OSLO, KAMIS – Gelombang panas di Eropa mengungkap kerentanan pada infrastruktur transportasi di benua itu. Negara-negara Eropa mulai beradaptasi dengan mengambil sejumlah solusi seperti memanfaatkan drone atau pesawat nirawak, sensor bertenaga kecerdasan buatan, hingga cat putih untuk menjaga infrastruktur trasportasi. Cuaca ekstrem juga mendorong Eropa melakukan investasi baru dan teknologi.
Norwegia pada Rabu (15/7/2026) dihantam suhu panas 30 derajat celcius atau 10 derajat celcius di atas normal untuk tahun ini. Sementara menurut Reuters Climate Monitor, suhu di seluruh Eropa Barat pada Rabu 5,5 derajat celcius di atas rata-rata harian.
Dengan suhu yang begitu panas, bagi negara-negara Eropa utara yang terbiasa dengan cuaca dingin, mereka harus menjaga infrastruktur tetap beroperasi dengan baik. Maka, para pekerja di Bandara Oslo, Norwegia, menyiram landasan pacu dengan air agar tetap dingin.
Petugas menyemprotkan sekitar 9.000 liter air pada bagian-bagian penting landasan pacu. Bagian-bagian itu dapat rusak pada suhu tinggi karena melunak di bawah beban pesawat.
“Di Norwegia, aspal harus tahan terhadap suhu dingin ekstrem dan suhu yang cukup hangat,” kata Jørn Arvid Remark, insinyur operasional pada operator bandara milik negara Norwegia, Avinor.
Bandara Oslo juga sedang menguji aspal tahan panas baru. Langkah ini mereka ambil sebagai salah satu bentuk adaptasi terhadap suhu panas yang memicu kebakaran hutan, menyebabkan ribuan kematian tambahan, dan memberi tekanan yang semakin besar pada infrastruktur di Eropa.
Selain bandara, Eropa mengantisipasi dampak suhu panas pada jaringan jalan raya dan jalur kereta api. Jalan raya dan jalur kereta api Eropa, yang banyak dibangun beberapa dekade lalu, semakin kesulitan menghadapi suhu panas.
“Infrastruktur kita sama sekali tidak siap menghadapi peristiwa cuaca ekstrem yang akan kita alami,” kata Chris Dodwell, Kepala Pusat Keberlanjutan di Impax Asset Management.
Pada jaringan kereta api, suhu panas tinggi dapat menyebabkan rel memuai, dan wesel, sinyal, serta daya listrik mati. Namun, cuaca ekstrem lainnya yang dipicu oleh suhu tinggi dapat lebih mengganggu.
“Masalah paling kritis bagi jaringan kereta api bukanlah panas itu sendiri. Namun, badai petir, angin kencang, dan tanah longsor yang sering terjadi setelah gelombang panas,” kata Oliviero Baccelli, profesor di Universitas Bocconi Milan.
Menurut Baccelli, Italia sudah mengalami gangguan signifikan pada jaringan kereta apinya, khususnya di jalur Alpen, sebagai akibat dari peristiwa terkait iklim.
Inggris juga menghadapi tantangan pada jaringan kereta apinya. Sebagian besar infrastruktur kereta api Inggris dirancang pada rentang suhu yang lebih sempit daripada jaringan kereta api di Eropa selatan.
John Lawrence, Ketua Jaringan Teknis Kereta Api IET, mengatakan, banyak komponen dan sistem kereta api pada dasarnya ”membeku dalam waktu”. Menurut Lawrence, butuh biaya yang sangat besar untuk membuat seluruh jaringan tahan panas.
Operator kereta sedang mengeksplorasi desain bantalan rel yang lebih stabil. Mereka juga memanfaatkan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) dan drone untuk memeriksa dan memantau jalur kereta yang terdampak suhu panas.
Network Rail Inggris berkomitmen menginvestasikan 2,6 miliar poundsterling antara tahun 2024 dan 2029. Investasi itu untuk membuat jaringan rel lebih tahan pada cuaca ekstrem yang semakin meningkat.

Sementara Swedia punya cara lain untuk beradaptasi dengan suhu panas. Beberapa operator di Swedia menggunakan metode tradisional yang lebih murah untuk memantulkan panas.
Otoritas Transportasi Stockholm menghabiskan sekitar 100.000 krona Swedia untuk mengecat sebagian jalur metro dengan warna putih pada Mei dan Juni. Cat putih diaplikasikan untuk mengurangi risiko kerusakan jalur karena dapat memantulkan panas.
Dengan suhu panas yang semakin sering terjadi dan menantang sistem kereta api di seluruh Eropa, Martin Wilson, Direktur Teknik Alstom, produsen peralatan kereta api Perancis mengatakan, Eropa dapat belajar dari sistem transportasi seperti metro Riyadh dan trem Dubai. Di dua kota itu, infrastruktur transportasi umum dirancang untuk beroperasi pada suhu di atas 50 derajat celcius.
Eropa pun tengah mencari solusi atas dampak suhu panas pada jaringan jalan raya. Para insinyur mengatakan, jalan raya di Eropa utara dibangun terutama untuk menahan kerusakan akibat siklus beku-cair. Sementara negara-negara Eropa selatan menggunakan campuran aspal yang lebih cocok untuk musim panas yang berkepanjangan.
“Mereka mungkin harus menyesuaikan pendekatan mereka,” kata José Pablo Sáez Villar dari Asosiasi Insinyur Sipil Spanyol, merujuk pada para perencana dan pembangun jalan di Eropa utara.
Operator transportasi Paris, RATP, membentuk unit darurat gelombang panas. Mereka mempersiapkan rencana adaptasi iklim pada akhir tahun.
Di Norwegia, para pejabat mengatakan, cuaca yang lebih hangat dan lebih basah mengubah cara desain infrastruktur baru. “Jalan akan dibuat lebih kokoh,” kata Grethe Vikane, Kepala Pengembangan Sosial dan Iklim di Administrasi Jalan Raya Norwegia.
Langkah itu diperkirakan membuat jalan raya dapat menahan tantangan yang sudah dialami dan konsekuensi dari perubahan iklim yang akan datang.

Toronto dan New York tercekik
Saat Eropa berjibaku melindungi infrastruktur dari suhu panas, Toronto di Kanada dan New York di Amerika Serikat tercekik asap kebakaran hutan.
Asap kebakaran menjadikan Toronto sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di seluruh dunia, melampaui Kinshasa (Republik Demokratik Kongo) dan New Delhi India) yang langganan kualitas udara terburuk. Asap menyebar hingga ke New York, membuat kota itu berada di peringkat kelima kota dengan kualitas udara terburuk.
Dilansir Reuters, Rabu, terjadi 835 kebakaran aktif di Kanada. Pemerintah Kanada menyatakan, sebanyak 112 titik kebakaran di antaranya dianggap di luar kendali.
Sejauh ini, sekitar 1,9 juta hektar lahan terbakar. Sebagian besar kebakaran terjadi di wilayah tengah Kanada seperti provinsi Manitoba, Saskatchewan, dan Ontario.
Sebuah video viral menunjukkan kereta Canadian National dikelilingi api kebakaran hutan di dekat Armstrong, Ontario. Pernyataan Canadian National menyebutan, karyawan perusahaan dan penduduk dievakuasi. Perusahaan juga menangguhkan operasi kereta api di dekat Armstrong sebagai pencegahan.
Sementara Environment Canada melaporkan indeks kualitas udara (AQHI) sebesar 10+ akibat kebakaran hutan. Indeks itu diklasifikasikan sebagai “risiko sangat tinggi” untuk Toronto.

Badan Layanan Cuaca AS memperkirakan, kondisi berbahaya dapat berlanjut hingga Kamis malam. Sementara suhu panas tinggi pada musim panas ini juga diperkirakan terjadi.
Kualitas udara yang buruk mendorong peringatan kesehatan. Pemerintah Kanada menyerukan kepada warga untuk membatasi aktivitas di luar ruangan. Pemerintah Negara Bagian New York juga meminta warga beristirahat lebih banyak jika mereka berada di luar ruangan.
Gubernur Negara Bagian New York Kathy Hochul mengatakan, asap dan kabut dari kebakaran hutan Kanada menciptakan kondisi udara yang tidak sehat di seluruh wilayahnya. Ia mengimbau masyarakat, terutama mereka yang memiliki masalah kesehatan, untuk berhati-hati.

Buruknya kualitas udara membuat Kota Toronto membatalkan Festival Penggemar FIFA dan pesta nonton Piala Dunia Inggris-Argentina di Nathan Phillips Square. Buruknya kualitas udara juga diperkirakan mengganggu puluhan ribu orang yang akan menghadiri final Piala Dunia di stadion terbuka di New Jersey, Minggu.
Dan Westervelt, profesor madya di Sekolah Iklim Universitas Columbia, mengatakan, kondisi kekeringan parah yang dikombinasikan dengan panas di Kanada dan AS menciptakan “badai sempurna” untuk kebakaran hutan. Penelitian menunjukkan, peningkatan suhu akibat pembakaran batu bara, minyak, dan gas membuat kebakaran lebih sering dan lebih intens.
Greg Evans, profesor Teknik Kimia dan Kimia Terapan pada Universitas Toronto, mencatat, Toronto secara bersamaan dilanda panas ekstrem dan asap kebakaran hutan. “Saya memperkirakan hal ini terjadi lebih sering dalam beberapa dekade mendatang sehingga kota-kota dan penduduk perlu mempersiapkan diri untuk hal ini di masa depan,” katanya. (AP/AFP/REUTERS)
OSLO, KAMIS – Gelombang panas di Eropa mengungkap kerentanan pada infrastruktur transportasi di benua itu. Negara-negara Eropa mulai beradaptasi dengan mengambil sejumlah solusi seperti memanfaatkan drone atau pesawat nirawak, sensor bertenaga kecerdasan buatan, hingga cat putih untuk menjaga infrastruktur trasportasi. Cuaca ekstrem juga mendorong Eropa melakukan investasi baru dan teknologi.
Norwegia pada Rabu (15/7/2026) dihantam suhu panas 30 derajat celcius atau 10 derajat celcius di atas normal untuk tahun ini. Sementara menurut Reuters Climate Monitor, suhu di seluruh Eropa Barat pada Rabu 5,5 derajat celcius di atas rata-rata harian.
Baca JugaSuhu Panas Ekstrem Membakar Wilayah Eropa
Dengan suhu yang begitu panas, bagi negara-negara Eropa utara yang terbiasa dengan cuaca dingin, mereka harus menjaga infrastruktur tetap beroperasi dengan baik. Maka, para pekerja di Bandara Oslo, Norwegia, menyiram landasan pacu dengan air agar tetap dingin.
Petugas menyemprotkan sekitar 9.000 liter air pada bagian-bagian penting landasan pacu. Bagian-bagian itu dapat rusak pada suhu tinggi karena melunak di bawah beban pesawat.
“Di Norwegia, aspal harus tahan terhadap suhu dingin ekstrem dan suhu yang cukup hangat,” kata Jørn Arvid Remark, insinyur operasional pada operator bandara milik negara Norwegia, Avinor.
Bandara Oslo juga sedang menguji aspal tahan panas baru. Langkah ini mereka ambil sebagai salah satu bentuk adaptasi terhadap suhu panas yang memicu kebakaran hutan, menyebabkan ribuan kematian tambahan, dan memberi tekanan yang semakin besar pada infrastruktur di Eropa.

Selain bandara, Eropa mengantisipasi dampak suhu panas pada jaringan jalan raya dan jalur kereta api. Jalan raya dan jalur kereta api Eropa, yang banyak dibangun beberapa dekade lalu, semakin kesulitan menghadapi suhu panas.
“Infrastruktur kita sama sekali tidak siap menghadapi peristiwa cuaca ekstrem yang akan kita alami,” kata Chris Dodwell, Kepala Pusat Keberlanjutan di Impax Asset Management.
Pada jaringan kereta api, suhu panas tinggi dapat menyebabkan rel memuai, dan wesel, sinyal, serta daya listrik mati. Namun, cuaca ekstrem lainnya yang dipicu oleh suhu tinggi dapat lebih mengganggu.
“Masalah paling kritis bagi jaringan kereta api bukanlah panas itu sendiri. Namun, badai petir, angin kencang, dan tanah longsor yang sering terjadi setelah gelombang panas,” kata Oliviero Baccelli, profesor di Universitas Bocconi Milan.
Baca JugaGelombang Panas Picu Kebakaran Dahsyat di Spanyol, Belasan Orang Tewas
Menurut Baccelli, Italia sudah mengalami gangguan signifikan pada jaringan kereta apinya, khususnya di jalur Alpen, sebagai akibat dari peristiwa terkait iklim.
Inggris juga menghadapi tantangan pada jaringan kereta apinya. Sebagian besar infrastruktur kereta api Inggris dirancang pada rentang suhu yang lebih sempit daripada jaringan kereta api di Eropa selatan.
John Lawrence, Ketua Jaringan Teknis Kereta Api IET, mengatakan, banyak komponen dan sistem kereta api pada dasarnya ”membeku dalam waktu”. Menurut Lawrence, butuh biaya yang sangat besar untuk membuat seluruh jaringan tahan panas.
Operator kereta sedang mengeksplorasi desain bantalan rel yang lebih stabil. Mereka juga memanfaatkan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) dan drone untuk memeriksa dan memantau jalur kereta yang terdampak suhu panas.
Network Rail Inggris berkomitmen menginvestasikan 2,6 miliar poundsterling antara tahun 2024 dan 2029. Investasi itu untuk membuat jaringan rel lebih tahan pada cuaca ekstrem yang semakin meningkat.

Sementara Swedia punya cara lain untuk beradaptasi dengan suhu panas. Beberapa operator di Swedia menggunakan metode tradisional yang lebih murah untuk memantulkan panas.
Otoritas Transportasi Stockholm menghabiskan sekitar 100.000 krona Swedia untuk mengecat sebagian jalur metro dengan warna putih pada Mei dan Juni. Cat putih diaplikasikan untuk mengurangi risiko kerusakan jalur karena dapat memantulkan panas.
Dengan suhu panas yang semakin sering terjadi dan menantang sistem kereta api di seluruh Eropa, Martin Wilson, Direktur Teknik Alstom, produsen peralatan kereta api Perancis mengatakan, Eropa dapat belajar dari sistem transportasi seperti metro Riyadh dan trem Dubai. Di dua kota itu, infrastruktur transportasi umum dirancang untuk beroperasi pada suhu di atas 50 derajat celcius.
Baca JugaGelombang Panas Memanggang Eropa Barat dan Sebagian Asia
Eropa pun tengah mencari solusi atas dampak suhu panas pada jaringan jalan raya. Para insinyur mengatakan, jalan raya di Eropa utara dibangun terutama untuk menahan kerusakan akibat siklus beku-cair. Sementara negara-negara Eropa selatan menggunakan campuran aspal yang lebih cocok untuk musim panas yang berkepanjangan.
“Mereka mungkin harus menyesuaikan pendekatan mereka,” kata José Pablo Sáez Villar dari Asosiasi Insinyur Sipil Spanyol, merujuk pada para perencana dan pembangun jalan di Eropa utara.
Operator transportasi Paris, RATP, membentuk unit darurat gelombang panas. Mereka mempersiapkan rencana adaptasi iklim pada akhir tahun.
Di Norwegia, para pejabat mengatakan, cuaca yang lebih hangat dan lebih basah mengubah cara desain infrastruktur baru. “Jalan akan dibuat lebih kokoh,” kata Grethe Vikane, Kepala Pengembangan Sosial dan Iklim di Administrasi Jalan Raya Norwegia.
Langkah itu diperkirakan membuat jalan raya dapat menahan tantangan yang sudah dialami dan konsekuensi dari perubahan iklim yang akan datang.

Toronto dan New York tercekik
Saat Eropa berjibaku melindungi infrastruktur dari suhu panas, Toronto di Kanada dan New York di Amerika Serikat tercekik asap kebakaran hutan.
Asap kebakaran menjadikan Toronto sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di seluruh dunia, melampaui Kinshasa (Republik Demokratik Kongo) dan New Delhi India) yang langganan kualitas udara terburuk. Asap menyebar hingga ke New York, membuat kota itu berada di peringkat kelima kota dengan kualitas udara terburuk.
Dilansir Reuters, Rabu, terjadi 835 kebakaran aktif di Kanada. Pemerintah Kanada menyatakan, sebanyak 112 titik kebakaran di antaranya dianggap di luar kendali.
Baca JugaKebakaran Lahan di Kanada, AS Ikut Panen Kabut Asap
Sejauh ini, sekitar 1,9 juta hektar lahan terbakar. Sebagian besar kebakaran terjadi di wilayah tengah Kanada seperti provinsi Manitoba, Saskatchewan, dan Ontario.
Sebuah video viral menunjukkan kereta Canadian National dikelilingi api kebakaran hutan di dekat Armstrong, Ontario. Pernyataan Canadian National menyebutan, karyawan perusahaan dan penduduk dievakuasi. Perusahaan juga menangguhkan operasi kereta api di dekat Armstrong sebagai pencegahan.
Sementara Environment Canada melaporkan indeks kualitas udara (AQHI) sebesar 10+ akibat kebakaran hutan. Indeks itu diklasifikasikan sebagai “risiko sangat tinggi” untuk Toronto.

Badan Layanan Cuaca AS memperkirakan, kondisi berbahaya dapat berlanjut hingga Kamis malam. Sementara suhu panas tinggi pada musim panas ini juga diperkirakan terjadi.
Kualitas udara yang buruk mendorong peringatan kesehatan. Pemerintah Kanada menyerukan kepada warga untuk membatasi aktivitas di luar ruangan. Pemerintah Negara Bagian New York juga meminta warga beristirahat lebih banyak jika mereka berada di luar ruangan.
Gubernur Negara Bagian New York Kathy Hochul mengatakan, asap dan kabut dari kebakaran hutan Kanada menciptakan kondisi udara yang tidak sehat di seluruh wilayahnya. Ia mengimbau masyarakat, terutama mereka yang memiliki masalah kesehatan, untuk berhati-hati.

Buruknya kualitas udara membuat Kota Toronto membatalkan Festival Penggemar FIFA dan pesta nonton Piala Dunia Inggris-Argentina di Nathan Phillips Square. Buruknya kualitas udara juga diperkirakan mengganggu puluhan ribu orang yang akan menghadiri final Piala Dunia di stadion terbuka di New Jersey, Minggu.
Dan Westervelt, profesor madya di Sekolah Iklim Universitas Columbia, mengatakan, kondisi kekeringan parah yang dikombinasikan dengan panas di Kanada dan AS menciptakan “badai sempurna” untuk kebakaran hutan. Penelitian menunjukkan, peningkatan suhu akibat pembakaran batu bara, minyak, dan gas membuat kebakaran lebih sering dan lebih intens.
Greg Evans, profesor Teknik Kimia dan Kimia Terapan pada Universitas Toronto, mencatat, Toronto secara bersamaan dilanda panas ekstrem dan asap kebakaran hutan. “Saya memperkirakan hal ini terjadi lebih sering dalam beberapa dekade mendatang sehingga kota-kota dan penduduk perlu mempersiapkan diri untuk hal ini di masa depan,” katanya. (AP/AFP/REUTERS)