Puluhan ribu penggemar sepak bola membanjiri jalanan ibu kota Argentina pada Rabu (15/7/2026) malam. Mereka menyatu dalam luapan kegembiraan setelah tim nasional Argentina menang 2-1 atas Inggris, sekaligus memastikan tiket ke final Piala Dunia 2026. Di tengah guyuran hujan deras musim dingin di Buenos Aires, mereka berteriak, menangis, dan berlari histeris tanpa baju.
Tubuh mereka dicat dengan warna kebangsaan, biru dan putih. Sebagian dari mereka memanjat tiang lampu jalan serta lampu lalu lintas sambil melambaikan bendera Argentina. Banyak pula yang terisak, larut dalam momen bersejarah tersebut.
Perayaan yang diperkirakan berlangsung hingga larut malam itu pecah menyusul gol kemenangan Lautaro Martinez pada menit ke-2 masa tambahan waktu dalam laga di Atlanta. Sebagai juara bertahan, Argentina kini akan menantang Spanyol di partai final pada hari Minggu.
”Lihatlah sekeliling, orang-orang ini melompat dan menari bersama,” ujar Rosana Beto Cruz (48), seorang biarawati Katolik yang turut merayakan kemenangan di tengah lautan warga. Mereka memadati Monumen Obelisk yang menjulang tinggi di pusat kota, beberapa saat setelah pertandingan usai. ”Piala Dunia dan tim nasional kitalah yang mewujudkan hal ini,” tambahnya.



Eforia para penggemar saat merayakan kemenangan Argentina atas Inggris dalam pertandingan semifinal Piala Dunia di sebuah bar di Buenos Aires, Argentina, Rabu (15/7/2026). Juli 2026.
Para penggemar merayakan kemenangan setelah Argentina mengalahkan Inggris dalam pertandingan semifinal Piala Dunia sepak bola di pusat kota Buenos Aires, Argentina, Rabu (15/7/2026).
Seorang penggemar bertengger di atas lampu lalu lintas dalam perayaan kemenangan Argentina atas Inggris dalam pertandingan semifinal Piala Dunia sepak bola di pusat kota Buenos Aires, Argentina, Rabu (15/7/2026).
Bagi banyak penggemar, kegembiraan ini bukan sekadar soal lolos ke final atau mempertahankan gelar yang diraih empat tahun lalu di Qatar, melainkan juga tentang keberhasilan menaklukkan musuh bebuyutan negara mereka. Laga semifinal pada hari Rabu itu merupakan babak terbaru dalam perseteruan panjang yang telah melampaui batas lapangan hijau, mencakup sengketa kendali Inggris atas Kepulauan Falkland—wilayah yang oleh Argentina disebut Malvinas dan diklaim sebagai kedaulatannya.
”Ini bukan sekadar tentang sepak bola. Ini tentang mengalahkan negara yang telah menghancurkan hati kami,” tutur Maria Bertero (40). Ucapannya merujuk pada Perang 10 Pekan pada tahun 1982, ketika militer Argentina gagal merebut kembali wilayah terpencil di Atlantik Selatan tersebut. ”Hati saya masih sakit jika mengenang kematian putra-putra bangsa kami yang gugur dalam peristiwa itu.”
Namun, kegembiraan segera menggantikan kesedihan saat Bertero kembali membahas pertandingan. ”Ini luar biasa. Benar-benar ajaib. Kemenangan ini membuat saya bangga menjadi warga Argentina,” ungkapnya sambil bersiul dan bersorak.


Euforia di Buenos Aires ini sangat kontras dengan sentimen negatif terhadap Argentina yang baru-baru ini mencuat di media sosial. Tuduhan bahwa FIFA dan wasit berkonspirasi untuk meloloskan megabintang Lionel Messi serta Argentina ke final telah memicu gelombang kebencian terhadap sang juara bertahan.
Meski ada sejumlah keputusan wasit yang dinilai kontroversial, tidak ada bukti yang mendasari klaim tersebut. Hal itu pun tidak sedikit pun menyurutkan euforia warga Argentina.
”Semua perbincangan soal pertandingan yang diatur dan keterlibatan FIFA itu, apakah mereka melihat apa yang sebenarnya terjadi di lapangan? Betapa banyak penderitaan yang telah kami lalui demi ini?” tanya Jorge Luis Lema.
Ia menonton pertandingan di sebuah bar di pusat kota, yang suasananya sempat tegang dan suram hingga menit ke-85, sesaat sebelum gol tak terbendung Enzo Fernandez memecah kebuntuan dan memicu kegembiraan luar biasa. ”Itu semua bohong. Sepak bola tetaplah sepak bola,” katanya menanggapi sentimen kebencian di dunia maya tersebut. ”Siapa pun yang menang, dialah pemenangnya. Dan, Argentina menang sekali lagi.”
Bayang-bayang masa lalu
Perang di Kepulauan Falkland, yang menewaskan 649 warga Argentina—banyak di antaranya wajib militer muda yang kekurangan sumber daya dan kalah persenjataan dari tentara Inggris—tetap menjadi salah satu babak terkelam dalam sejarah negara Amerika Selatan tersebut. Perang ini terus membayangi budaya sepak bola Argentina, terutama sejak salah satu pemain terhebat dalam sejarah, Diego Maradona, memimpin Argentina menaklukkan Inggris pada perempat final Piala Dunia 1986. Kemenangan monumental itu diwarnai oleh gol ”Tangan Tuhan” yang ikonis serta aksi lari solo epik sejauh 58 meter yang dikenang sebagai ”Gol Abad Ini”.
Kini, Messi (39), yang bertahun-tahun bermain di bawah bayang-bayang beban warisan Maradona hingga akhirnya menjadi juara dunia pada 2022, sekali lagi dinilai telah memenuhi—bahkan mungkin melampaui—ekspektasi negaranya.
”Melihat Messi bermain sepak bola seperti ini, di usianya sekarang, sungguh membuat saya takjub,” ujar Matías Adorno (28), satu dari sekian banyak penggemar yang mengenakan jersei Messi di pusat kota Buenos Aires. ”Sebagai orang Argentina, kami selalu menaruh beban tekanan yang sangat besar kepadanya. Namun, ia telah memberikan segalanya untuk kami,” lanjut Adorno dengan senyum lebar.
Teriakan, ”Untuk Malvinas, untuk Diego, untuk turnamen terakhir Leo!” pun menggema memecah udara.



Kerumunan warga berjingkrak-jingkrak mengikuti yel-yel klasik dari masa perang: “El que no salta es un ingles,” yang berarti, ”Siapa pun yang tidak melompat adalah orang Inggris.”
Perayaan tersebut memberikan katarsis langka yang sangat dibutuhkan oleh publik Argentina. Saat ini, mereka tengah terpecah belah di bawah pemerintahan presiden berhaluan libertarian radikal, Javier Milei, dan lelah menghadapi siklus krisis ekonomi yang tak berkesudahan.
”Ini adalah kebahagiaan sejati, terutama di tengah situasi sulit yang sedang kita hadapi saat ini. Biaya hidup sangat mahal dan presiden memecah belah kita,” ucap Yanina Quinteros (40), yang merayakan kemenangan sambil memanggul putrinya yang berusia enam tahun.
”Malam ini, kita semua bersatu,” tambahnya. ”Kakek-nenek, anak-anak, ibu, ayah, kita semua berkumpul di sini untuk merayakan malam ini.” (AP)
Puluhan ribu penggemar sepak bola membanjiri jalanan ibu kota Argentina pada Rabu (15/7/2026) malam. Mereka menyatu dalam luapan kegembiraan setelah tim nasional Argentina menang 2-1 atas Inggris, sekaligus memastikan tiket ke final Piala Dunia 2026. Di tengah guyuran hujan deras musim dingin di Buenos Aires, mereka berteriak, menangis, dan berlari histeris tanpa baju.
Tubuh mereka dicat dengan warna kebangsaan, biru dan putih. Sebagian dari mereka memanjat tiang lampu jalan serta lampu lalu lintas sambil melambaikan bendera Argentina. Banyak pula yang terisak, larut dalam momen bersejarah tersebut.
Perayaan yang diperkirakan berlangsung hingga larut malam itu pecah menyusul gol kemenangan Lautaro Martinez pada menit ke-2 masa tambahan waktu dalam laga di Atlanta. Sebagai juara bertahan, Argentina kini akan menantang Spanyol di partai final pada hari Minggu.
”Lihatlah sekeliling, orang-orang ini melompat dan menari bersama,” ujar Rosana Beto Cruz (48), seorang biarawati Katolik yang turut merayakan kemenangan di tengah lautan warga. Mereka memadati Monumen Obelisk yang menjulang tinggi di pusat kota, beberapa saat setelah pertandingan usai. ”Piala Dunia dan tim nasional kitalah yang mewujudkan hal ini,” tambahnya.



Eforia para penggemar saat merayakan kemenangan Argentina atas Inggris dalam pertandingan semifinal Piala Dunia di sebuah bar di Buenos Aires, Argentina, Rabu (15/7/2026). Juli 2026.
Para penggemar merayakan kemenangan setelah Argentina mengalahkan Inggris dalam pertandingan semifinal Piala Dunia sepak bola di pusat kota Buenos Aires, Argentina, Rabu (15/7/2026).
Seorang penggemar bertengger di atas lampu lalu lintas dalam perayaan kemenangan Argentina atas Inggris dalam pertandingan semifinal Piala Dunia sepak bola di pusat kota Buenos Aires, Argentina, Rabu (15/7/2026).
Bagi banyak penggemar, kegembiraan ini bukan sekadar soal lolos ke final atau mempertahankan gelar yang diraih empat tahun lalu di Qatar, melainkan juga tentang keberhasilan menaklukkan musuh bebuyutan negara mereka. Laga semifinal pada hari Rabu itu merupakan babak terbaru dalam perseteruan panjang yang telah melampaui batas lapangan hijau, mencakup sengketa kendali Inggris atas Kepulauan Falkland—wilayah yang oleh Argentina disebut Malvinas dan diklaim sebagai kedaulatannya.
”Ini bukan sekadar tentang sepak bola. Ini tentang mengalahkan negara yang telah menghancurkan hati kami,” tutur Maria Bertero (40). Ucapannya merujuk pada Perang 10 Pekan pada tahun 1982, ketika militer Argentina gagal merebut kembali wilayah terpencil di Atlantik Selatan tersebut. ”Hati saya masih sakit jika mengenang kematian putra-putra bangsa kami yang gugur dalam peristiwa itu.”
Namun, kegembiraan segera menggantikan kesedihan saat Bertero kembali membahas pertandingan. ”Ini luar biasa. Benar-benar ajaib. Kemenangan ini membuat saya bangga menjadi warga Argentina,” ungkapnya sambil bersiul dan bersorak.


Euforia di Buenos Aires ini sangat kontras dengan sentimen negatif terhadap Argentina yang baru-baru ini mencuat di media sosial. Tuduhan bahwa FIFA dan wasit berkonspirasi untuk meloloskan megabintang Lionel Messi serta Argentina ke final telah memicu gelombang kebencian terhadap sang juara bertahan.
Meski ada sejumlah keputusan wasit yang dinilai kontroversial, tidak ada bukti yang mendasari klaim tersebut. Hal itu pun tidak sedikit pun menyurutkan euforia warga Argentina.
”Semua perbincangan soal pertandingan yang diatur dan keterlibatan FIFA itu, apakah mereka melihat apa yang sebenarnya terjadi di lapangan? Betapa banyak penderitaan yang telah kami lalui demi ini?” tanya Jorge Luis Lema.
Ia menonton pertandingan di sebuah bar di pusat kota, yang suasananya sempat tegang dan suram hingga menit ke-85, sesaat sebelum gol tak terbendung Enzo Fernandez memecah kebuntuan dan memicu kegembiraan luar biasa. ”Itu semua bohong. Sepak bola tetaplah sepak bola,” katanya menanggapi sentimen kebencian di dunia maya tersebut. ”Siapa pun yang menang, dialah pemenangnya. Dan, Argentina menang sekali lagi.”
Bayang-bayang masa lalu
Perang di Kepulauan Falkland, yang menewaskan 649 warga Argentina—banyak di antaranya wajib militer muda yang kekurangan sumber daya dan kalah persenjataan dari tentara Inggris—tetap menjadi salah satu babak terkelam dalam sejarah negara Amerika Selatan tersebut. Perang ini terus membayangi budaya sepak bola Argentina, terutama sejak salah satu pemain terhebat dalam sejarah, Diego Maradona, memimpin Argentina menaklukkan Inggris pada perempat final Piala Dunia 1986. Kemenangan monumental itu diwarnai oleh gol ”Tangan Tuhan” yang ikonis serta aksi lari solo epik sejauh 58 meter yang dikenang sebagai ”Gol Abad Ini”.
Kini, Messi (39), yang bertahun-tahun bermain di bawah bayang-bayang beban warisan Maradona hingga akhirnya menjadi juara dunia pada 2022, sekali lagi dinilai telah memenuhi—bahkan mungkin melampaui—ekspektasi negaranya.
”Melihat Messi bermain sepak bola seperti ini, di usianya sekarang, sungguh membuat saya takjub,” ujar Matías Adorno (28), satu dari sekian banyak penggemar yang mengenakan jersei Messi di pusat kota Buenos Aires. ”Sebagai orang Argentina, kami selalu menaruh beban tekanan yang sangat besar kepadanya. Namun, ia telah memberikan segalanya untuk kami,” lanjut Adorno dengan senyum lebar.
Teriakan, ”Untuk Malvinas, untuk Diego, untuk turnamen terakhir Leo!” pun menggema memecah udara.



Kerumunan warga berjingkrak-jingkrak mengikuti yel-yel klasik dari masa perang: “El que no salta es un ingles,” yang berarti, ”Siapa pun yang tidak melompat adalah orang Inggris.”
Perayaan tersebut memberikan katarsis langka yang sangat dibutuhkan oleh publik Argentina. Saat ini, mereka tengah terpecah belah di bawah pemerintahan presiden berhaluan libertarian radikal, Javier Milei, dan lelah menghadapi siklus krisis ekonomi yang tak berkesudahan.
”Ini adalah kebahagiaan sejati, terutama di tengah situasi sulit yang sedang kita hadapi saat ini. Biaya hidup sangat mahal dan presiden memecah belah kita,” ucap Yanina Quinteros (40), yang merayakan kemenangan sambil memanggul putrinya yang berusia enam tahun.
”Malam ini, kita semua bersatu,” tambahnya. ”Kakek-nenek, anak-anak, ibu, ayah, kita semua berkumpul di sini untuk merayakan malam ini.” (AP)