Sejumlah umat terlihat berbincang dalam kelompok kecil di halaman Gereja Santo Fransiskus Xaverius di Melaka, Malaysia, Minggu (5/7/2026). Sebagian besar dari mereka adalah warga keturunan India yang baru saja mengikuti misa Minggu berbahasa Tamil pada pukul 09.00 waktu setempat.
Selain bahasa Tamil, misa juga diselenggarakan pada waktu yang berbeda dengan bahasa pengantar Inggris dan Mandarin.


Umat meninggalkan gereja setelah misa Minggu di Gereja Santo Fransiskus Xaverius, Melaka, Malaysia. (KOMPAS/RADITYA HELABUMI)
Misa Minggu pagi itu menggunakan bahasa Tamil. (KOMPAS/RADITYA HELABUMI)
Jadwal misa terpasang di depan pintu masuk gereja. (KOMPAS/RADITYA HELABUMI)
Gereja Santo Fransiskus Xaverius dibangun pada tahun 1845 oleh Serikat Misi Asing Paris untuk mengenang Santo Fransiskus Xaverius, tokoh yang pernah tinggal dan berkarya di sana setelah tiba di Melaka pada 1545.
Berlokasi di kawasan Banda Hilir, gereja ini merupakan salah satu bangunan bersejarah di Melaka yang masih terawat hingga kini.

Melaka adalah kota bersejarah di Malaysia yang pernah menjadi pusat perdagangan maritim di masa lalu. Sebagai pelabuhan dagang penting, kota ini mempertemukan para saudagar dari Nusantara, India, Timur Tengah, China, hingga Eropa.
Bersama George Town di Penang, Melaka ditetapkan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO pada tahun 2008. Laman resmi UNESCO menyebutkan bahwa Melaka telah berkembang selama lebih dari 500 tahun melalui jalur perdagangan dan pertukaran budaya antara Timur dan Barat di Selat Malaka.




Pengaruh Asia dan Eropa mewariskan kekayaan multikultural yang khas pada kota ini, baik yang berwujud maupun tidak berwujud, seperti gedung pemerintahan, gereja, alun-alun, serta benteng pertahanan.
Sejarah Melaka berawal dari Kesultanan Melayu pada abad ke-15, dilanjutkan dengan periode pendudukan Portugis dan Belanda yang dimulai pada awal abad ke-16. Menurut UNESCO, rentetan sejarah tersebut telah membentuk lanskap arsitektur dan budaya kota yang unik serta tak tertandingi baik di Asia Timur maupun Asia Tenggara.




Kota ini berjarak 146 kilometer dari Kuala Lumpur dan dapat ditempuh dalam waktu dua jam melalui jalur darat. Selain menggunakan mobil pribadi atau melalui agen perjalanan, pelancong juga dapat menggunakan bus umum untuk menuju Melaka. Untuk perjalanan dari Terminal Bersepadu Selatan di Kuala Lumpur menuju Melaka Sentral dikenakan tarif berkisar 12 ringgit hingga 20 ringgit atau setara dengan Rp 52.000 hingga Rp 92.000.
Daya tarik Melaka tidak hanya terletak pada kekayaan sejarahnya, tetapi juga tata kotanya yang mudah dijelajahi. Sebagian besar destinasi utama berada dalam satu kawasan sehingga praktis ditempuh dengan berjalan kaki.


Jika enggan berjalan kaki, pelancong dapat berkeliling menggunakan becak hias yang banyak mangkal di kawasan Stadthuys. Becak hias ini sejatinya adalah sepeda yang dimodifikasi dengan tambahan sespan atau kabin beroda untuk penumpang di sisi sampingnya.
Tidak sekadar dihiasi bunga dan rumbai yang didominasi warna merah muda, kuning, dan ungu, becak-becak ini juga dilengkapi boneka berukuran besar dengan beragam karakter populer, seperti Hello Kitty. Tarif berkeliling dengan becak hias berkisar 20 ringgit hingga 30 ringgit, dan bisa lebih mahal, bergantung pada jarak tempuh.




Namun, berjalan kaki mengitari kawasan ini terasa jauh lebih memuaskan. Selain lebih fleksibel saat melintasi lorong-lorong, pelancong juga lebih leluasa untuk masuk ke pertokoan, mampir ke kedai kopi, mencicipi aneka jajanan kuliner jalanan (street food), ataupun berburu foto. Keberadaan jalur pedestrian yang tertata rapi dan bersih membuat aktivitas berjalan kaki semakin nyaman.
Di tengah pesatnya arus modernisasi di kawasan Asia Tenggara, Melaka berhasil mempertahankan pesonanya sebagai kota warisan dunia dengan teguh merawat aset sejarah dan budaya. Komitmen inilah yang menjadi daya tarik bagi jutaan pelancong untuk berkunjung setiap tahun.


Mengutip laman Bernama, tahun ini Melaka menargetkan 19 juta kunjungan pelancong, sejalan dengan promosi pariwisata Visit Malaysia 2026 dan Visit Melaka Year 2.0 (2024-2026).
Sejumlah umat terlihat berbincang dalam kelompok kecil di halaman Gereja Santo Fransiskus Xaverius di Melaka, Malaysia, Minggu (5/7/2026). Sebagian besar dari mereka adalah warga keturunan India yang baru saja mengikuti misa Minggu berbahasa Tamil pada pukul 09.00 waktu setempat.
Selain bahasa Tamil, misa juga diselenggarakan pada waktu yang berbeda dengan bahasa pengantar Inggris dan Mandarin.



Umat meninggalkan gereja setelah misa Minggu di Gereja Santo Fransiskus Xaverius, Melaka, Malaysia. (KOMPAS/RADITYA HELABUMI)
Misa Minggu pagi itu menggunakan bahasa Tamil. (KOMPAS/RADITYA HELABUMI)
Jadwal misa terpasang di depan pintu masuk gereja. (KOMPAS/RADITYA HELABUMI)
Gereja Santo Fransiskus Xaverius dibangun pada tahun 1845 oleh Serikat Misi Asing Paris untuk mengenang Santo Fransiskus Xaverius, tokoh yang pernah tinggal dan berkarya di sana setelah tiba di Melaka pada 1545.
Berlokasi di kawasan Banda Hilir, gereja ini merupakan salah satu bangunan bersejarah di Melaka yang masih terawat hingga kini.

Melaka adalah kota bersejarah di Malaysia yang pernah menjadi pusat perdagangan maritim di masa lalu. Sebagai pelabuhan dagang penting, kota ini mempertemukan para saudagar dari Nusantara, India, Timur Tengah, China, hingga Eropa.
Bersama George Town di Penang, Melaka ditetapkan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO pada tahun 2008. Laman resmi UNESCO menyebutkan bahwa Melaka telah berkembang selama lebih dari 500 tahun melalui jalur perdagangan dan pertukaran budaya antara Timur dan Barat di Selat Malaka.
Baca JugaMenikmati ”Sunset” dari Beranda Batam




Pengaruh Asia dan Eropa mewariskan kekayaan multikultural yang khas pada kota ini, baik yang berwujud maupun tidak berwujud, seperti gedung pemerintahan, gereja, alun-alun, serta benteng pertahanan.
Sejarah Melaka berawal dari Kesultanan Melayu pada abad ke-15, dilanjutkan dengan periode pendudukan Portugis dan Belanda yang dimulai pada awal abad ke-16. Menurut UNESCO, rentetan sejarah tersebut telah membentuk lanskap arsitektur dan budaya kota yang unik serta tak tertandingi baik di Asia Timur maupun Asia Tenggara.




Kota ini berjarak 146 kilometer dari Kuala Lumpur dan dapat ditempuh dalam waktu dua jam melalui jalur darat. Selain menggunakan mobil pribadi atau melalui agen perjalanan, pelancong juga dapat menggunakan bus umum untuk menuju Melaka. Untuk perjalanan dari Terminal Bersepadu Selatan di Kuala Lumpur menuju Melaka Sentral dikenakan tarif berkisar 12 ringgit hingga 20 ringgit atau setara dengan Rp 52.000 hingga Rp 92.000.
Daya tarik Melaka tidak hanya terletak pada kekayaan sejarahnya, tetapi juga tata kotanya yang mudah dijelajahi. Sebagian besar destinasi utama berada dalam satu kawasan sehingga praktis ditempuh dengan berjalan kaki.


Jika enggan berjalan kaki, pelancong dapat berkeliling menggunakan becak hias yang banyak mangkal di kawasan Stadthuys. Becak hias ini sejatinya adalah sepeda yang dimodifikasi dengan tambahan sespan atau kabin beroda untuk penumpang di sisi sampingnya.
Tidak sekadar dihiasi bunga dan rumbai yang didominasi warna merah muda, kuning, dan ungu, becak-becak ini juga dilengkapi boneka berukuran besar dengan beragam karakter populer, seperti Hello Kitty. Tarif berkeliling dengan becak hias berkisar 20 ringgit hingga 30 ringgit, dan bisa lebih mahal, bergantung pada jarak tempuh.




Namun, berjalan kaki mengitari kawasan ini terasa jauh lebih memuaskan. Selain lebih fleksibel saat melintasi lorong-lorong, pelancong juga lebih leluasa untuk masuk ke pertokoan, mampir ke kedai kopi, mencicipi aneka jajanan kuliner jalanan (street food), ataupun berburu foto. Keberadaan jalur pedestrian yang tertata rapi dan bersih membuat aktivitas berjalan kaki semakin nyaman.
Di tengah pesatnya arus modernisasi di kawasan Asia Tenggara, Melaka berhasil mempertahankan pesonanya sebagai kota warisan dunia dengan teguh merawat aset sejarah dan budaya. Komitmen inilah yang menjadi daya tarik bagi jutaan pelancong untuk berkunjung setiap tahun.


Mengutip laman Bernama, tahun ini Melaka menargetkan 19 juta kunjungan pelancong, sejalan dengan promosi pariwisata Visit Malaysia 2026 dan Visit Melaka Year 2.0 (2024-2026).
Baca JugaMalaysia, Magnet Baru Pariwisata ASEAN