ATLANTA, KOMPAS – Cerita yang sama, hasil yang sama. Pertandingan semifinal Piala Dunia 2026 antara Argentina lawan Inggris di Stadion Mercedes-Benz, Atlanta, Georgia, Rabu (15/7/2026), seperti sebuah deja vu, mengulang laga sebelumnya ketika Lionel Messi menjadi pahlawan saat mengalahkan Mesir di stadion yang sama pada laga perempat final.
Argentina pun melaju ke final Piala Dunia untuk kedua kalinya beruntun setelah menaklukkan Inggris dengan skor 2-1. ”La Scaloneta” telah ditunggu oleh Spanyol yang terlebih dulu memastikan tiket final seusai mempecundangi Perancis, 2-0, pada laga di Dallas, Texas, sehari sebelumnya. Partai puncak Piala Dunia 2026 akan digelar di Stadion MetLife, East Rutherford, New Jersey, Minggu (19/7/2026).
Menghadapi ”Tiga Singa”, perjalanan sang juara bertahan sepertinya akan terhenti setelah tertinggal oleh gol yang dicetak Anthony Gordon hingga lima menit menjelang waktu normal berakhir.
Akan tetapi, lagi-lagi magis Messi menjadi pembeda setelah umpannya di lini tengah berhasil dimanfaatkan dengan sempurna oleh Enzo Fernandez untuk menyelamatkan Argentina dari kekalahan.
Dari kaki Messi pula, gol kemenangan Argentina lahir. Messi yang menusuk sisi kiri pertahanan Inggris melepaskan umpan silang matang dengan kaki kanan yang diselesaikan dengan sundulan keras Lautaro Martinez pada menit ke-90+2.
Argentina pun berpeluang menjadi tim ketiga yang sanggup menjadi juara dunia beruntun. Sejauh ini, hanya dua tim yang berhasil mempertahankan gelar, yaitu Italia dan Brasil, dan itu sudah terjadi beberapa dekade lalu.
Brasil menjadi juara berturut-turut pada 1958 di Swedia dan 1962 (Cile). Sebelumnya, Italia menjadi negara pertama yang melakukannya pada tahun 1934 (Italia) dan 1938 (Perancis).
Sebaliknya bagi Inggris, hasil tersebut memperpanjang puasa gelar yang terakhir mereka raih pada 60 tahun lalu.
Saat para pemain dan pendukung Argentina bergembira selepas wasit Ismail Elfath meniup peluit panjang, para pemain Inggris seperti tak percaya dengan apa yang baru saja mereka alami. Mereka sudah begitu dekat dari kemenangan, tetapi direnggut kejeniusan Messi.

Stadion Mercedez Benz pun bergetar karena pesta para pendukung Argentina. Mereka saling berpelukan, menari dan menyanyikan lagu La Cuarta Estrella, ”Bintang Keempat”, yang menjadi penyemangat selama turnamen di Amerika. Di lapangan, para pemain Argentina merayakan kemenangan dengan menari bersama.
”Aku ingin melihat bintang keempat bersinar di jersei… demi Malvinas, demi Diego, demi tarian terakhir Leo, Argentina aku ingin melihatmu menjadi juara berturut-turut,” demikian salah satu bunyi lirik lagu tersebut.
Selepas laga, para pemain Argentina bahkan merayakan kemenangan dengan menampilkan spanduk bertuliskan ”Las Malvinas son Argentinas”. Yang artinya, ”Kepulauan Malvinas adalah milik Argentina”.
Adu taktik
Pertandingan semifinal Piala Dunia 2026 antara Inggris dan Argentina menjadi salah satu laga yang sarat adu taktik. Seperti diprediksi, pelatih Inggris Thomas Tuchel memfokuskan pertahanan ”Tiga Singa” untuk meredam Messi yang menjadi motor lini serang Argentina.
Laga ini berlangsung sarat emosi, yang sudah terasa sejak dari luar stadion hingga menjelang sepak mula. Meski secara umum akur, beberapa kali suporter saling ejek saat ketemu meskipun tidak sampai menimbulkan keributan.
Atmosfer kian panas saat lagu kebangsaan kedua negara dikumandangkan. Jika pada laga laga sebelumnya para suporter diam, kali ini tidak.

Saat ”God Save the King” dikumandangkan, suporter Argentina menyorakinya sehingga sama sekali tidak terdengar. Demikian pula ketika lagu ”Himno Nacional Argentino” berkumandang, suporter Inggris mencemoohnya.
Di lapangan, kedua pelatih melakukan sejumlah perubahan strategi demi saling mengantisipasi kelebihan lawan. Di sisi Argentina, Lionel Scaloni yang sebelumnya memakai formasi 4-1-3-2 mengubah formasi menjadi 4-4-2, untuk mengantisipasi sektor sayap yang menjadi salah satu kekuatan Inggris.
Ia memasukkan Giuliano Simeone menggantikan Rodrigo De Paul dan diposisikan sebagai sayap kanan. Leandro Paredes yang biasanya menjadi jangkar tunggal (single pivot), kali ini didorong menjadi gelandang tengah bersama Alexis Mac Allister, sejajar dengan Simeone di sayap kanan dan Enzo Fernandez yang didapuk di sayap kiri.

Sebaliknya, pelatih Inggris Thomas Tuchel memperkuat lini tengah dengan mengorbankan salah satu sayapnya. Strategi tersebut demi membendung pergerakan lini serang Argentina yang akan banyak mengalirkan bola dari tengah.
Tetap dengan formasi andalan 4-2-3-1, Tuchel memasukkan gelandang serang Morgan Rogers mengisi posisi penyerang kanan yang biasa ditempati Noni Madueke. Rogers biasanya beroperasi di belakang Kane, menempati posisi Jude Bellingham.
Pelatih asal Jerman ini juga mengubah lini belakang dengan memasukkan Djed Spence menggantikan Nico O’Reilley sebagai bek kiri. Tuchel mengembalikan Reece James yang sudah pulih dari cedera ke susunan pemain mula sebagai bek kanan.

Messi yang sudah mencetak delapan gol sepanjang turnamen terus dikawal oleh Elliot Anderson dan Declan Rice. Taktik utama Inggris adalah memotong sirkulasi bola pendek La Scaloneta di area tengah melalui tekanan agresif Jude Bellingham dan Rice demi mengantisipasi situasi overload di lini tengah.
Argentina yang datang dengan rekor kemenangan beruntun terpanjang sepanjang sejarah Piala Dunia (enam kemenangan) mendominasi penguasaan bola, namun mereka selalu terganggu dengan transisi kilat Inggris. Duet Harry Kane dan Bellingham yang sangat klinis menjadi ancaman terbesar bagi garis pertahanan tinggi pasukan Lionel Scaloni.
Baru memasuki menit ketiga, pelanggaran keras pemain Argentina membuat kedua tim terlibat saling dorong. Peluang terbaik pada babak pertama dimiliki oleh Inggris pada menit ke-33.
Tusukan Bellingham memaksa pemain Argentina melakukan pelanggaran. Tendangan bebas Rice disundul John Stone tapi bola masih melebar dari gawang Emiliano Martinez.
Tendangan mengarah ke gawang pertama pada laga ini juga didapat Inggris melalui skema tendangan bebas. Lagi-lagi itu berasal dari pergerakan Bellingham pada menit ke-36 yang memaksa pemain Argentina melanggarnya. Tendangan keras Rice berhasil dimentahkan Martinez.
Argentina giliran mengancam dua menit kemudian melalui tendangan Enzo Fernandez. Akan tetapi, bola melambung di atas mistar Jordan Pickford. Laga pun berakhir imbang 0-0 pada babak pertama.

Memasuki babak kedua, Argentina kembali lebih banyak menguasai bola sementara Inggris menunggu peluang untuk melakukan cepat. Peluang itu tiba pada menit ke-55.
Melalui skema permainan dari belakang, bola jatuh ke kaki Rogers di sayap kanan. Ia kemudian mengirim umpan silang ke arah tiang jauh (back post) pertahanan Argentina.
Gordon dengan cerdik melakukan lari menusuk dari sisi kiri (blind side pertahanan Argentina) untuk menyambut bola tersebut tanpa terkawal. Dengan ketenangan tinggi, Gordon melepaskan sontekan jarak dekat yang melewati hadangan penjaga gawang Argentina, Emiliano Martinez.
Blunder taktik Tuchel
Setelah gol tersebut, Inggris cenderung bermain bertahan untuk mengamankan keunggulan. Mereka membiarkan para pemain Argentina menguasai bola dengan menumpuk pemain di kotak penalti.
”Tiga Singa” mati-matian mempertahankan gawang dari ancaman Messi yang semakin bebas beroperasi. Tak ada pemain Inggris yang menjaganya dengan ketat sehingga ia mampu melepaskan sejumlah umpan akurat ke area berbahaya.
Berkali-kali Argentina mengancam gawang Pickford. Bahkan, dua kali peluang Argentina, salah satunya melalui sundulan Mac Allister, membentur tiang gawang.

Inggris seperti mengundang bencana dengan terlalu bermain bertahan. Pergantian Tuchel yang sangat negatif menjadi titik balik pertandingan tersebut. Ia menarik keluar sang pencetak gol, Gordon, pada menit ke-72, dan memasukkan bek tengah Ezri Konsa.
Itu merupakan sinyal bahwa Inggris hanya akan bermain bertahan dan membiarkan pemain sekelas Messi untuk beroperasi bebas di sekitar kotak penalti mereka. Pergantian negatif Inggris berikutnya dilakukan Tuchel dengan memasukkan bek tengah Dan Burn dan bek kiri Nico O’Reilley, menggantikan Rice dan Reece James pada menit ke-82.
Hanya tiga menit setelah pergantian tersebut, bencana pun menghampiri Inggris. Fernandez yang beroperasi bebas tanpa kawalan di lini tengah, mendapatkan umpan matang dari Messi yang langsung melepaskan tembakan keras dari jarak 22 meter tanpa bisa dibendung oleh Pickford.

Para pemain Inggris seperti sengaja membiarkan Fernandez yang beberapa saat sebelumnya sudah mengancam gawang Pickford dari tempat yang sama.
Akhirnya, Inggris harus mengubur mimpi mereka untuk lolos ke final Piala Dunia setelah sundulan pemain pengganti Lautaro Martinez memanfaatkan umpan Messi menghujam gawang Pickford. Upaya Inggris untuk mengejar ketinggalan, termasuk menjadikan Burn sebagai striker mendampingi Kane tak membuahkan hasil.
Hasil itu kian mengukuhkan nama Messi sebagai pesepak bola terbaik sepanjang masa. Ia bisa melampaui pencapaian dewa sepak bola Argentina, Diego Maradona, jika mampu mempersembahkan trofi Piala Dunia yang keempat.
ATLANTA, KOMPAS – Cerita yang sama, hasil yang sama. Pertandingan semifinal Piala Dunia 2026 antara Argentina lawan Inggris di Stadion Mercedes-Benz, Atlanta, Georgia, Rabu (15/7/2026), seperti sebuah deja vu, mengulang laga sebelumnya ketika Lionel Messi menjadi pahlawan saat mengalahkan Mesir di stadion yang sama pada laga perempat final.
Argentina pun melaju ke final Piala Dunia untuk kedua kalinya beruntun setelah menaklukkan Inggris dengan skor 2-1. ”La Scaloneta” telah ditunggu oleh Spanyol yang terlebih dulu memastikan tiket final seusai mempecundangi Perancis, 2-0, pada laga di Dallas, Texas, sehari sebelumnya. Partai puncak Piala Dunia 2026 akan digelar di Stadion MetLife, East Rutherford, New Jersey, Minggu (19/7/2026).
Menghadapi ”Tiga Singa”, perjalanan sang juara bertahan sepertinya akan terhenti setelah tertinggal oleh gol yang dicetak Anthony Gordon hingga lima menit menjelang waktu normal berakhir.

Akan tetapi, lagi-lagi magis Messi menjadi pembeda setelah umpannya di lini tengah berhasil dimanfaatkan dengan sempurna oleh Enzo Fernandez untuk menyelamatkan Argentina dari kekalahan.
Dari kaki Messi pula, gol kemenangan Argentina lahir. Messi yang menusuk sisi kiri pertahanan Inggris melepaskan umpan silang matang dengan kaki kanan yang diselesaikan dengan sundulan keras Lautaro Martinez pada menit ke-90+2.
Argentina pun berpeluang menjadi tim ketiga yang sanggup menjadi juara dunia beruntun. Sejauh ini, hanya dua tim yang berhasil mempertahankan gelar, yaitu Italia dan Brasil, dan itu sudah terjadi beberapa dekade lalu.
Brasil menjadi juara berturut-turut pada 1958 di Swedia dan 1962 (Cile). Sebelumnya, Italia menjadi negara pertama yang melakukannya pada tahun 1934 (Italia) dan 1938 (Perancis).
Sebaliknya bagi Inggris, hasil tersebut memperpanjang puasa gelar yang terakhir mereka raih pada 60 tahun lalu.
Saat para pemain dan pendukung Argentina bergembira selepas wasit Ismail Elfath meniup peluit panjang, para pemain Inggris seperti tak percaya dengan apa yang baru saja mereka alami. Mereka sudah begitu dekat dari kemenangan, tetapi direnggut kejeniusan Messi.

Stadion Mercedez Benz pun bergetar karena pesta para pendukung Argentina. Mereka saling berpelukan, menari dan menyanyikan lagu La Cuarta Estrella, ”Bintang Keempat”, yang menjadi penyemangat selama turnamen di Amerika. Di lapangan, para pemain Argentina merayakan kemenangan dengan menari bersama.
”Aku ingin melihat bintang keempat bersinar di jersei… demi Malvinas, demi Diego, demi tarian terakhir Leo, Argentina aku ingin melihatmu menjadi juara berturut-turut,” demikian salah satu bunyi lirik lagu tersebut.
Selepas laga, para pemain Argentina bahkan merayakan kemenangan dengan menampilkan spanduk bertuliskan ”Las Malvinas son Argentinas”. Yang artinya, ”Kepulauan Malvinas adalah milik Argentina”.
Adu taktik
Pertandingan semifinal Piala Dunia 2026 antara Inggris dan Argentina menjadi salah satu laga yang sarat adu taktik. Seperti diprediksi, pelatih Inggris Thomas Tuchel memfokuskan pertahanan ”Tiga Singa” untuk meredam Messi yang menjadi motor lini serang Argentina.
Laga ini berlangsung sarat emosi, yang sudah terasa sejak dari luar stadion hingga menjelang sepak mula. Meski secara umum akur, beberapa kali suporter saling ejek saat ketemu meskipun tidak sampai menimbulkan keributan.
Atmosfer kian panas saat lagu kebangsaan kedua negara dikumandangkan. Jika pada laga laga sebelumnya para suporter diam, kali ini tidak.
Baca JugaInggris Jadi Semifinalis dengan Perjalanan Terjauh di Piala Dunia

Saat ”God Save the King” dikumandangkan, suporter Argentina menyorakinya sehingga sama sekali tidak terdengar. Demikian pula ketika lagu ”Himno Nacional Argentino” berkumandang, suporter Inggris mencemoohnya.
Di lapangan, kedua pelatih melakukan sejumlah perubahan strategi demi saling mengantisipasi kelebihan lawan. Di sisi Argentina, Lionel Scaloni yang sebelumnya memakai formasi 4-1-3-2 mengubah formasi menjadi 4-4-2, untuk mengantisipasi sektor sayap yang menjadi salah satu kekuatan Inggris.
Ia memasukkan Giuliano Simeone menggantikan Rodrigo De Paul dan diposisikan sebagai sayap kanan. Leandro Paredes yang biasanya menjadi jangkar tunggal (single pivot), kali ini didorong menjadi gelandang tengah bersama Alexis Mac Allister, sejajar dengan Simeone di sayap kanan dan Enzo Fernandez yang didapuk di sayap kiri.

Sebaliknya, pelatih Inggris Thomas Tuchel memperkuat lini tengah dengan mengorbankan salah satu sayapnya. Strategi tersebut demi membendung pergerakan lini serang Argentina yang akan banyak mengalirkan bola dari tengah.
Tetap dengan formasi andalan 4-2-3-1, Tuchel memasukkan gelandang serang Morgan Rogers mengisi posisi penyerang kanan yang biasa ditempati Noni Madueke. Rogers biasanya beroperasi di belakang Kane, menempati posisi Jude Bellingham.
Pelatih asal Jerman ini juga mengubah lini belakang dengan memasukkan Djed Spence menggantikan Nico O’Reilley sebagai bek kiri. Tuchel mengembalikan Reece James yang sudah pulih dari cedera ke susunan pemain mula sebagai bek kanan.
Baca JugaInggris Vs Argentina: Seringai Bellingham dan Kane dari Kejauhan

Messi yang sudah mencetak delapan gol sepanjang turnamen terus dikawal oleh Elliot Anderson dan Declan Rice. Taktik utama Inggris adalah memotong sirkulasi bola pendek La Scaloneta di area tengah melalui tekanan agresif Jude Bellingham dan Rice demi mengantisipasi situasi overload di lini tengah.
Argentina yang datang dengan rekor kemenangan beruntun terpanjang sepanjang sejarah Piala Dunia (enam kemenangan) mendominasi penguasaan bola, namun mereka selalu terganggu dengan transisi kilat Inggris. Duet Harry Kane dan Bellingham yang sangat klinis menjadi ancaman terbesar bagi garis pertahanan tinggi pasukan Lionel Scaloni.
Baru memasuki menit ketiga, pelanggaran keras pemain Argentina membuat kedua tim terlibat saling dorong. Peluang terbaik pada babak pertama dimiliki oleh Inggris pada menit ke-33.
Baca JugaArgentina Selalu Punya Cara untuk Keluar dari Kesulitan
Tusukan Bellingham memaksa pemain Argentina melakukan pelanggaran. Tendangan bebas Rice disundul John Stone tapi bola masih melebar dari gawang Emiliano Martinez.
Tendangan mengarah ke gawang pertama pada laga ini juga didapat Inggris melalui skema tendangan bebas. Lagi-lagi itu berasal dari pergerakan Bellingham pada menit ke-36 yang memaksa pemain Argentina melanggarnya. Tendangan keras Rice berhasil dimentahkan Martinez.
Argentina giliran mengancam dua menit kemudian melalui tendangan Enzo Fernandez. Akan tetapi, bola melambung di atas mistar Jordan Pickford. Laga pun berakhir imbang 0-0 pada babak pertama.

Memasuki babak kedua, Argentina kembali lebih banyak menguasai bola sementara Inggris menunggu peluang untuk melakukan cepat. Peluang itu tiba pada menit ke-55.
Melalui skema permainan dari belakang, bola jatuh ke kaki Rogers di sayap kanan. Ia kemudian mengirim umpan silang ke arah tiang jauh (back post) pertahanan Argentina.
Gordon dengan cerdik melakukan lari menusuk dari sisi kiri (blind side pertahanan Argentina) untuk menyambut bola tersebut tanpa terkawal. Dengan ketenangan tinggi, Gordon melepaskan sontekan jarak dekat yang melewati hadangan penjaga gawang Argentina, Emiliano Martinez.
Blunder taktik Tuchel
Setelah gol tersebut, Inggris cenderung bermain bertahan untuk mengamankan keunggulan. Mereka membiarkan para pemain Argentina menguasai bola dengan menumpuk pemain di kotak penalti.
”Tiga Singa” mati-matian mempertahankan gawang dari ancaman Messi yang semakin bebas beroperasi. Tak ada pemain Inggris yang menjaganya dengan ketat sehingga ia mampu melepaskan sejumlah umpan akurat ke area berbahaya.
Berkali-kali Argentina mengancam gawang Pickford. Bahkan, dua kali peluang Argentina, salah satunya melalui sundulan Mac Allister, membentur tiang gawang.

Inggris seperti mengundang bencana dengan terlalu bermain bertahan. Pergantian Tuchel yang sangat negatif menjadi titik balik pertandingan tersebut. Ia menarik keluar sang pencetak gol, Gordon, pada menit ke-72, dan memasukkan bek tengah Ezri Konsa.
Itu merupakan sinyal bahwa Inggris hanya akan bermain bertahan dan membiarkan pemain sekelas Messi untuk beroperasi bebas di sekitar kotak penalti mereka. Pergantian negatif Inggris berikutnya dilakukan Tuchel dengan memasukkan bek tengah Dan Burn dan bek kiri Nico O’Reilley, menggantikan Rice dan Reece James pada menit ke-82.
Hanya tiga menit setelah pergantian tersebut, bencana pun menghampiri Inggris. Fernandez yang beroperasi bebas tanpa kawalan di lini tengah, mendapatkan umpan matang dari Messi yang langsung melepaskan tembakan keras dari jarak 22 meter tanpa bisa dibendung oleh Pickford.

Para pemain Inggris seperti sengaja membiarkan Fernandez yang beberapa saat sebelumnya sudah mengancam gawang Pickford dari tempat yang sama.
Akhirnya, Inggris harus mengubur mimpi mereka untuk lolos ke final Piala Dunia setelah sundulan pemain pengganti Lautaro Martinez memanfaatkan umpan Messi menghujam gawang Pickford. Upaya Inggris untuk mengejar ketinggalan, termasuk menjadikan Burn sebagai striker mendampingi Kane tak membuahkan hasil.
Hasil itu kian mengukuhkan nama Messi sebagai pesepak bola terbaik sepanjang masa. Ia bisa melampaui pencapaian dewa sepak bola Argentina, Diego Maradona, jika mampu mempersembahkan trofi Piala Dunia yang keempat.
Baca JugaMessi, Akankah Dia Lebih Hebat dari Maradona?