Kamis (2/7/2026), sekitar pukul 11.00, suasana markas latihan tim Brasil selama Piala Dunia 2026 di Morristown, pinggiran New Jersey, begitu panas. Suhu udara mencapai 34 derajat celcius, yang terasa seperti 41 derajat celcius. Semakin siang makin panas, mencapai 39 derajat celcius yang terasa 45 derajat celcius.
“Bom dia (selamat pagi),” sapa Casemiro yang berjalan sendirian ke arah lapangan untuk berlatih bersama timnas Brasil. Di lapangan yang merupakan pusat latihan klub MLS New York Red Bulls, tiga kiper Brasil, Alisson, Ederson, dan Weverton telah terlebih dahulu menjalani latihan terpisah.
Di belakang Casemiro, rombongan para pemain Brasil juga berdatangan. “Bom dia,” sapa Neymar dan para pemain lainnya pada puluhan wartawan yang berjajar untuk menyaksikan latihan timnas Brasil yang dibuka untuk jurnalis selama 15 menit pertama.
Di belakang Neymar, Vinicius Junior dan Gabriel menyusul ke lapangan. Sesampai di lapangan, mereka langsung pemanasan dan rondo di bawah terik matahari yang sudah sangat panas itu. Latihan dipimpin langsung pelatih Carlo Ancelotti.
Gelombang panas yang menerpa kawasan Amerika Serikat sepertinya belum mengganggu persiapan timnas Brasil melawan Norwegia pada babak 16 besar di Stadion MetLife, New Jersey, Minggu (5/7/2026).
Brasil mengalahkan wakil Asia, Jepang dengan skor 2-1 pada babak 32 besar sedangkan Norwegia menyingkirkan Pantai Gading, juga dengan skor yang sama.

Norwegia akan menjadi ujian terberat Brasil selama di AS. ”The Vikings” diperkuat salah satu striker terbaik dunia saat ini, Erling Haaland.
“Norwegia tidak setaktikal Jepang, tetapi mereka sangat kuat dengan Haaland di depan. Mereka sangat cepat. Tantangannya bagi Brasil adalah tidak membiarkan lawan mendapat bola,” kata Diogo Dantas, wartawan O Globo Brasil selesai meliput latihan.
Mungkin karena itu juga, ancaman kekalahan dari Norwegia karena kurang persiapan, lebih menakutkan bagi Brasil ketimbang suhu panas ekstrem yang kini tengah mengganggu sejumlah aspek kehidupan di sebagian wilayah AS.
Gangguan suhu panas
Suhu panas menyebabkan sejumlah gangguan di New York dan New Jersey, kota-kota tuan rumah Piala Dunia 2026. Peringatan tentang panas ekstrem pun telah dikeluarkan oleh Layanan Cuaca Nasional (NWS) AS, yang meminta warga bersiap dengan cuaca sangat panas dan membatasi aktivitas di luar ruang.
Bahkan pihak NJ Transit yang mengelola transportasi publik di New Jersey menyatakan panas ekstrem tersebut memaksa operasional kereta berjalan lebih lambat sehingga menyebabkan penundaan perjalanan. Peringatan itu disampaikan setiap kali membuka aplikasi NJ Transit, aplikasi pembelian tiket bus maupun kereta.

Laga sepak bola juga sangat rawan terdampak. Piala Dunia tahun ini termasuk salah satu yang terpanas, karena perubahan iklim memicu gelombang panas yang lebih sering dan intens.
Apalagi, pada fase gugur yang berlangsung pada pekan ini, terjadi ketika kubah panas (heat dome) menyelimuti wilayah AS bagian Timur serta sebagian Kanada dan Meksiko.
Hal ini mendorong suhu di atas 37 derajat celcius di banyak kota tempat pertandingan penentuan hidup-mati di stadion terbuka yaitu di Miami, Kansas City, Missouri, dan East Rutherford di New Jersey.
Meski begitu, sejauh ini belum ada laga tertunda karena suhu panas. Penundaan terjadi justru karena badai petir dan hujan saat laga Perancis bertemu Irak di Philadelphia pada penyisihan grup.
Jeda hidrasi
Gelombang panas ini pun kembali mengungkit soal kewajiban jeda hidrasi yang kontroversial. Ternyata, setelah sempat dikecam sana-sini, jeda hidrasi selama tiga menit tersebut sangat berguna di tengah panas eskstrem yang melanda AS, terutama di wilayah bagian timur.
Piala Dunia kali ini memang menjadi yang pertama untuk mewajibkan jeda hidrasi pada pertengahan setiap babak, tanpa memandang kondisi cuaca. Setiap kali wasit meniup peluit untuk jeda hidrasi, pendukung yang memadati stadion pun mencemoohnya.

Pemain, pelatih, penggemar, dan komentator tidak hanya berdebat tentang apakah perlu ada jeda hidrasi, tetapi juga pada suhu berapa, berapa lama, dan atas kebijakan siapa. Sebagian menggangap jeda hidrasi itu adalah akal-akalan FIFA untuk mengeruk duit dari penjualan iklan saja.
Akan tetapi, Presiden FIFA Gianni Infatino telah membantas keras soal tersebut. “Keputusan ini murni didasarkan pada keadilan olahraga dan nilai-nilai olahraga. Saya ingin menegaskan ini, karena saya mendengar juga bahwa ini tentang uang — padahal bukan,” kata Infantino.
Infantino mengatakan, kewajiban agar semua pertandingan dilakukan jeda pertandingan adalah demi asas keadilan. Menurutnya, tidak adil jika membiarkan beberapa tim mendapatkan keuntungan dari jeda hidrasi hanya karena cuaca panas, tanpa memberikan keuntungan yang sama kepada tim lain dalam turnamen.
Para profesional medis mendukung pernyataan Infantino, dengan mengatakan bahwa jeda hidrasi sangat diperlukan untuk olahraga luar ruangan yang semakin sering menuntut pemain bertanding dalam kondisi panas ekstrem.
“Saya rasa inti dari sepak bola tidak harus berubah secara mendasar. Tidak ada penggemar sejati yang ingin membahayakan kesehatan pemain yang mereka dukung,” kata Travis Hanson, seorang ahli bedah ortopedi yang menjadi staf medis untuk tim nasional sepak bola AS, dikutip dari Politico.
Perdebatan
FIFA pertama kali mengizinkan wasit untuk menghentikan pertandingan demi jeda hidrasi pada Piala Dunia 2014 di Brasil, ketika suhu bola basah (wet-bulb globe temperature/WBGT) melebihi 32 derajat Celsius.
Ukuran suhu bola basah ini dikembangkan militer AS untuk mengukur bagaimana kondisi seperti sinar matahari, kelembapan, dan kecepatan angin, berpadu dengan suhu udara hingga memengaruhi performa fisik dan mencegah jatuhnya korban akibat suhu panas. Jeda opsional tersebut berlangsung selama tiga menit dan dilakukan sekitar menit ke-30 di setiap babak.
Persatuan pemain profesional FIFPRO, memprotes pendekatan FIFA setelah turnamen Piala Dunia Antarklub tahun lalu di AS. Para pesepak bola menghadapi tingkat panas yang mengkhawatirkan dan mengatakan pedoman yang ada saat ini tidak cukup untuk melindungi kesehatan dan performa para pemain.

Meski demikian, tidak semua suka dengan keputusan FIFA yang mewajibkan seluruh laga melakukan jeda hidrasi, tanpa memandang kondisi cuaca. “Saya hanya menyukainya ketika kondisinya ekstrem. Ketika kondisinya bagus, itu tidak perlu,” kata pelatih AS Mauricio Pochettino kepada ESPN.
Di tengah kondisi panas ekstrem, keselamatan pemain dalam pertandingan adalah yang utama. Perdebatan soal jeda hidrasi bisa ditunda dulu.
Kamis (2/7/2026), sekitar pukul 11.00, suasana markas latihan tim Brasil selama Piala Dunia 2026 di Morristown, pinggiran New Jersey, begitu panas. Suhu udara mencapai 34 derajat celcius, yang terasa seperti 41 derajat celcius. Semakin siang makin panas, mencapai 39 derajat celcius yang terasa 45 derajat celcius.
“Bom dia (selamat pagi),” sapa Casemiro yang berjalan sendirian ke arah lapangan untuk berlatih bersama timnas Brasil. Di lapangan yang merupakan pusat latihan klub MLS New York Red Bulls, tiga kiper Brasil, Alisson, Ederson, dan Weverton telah terlebih dahulu menjalani latihan terpisah.
Di belakang Casemiro, rombongan para pemain Brasil juga berdatangan. “Bom dia,” sapa Neymar dan para pemain lainnya pada puluhan wartawan yang berjajar untuk menyaksikan latihan timnas Brasil yang dibuka untuk jurnalis selama 15 menit pertama.

Di belakang Neymar, Vinicius Junior dan Gabriel menyusul ke lapangan. Sesampai di lapangan, mereka langsung pemanasan dan rondo di bawah terik matahari yang sudah sangat panas itu. Latihan dipimpin langsung pelatih Carlo Ancelotti.
Gelombang panas yang menerpa kawasan Amerika Serikat sepertinya belum mengganggu persiapan timnas Brasil melawan Norwegia pada babak 16 besar di Stadion MetLife, New Jersey, Minggu (5/7/2026).
Brasil mengalahkan wakil Asia, Jepang dengan skor 2-1 pada babak 32 besar sedangkan Norwegia menyingkirkan Pantai Gading, juga dengan skor yang sama.

Norwegia akan menjadi ujian terberat Brasil selama di AS. ”The Vikings” diperkuat salah satu striker terbaik dunia saat ini, Erling Haaland.
“Norwegia tidak setaktikal Jepang, tetapi mereka sangat kuat dengan Haaland di depan. Mereka sangat cepat. Tantangannya bagi Brasil adalah tidak membiarkan lawan mendapat bola,” kata Diogo Dantas, wartawan O Globo Brasil selesai meliput latihan.
Mungkin karena itu juga, ancaman kekalahan dari Norwegia karena kurang persiapan, lebih menakutkan bagi Brasil ketimbang suhu panas ekstrem yang kini tengah mengganggu sejumlah aspek kehidupan di sebagian wilayah AS.
Gangguan suhu panas
Suhu panas menyebabkan sejumlah gangguan di New York dan New Jersey, kota-kota tuan rumah Piala Dunia 2026. Peringatan tentang panas ekstrem pun telah dikeluarkan oleh Layanan Cuaca Nasional (NWS) AS, yang meminta warga bersiap dengan cuaca sangat panas dan membatasi aktivitas di luar ruang.
Bahkan pihak NJ Transit yang mengelola transportasi publik di New Jersey menyatakan panas ekstrem tersebut memaksa operasional kereta berjalan lebih lambat sehingga menyebabkan penundaan perjalanan. Peringatan itu disampaikan setiap kali membuka aplikasi NJ Transit, aplikasi pembelian tiket bus maupun kereta.
Baca JugaPanas Ekstrem Saat Laga Piala Dunia, Pemain dan Penonton Terancam

Laga sepak bola juga sangat rawan terdampak. Piala Dunia tahun ini termasuk salah satu yang terpanas, karena perubahan iklim memicu gelombang panas yang lebih sering dan intens.
Apalagi, pada fase gugur yang berlangsung pada pekan ini, terjadi ketika kubah panas (heat dome) menyelimuti wilayah AS bagian Timur serta sebagian Kanada dan Meksiko.
Hal ini mendorong suhu di atas 37 derajat celcius di banyak kota tempat pertandingan penentuan hidup-mati di stadion terbuka yaitu di Miami, Kansas City, Missouri, dan East Rutherford di New Jersey.
Meski begitu, sejauh ini belum ada laga tertunda karena suhu panas. Penundaan terjadi justru karena badai petir dan hujan saat laga Perancis bertemu Irak di Philadelphia pada penyisihan grup.
Jeda hidrasi
Gelombang panas ini pun kembali mengungkit soal kewajiban jeda hidrasi yang kontroversial. Ternyata, setelah sempat dikecam sana-sini, jeda hidrasi selama tiga menit tersebut sangat berguna di tengah panas eskstrem yang melanda AS, terutama di wilayah bagian timur.
Piala Dunia kali ini memang menjadi yang pertama untuk mewajibkan jeda hidrasi pada pertengahan setiap babak, tanpa memandang kondisi cuaca. Setiap kali wasit meniup peluit untuk jeda hidrasi, pendukung yang memadati stadion pun mencemoohnya.

Pemain, pelatih, penggemar, dan komentator tidak hanya berdebat tentang apakah perlu ada jeda hidrasi, tetapi juga pada suhu berapa, berapa lama, dan atas kebijakan siapa. Sebagian menggangap jeda hidrasi itu adalah akal-akalan FIFA untuk mengeruk duit dari penjualan iklan saja.
Akan tetapi, Presiden FIFA Gianni Infatino telah membantas keras soal tersebut. “Keputusan ini murni didasarkan pada keadilan olahraga dan nilai-nilai olahraga. Saya ingin menegaskan ini, karena saya mendengar juga bahwa ini tentang uang — padahal bukan,” kata Infantino.
Baca JugaGelombang Panas Landa Eropa, Indonesia Bersiap Hadapi Ancaman Perubahan Iklim
Infantino mengatakan, kewajiban agar semua pertandingan dilakukan jeda pertandingan adalah demi asas keadilan. Menurutnya, tidak adil jika membiarkan beberapa tim mendapatkan keuntungan dari jeda hidrasi hanya karena cuaca panas, tanpa memberikan keuntungan yang sama kepada tim lain dalam turnamen.
Para profesional medis mendukung pernyataan Infantino, dengan mengatakan bahwa jeda hidrasi sangat diperlukan untuk olahraga luar ruangan yang semakin sering menuntut pemain bertanding dalam kondisi panas ekstrem.
“Saya rasa inti dari sepak bola tidak harus berubah secara mendasar. Tidak ada penggemar sejati yang ingin membahayakan kesehatan pemain yang mereka dukung,” kata Travis Hanson, seorang ahli bedah ortopedi yang menjadi staf medis untuk tim nasional sepak bola AS, dikutip dari Politico.
Perdebatan
FIFA pertama kali mengizinkan wasit untuk menghentikan pertandingan demi jeda hidrasi pada Piala Dunia 2014 di Brasil, ketika suhu bola basah (wet-bulb globe temperature/WBGT) melebihi 32 derajat Celsius.
Ukuran suhu bola basah ini dikembangkan militer AS untuk mengukur bagaimana kondisi seperti sinar matahari, kelembapan, dan kecepatan angin, berpadu dengan suhu udara hingga memengaruhi performa fisik dan mencegah jatuhnya korban akibat suhu panas. Jeda opsional tersebut berlangsung selama tiga menit dan dilakukan sekitar menit ke-30 di setiap babak.
Persatuan pemain profesional FIFPRO, memprotes pendekatan FIFA setelah turnamen Piala Dunia Antarklub tahun lalu di AS. Para pesepak bola menghadapi tingkat panas yang mengkhawatirkan dan mengatakan pedoman yang ada saat ini tidak cukup untuk melindungi kesehatan dan performa para pemain.

Meski demikian, tidak semua suka dengan keputusan FIFA yang mewajibkan seluruh laga melakukan jeda hidrasi, tanpa memandang kondisi cuaca. “Saya hanya menyukainya ketika kondisinya ekstrem. Ketika kondisinya bagus, itu tidak perlu,” kata pelatih AS Mauricio Pochettino kepada ESPN.
Di tengah kondisi panas ekstrem, keselamatan pemain dalam pertandingan adalah yang utama. Perdebatan soal jeda hidrasi bisa ditunda dulu.
Baca JugaHeat Dome Picu Gelombang Panas Global, Jutaan Orang Terdampak