Performa Spanyol sempat diragukan saat secara mengejutkan mereka ditahan imbang 0-0 oleh Tanjung Verde pada laga pertama penyisihan grup, lebih sebulan yang lalu. Namun, penampilan Lamine Yamal dan kawan-kawan terus menanjak hingga puncaknya mempecundangi tim favorit Perancis 2-0 pada laga semifinal untuk memastikan tiket ke partai final.
Spanyol mengirim pesan, tim hebat tidak dinilai dari bagaimana mereka memulai sebuah turnamen, melainkan bagaimana mereka mengakhirinya. Lagi pula, hasil laga pertama tidak selalu menjadi penentu kegagalan atau keberhasilan sebuah tim dalam turnamen.
Salah satu finalis, Argentina, membuktikan hal itu. Empat tahun lalu di Qatar, Lionel Messi dan kawan-kawan bahkan mengalami turnamen dengan kekalahan mengejutkan 1-2 dari Arab Saudi. Akan tetapi mereka bangkit untuk kemudian menjadi juara, mengalahkan Perancis pada laga final.
Laga final Spanyol lawan Argentina akan berlangsung di Stadion MetLife, East Rutherford, New Jersey, Minggu (19/7/2026).
Penampilan gemilang Spanyol pada laga semifinal menunjukkan, filosofi permainan mereka sudah mulai klik. Meski masih berbasis penguasaan bola, gaya Spanyol saat ini bisa dibilang sudah menjauh dari tiki-taka.
Tiki-taka adalah ungkapan untuk mendefinisikan teknik dan pendekatan Spanyol atas sepak bola. Filosofinya adalah membuang bola tidak termaafkan. Intinya, pergerakan terus-menerus, umpan-umpan pendek, dan penguasaan bola di atas segala- galanya.
Namun, di bawah asuhan pelatih Luis De la Fuente, mereka berevolusi untuk meninggalkan tiki-taka tradisional era awal 2010-an yang identik dengan tempo lambat dan obsesi berlebih pada penguasaan bola. Di bawah komando De la Fuente, skuad La Furia Roja bertransformasi mengadopsi gaya permainan yang jauh lebih cepat, vertikal, dan agresif.

Alih-alih mengandalkan operan lateral atau ke samping dan sirkulasi bola berulang-ulang untuk membongkar pertahanan lawan, Spanyol kini mengalirkan bola ke depan dengan tempo yang jauh lebih cepat.
Kendati tetap mempertahankan kontrol kuat di lini tengah, dimotori gelandang jangkar Rodri, Spanyol mengoptimalkan talenta muda yang dinamis seperti Lamine Yamal dan Alex Baena untuk menusuk dari sektor sayap dan menembus garis pertahanan lawan dengan lebih cepat.
Sejumlah analis sepak bola menyebut pendekatan modern ini sebagai “Tiki-taka 2.0”. Formula baru ini dinilai sukses memadukan filosofi penguasaan bola Spanyol dengan ancaman serangan yang jauh lebih efisien dan langsung (direct).

Taktik De La Fuente tersebut terbukti sangat jitu dengan komposisi skuad yang dimiliki oleh Spanyol saat ini. Ketika mereka tidak punya gelandang dengan karakter seperti Xavi, Andres Iniesta, dan Sergio Busquets, mereka memaksimalkan bakat lini sayap yang melimpah.
Keberhasilan mereka meraih gelar Piala Eropa pada 2024 di Jerman menjadi buktinya. Trofi itu mereka raih salah satunya karena performa gemilang dua pemain sayap, Yamal dan Nico Williams, didukung gelandang bertahan Rodri.
Keberhasilan taktik tersebut berlanjut ke Piala Dunia 2026. Mereka berhasil ke final meski penampilan Yamal masih belum segarang dua tahun lalu karena dirundung cedera menjelang turnamen dimulai.

Sedangkan Williams justru lebih banyak menghuni bangku cadangan juga karena cedera. Beruntung, Spanyol punya Baena yang dengan sempurna menempati posisi sayap kiri menggantikan posisi Williams.
Saat segalanya sudah klik, tidak ada yang bisa menandingi Spanyol. Namun sebaliknya, ketika semuanya berjalan tidak sesuai harapan, seperti ketika “La Furia Roja” menghadapi Pantai Gading, sungguh bikin jengkel.
Untungnya bagi suporter Spanyol, taktik tesebut mulai on ketika memasuki fase gugur. Setelah melibas Austria 3-0 pada babak 32 besar, mereka kemudian menyingkirkan Portugal 1-0 di 16 besar, memulangkan Belgia 2-1 pada perempat final, sebelum melumat Perancis 2-0 pada laga semifinal.

De La Fuente mengatakan, para pemain Spanyol sekarang merasa tidak terkalahkan setelah berhasil menembus babak final. Berbicara kepada wartawan selepas mengalahkan Perancis di semifinal, De La Fuente memberikan peringatan kepada lawan di final, bahwa timnya akan tampil dengan penuh kepercayaan diri.
“Kami merasa tak terkalahkan. Mereka (Perancis) adalah tim terbaik di dunia. Tapi kami memiliki keunggulan. Sungguh indah melihat mereka bermain. Apa yang terlihat sulit, tim ini membuatnya begitu mudah,” kata De La Fuente.
Kemenangan atas Perancis membuat Spanyol memperpanjang rekor tak terkalahkan mereka menjadi 37 kali, menyamai rekor yang dicapai oleh Italia dari 2018-2021. Spanyol berusaha memperpanjang rekor tersebut saat bertemu Argentina di final.

Setelah hasil mengejutkan melawan Tanjung Verde, permainan Spanyol terus menanjak dan mencapai partai final dengan hanya kebobolan satu gol saja. Menurut De la Fuente, timnya mencapai permainan terbaik pada saat yang sangat tepat.
“Kami tahu kami harus meningkat sedikit demi sedikit. Kami akan senang jika memenangi laga pertama, tapi itu adalah proses. Sudah direncanakan bahwa kami akan mencapai momen kunci dalam kondisi terbaik. Kami dalam kondisi yang baik, dan dalam hal sepak bola, kami telah mencapai level puncak,” kata De la Fuente.

De la Fuente akan menghadapi bekas muridnya pada pertandingan final nanti, Lionel Scaloni yang melatih Argentina. Pada 2017, dua tahun setelah Scaloni gantung sepatu, De la Fuente yang tengah menangani tim usia muda Spanyol, adalah salah satu figur yang membantu Scaloni meniti karier di dunia kepelatihan.
Berbicara setelah Spanyol mencapai final sebelum Argentina mengalahkan Inggris, Scaloni mengatakan bahwa ia gembira mantan mentornya itu mencapai final.
“Saya gembira untuknya. Ia layak mendapatkannya. Ia adalah sosok yang hebat. Apa yang kita liat di tim nasionalnya, adalah apa yang saya terjadi pada kami,” kata Scaloni di Atlanta.

Scaloni menyebut sempat akan menelepon De la Fuente jika Argentina tidak berhasil melaju dan sebaliknya tidak akan menghubunginya kalau Argentina ke final.
“Jika sesuatu tidak berjalan baik bagi kami, saya akan meneleponnya. Jika kami melawannya di final, tidak. Jadi mari berharap tidak ada telepon sampai setelah final,” ujar Scaloni.
Untuk sementara, sambungan telepon antara murid dan mentor itu mungkin tertunda. Mereka akan beradu taktik terlebih dulu demi memperebutkan gelar Piala Dunia.
Performa Spanyol sempat diragukan saat secara mengejutkan mereka ditahan imbang 0-0 oleh Tanjung Verde pada laga pertama penyisihan grup, lebih sebulan yang lalu. Namun, penampilan Lamine Yamal dan kawan-kawan terus menanjak hingga puncaknya mempecundangi tim favorit Perancis 2-0 pada laga semifinal untuk memastikan tiket ke partai final.
Spanyol mengirim pesan, tim hebat tidak dinilai dari bagaimana mereka memulai sebuah turnamen, melainkan bagaimana mereka mengakhirinya. Lagi pula, hasil laga pertama tidak selalu menjadi penentu kegagalan atau keberhasilan sebuah tim dalam turnamen.
Salah satu finalis, Argentina, membuktikan hal itu. Empat tahun lalu di Qatar, Lionel Messi dan kawan-kawan bahkan mengalami turnamen dengan kekalahan mengejutkan 1-2 dari Arab Saudi. Akan tetapi mereka bangkit untuk kemudian menjadi juara, mengalahkan Perancis pada laga final.
Laga final Spanyol lawan Argentina akan berlangsung di Stadion MetLife, East Rutherford, New Jersey, Minggu (19/7/2026).

Penampilan gemilang Spanyol pada laga semifinal menunjukkan, filosofi permainan mereka sudah mulai klik. Meski masih berbasis penguasaan bola, gaya Spanyol saat ini bisa dibilang sudah menjauh dari tiki-taka.
Tiki-taka adalah ungkapan untuk mendefinisikan teknik dan pendekatan Spanyol atas sepak bola. Filosofinya adalah membuang bola tidak termaafkan. Intinya, pergerakan terus-menerus, umpan-umpan pendek, dan penguasaan bola di atas segala- galanya.
Namun, di bawah asuhan pelatih Luis De la Fuente, mereka berevolusi untuk meninggalkan tiki-taka tradisional era awal 2010-an yang identik dengan tempo lambat dan obsesi berlebih pada penguasaan bola. Di bawah komando De la Fuente, skuad La Furia Roja bertransformasi mengadopsi gaya permainan yang jauh lebih cepat, vertikal, dan agresif.

Alih-alih mengandalkan operan lateral atau ke samping dan sirkulasi bola berulang-ulang untuk membongkar pertahanan lawan, Spanyol kini mengalirkan bola ke depan dengan tempo yang jauh lebih cepat.
Kendati tetap mempertahankan kontrol kuat di lini tengah, dimotori gelandang jangkar Rodri, Spanyol mengoptimalkan talenta muda yang dinamis seperti Lamine Yamal dan Alex Baena untuk menusuk dari sektor sayap dan menembus garis pertahanan lawan dengan lebih cepat.
Sejumlah analis sepak bola menyebut pendekatan modern ini sebagai “Tiki-taka 2.0”. Formula baru ini dinilai sukses memadukan filosofi penguasaan bola Spanyol dengan ancaman serangan yang jauh lebih efisien dan langsung (direct).
Baca JugaRodri, Kesahajaan Pelayan Teladan

Taktik De La Fuente tersebut terbukti sangat jitu dengan komposisi skuad yang dimiliki oleh Spanyol saat ini. Ketika mereka tidak punya gelandang dengan karakter seperti Xavi, Andres Iniesta, dan Sergio Busquets, mereka memaksimalkan bakat lini sayap yang melimpah.
Keberhasilan mereka meraih gelar Piala Eropa pada 2024 di Jerman menjadi buktinya. Trofi itu mereka raih salah satunya karena performa gemilang dua pemain sayap, Yamal dan Nico Williams, didukung gelandang bertahan Rodri.
Keberhasilan taktik tersebut berlanjut ke Piala Dunia 2026. Mereka berhasil ke final meski penampilan Yamal masih belum segarang dua tahun lalu karena dirundung cedera menjelang turnamen dimulai.

Sedangkan Williams justru lebih banyak menghuni bangku cadangan juga karena cedera. Beruntung, Spanyol punya Baena yang dengan sempurna menempati posisi sayap kiri menggantikan posisi Williams.
Saat segalanya sudah klik, tidak ada yang bisa menandingi Spanyol. Namun sebaliknya, ketika semuanya berjalan tidak sesuai harapan, seperti ketika “La Furia Roja” menghadapi Pantai Gading, sungguh bikin jengkel.
Untungnya bagi suporter Spanyol, taktik tesebut mulai on ketika memasuki fase gugur. Setelah melibas Austria 3-0 pada babak 32 besar, mereka kemudian menyingkirkan Portugal 1-0 di 16 besar, memulangkan Belgia 2-1 pada perempat final, sebelum melumat Perancis 2-0 pada laga semifinal.
Baca JugaSpanyol Vs Argentina, Duel Penguasa Dua Semesta

De La Fuente mengatakan, para pemain Spanyol sekarang merasa tidak terkalahkan setelah berhasil menembus babak final. Berbicara kepada wartawan selepas mengalahkan Perancis di semifinal, De La Fuente memberikan peringatan kepada lawan di final, bahwa timnya akan tampil dengan penuh kepercayaan diri.
“Kami merasa tak terkalahkan. Mereka (Perancis) adalah tim terbaik di dunia. Tapi kami memiliki keunggulan. Sungguh indah melihat mereka bermain. Apa yang terlihat sulit, tim ini membuatnya begitu mudah,” kata De La Fuente.
Kemenangan atas Perancis membuat Spanyol memperpanjang rekor tak terkalahkan mereka menjadi 37 kali, menyamai rekor yang dicapai oleh Italia dari 2018-2021. Spanyol berusaha memperpanjang rekor tersebut saat bertemu Argentina di final.

Setelah hasil mengejutkan melawan Tanjung Verde, permainan Spanyol terus menanjak dan mencapai partai final dengan hanya kebobolan satu gol saja. Menurut De la Fuente, timnya mencapai permainan terbaik pada saat yang sangat tepat.
“Kami tahu kami harus meningkat sedikit demi sedikit. Kami akan senang jika memenangi laga pertama, tapi itu adalah proses. Sudah direncanakan bahwa kami akan mencapai momen kunci dalam kondisi terbaik. Kami dalam kondisi yang baik, dan dalam hal sepak bola, kami telah mencapai level puncak,” kata De la Fuente.

De la Fuente akan menghadapi bekas muridnya pada pertandingan final nanti, Lionel Scaloni yang melatih Argentina. Pada 2017, dua tahun setelah Scaloni gantung sepatu, De la Fuente yang tengah menangani tim usia muda Spanyol, adalah salah satu figur yang membantu Scaloni meniti karier di dunia kepelatihan.
Berbicara setelah Spanyol mencapai final sebelum Argentina mengalahkan Inggris, Scaloni mengatakan bahwa ia gembira mantan mentornya itu mencapai final.
“Saya gembira untuknya. Ia layak mendapatkannya. Ia adalah sosok yang hebat. Apa yang kita liat di tim nasionalnya, adalah apa yang saya terjadi pada kami,” kata Scaloni di Atlanta.

Scaloni menyebut sempat akan menelepon De la Fuente jika Argentina tidak berhasil melaju dan sebaliknya tidak akan menghubunginya kalau Argentina ke final.
“Jika sesuatu tidak berjalan baik bagi kami, saya akan meneleponnya. Jika kami melawannya di final, tidak. Jadi mari berharap tidak ada telepon sampai setelah final,” ujar Scaloni.
Untuk sementara, sambungan telepon antara murid dan mentor itu mungkin tertunda. Mereka akan beradu taktik terlebih dulu demi memperebutkan gelar Piala Dunia.
Baca JugaLionel Scaloni, Sang Penyulap dari Pujato