babak 16 besar Piala Dunia Rusia 2018 dan Qatar 2022. La Roja menyadari, mereka harus menjalankan regenerasi skuad tim nasional karena tak bisa lagi mengandalkan pemain-pemain senior, seperti Xavi, Andres Iniesta, Carles Puyol, dan Sergio Ramos.

Proses regenerasi skuad timnas itu diuntungkan oleh sistem pembinaan sepak bola Spanyol yang memprioritaskan bakat-bakat lokal. Talenta-talenta domestik itu dibina melalui akademi-akademi sepak bola yang menjadi bagian dari klub profesional kontestan Liga Spanyol.
Saat sudah terseleksi untuk tim nasional, skuad Spanyol tinggal ”dituai” untuk optimalisasi bermain dengan karakter sepak bola Spanyol: tiki-taka, umpan-umpan efektif satu-dua sentuhan, dan dominasi penguasaan bola.
Pola permainan yang terbukti menyisihkan tim-tim favorit, seperti Portugal, Perancis, dan Argentina, ini mujarab untuk dua hal: meraih kemenangan sekaligus menghibur penonton. Selamat untuk Spanyol, sampai jumpa di Piala Dunia 2030.