اخبار

Anton Prijatno, 100 Persen untuk Universitas Surabaya

الكاتبabdulrahman-mustafaتاريخ النشر
Anton Prijatno, 100 Persen untuk Universitas Surabaya

Rektor Universitas Surabaya (Ubaya) periode 1994-2003 sekaligus Ketua Umum Yayasan Ubaya Anton Prijatno telah berpulang. Namun, dedikasinya selama puluhan tahun meninggalkan warisan kemajuan yang patut dilanjutkan oleh seluruh sivitas akademika kampus tersebut.

”Hidup Papa didedikasikan untuk kemajuan Ubaya sejak menjadi mahasiswa sampai akhir hayatnya. Papa itu 100 persen Ubaya,” ujar Haris Riyadi, putra sulung Anton, di Rumah Duka Adi Jasa, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (30/6/2026) siang.

Anton berpulang saat menjalani perawatan di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura, Sabtu (27/6/2026) pukul 18.21 WIB atau 19.21 waktu setempat. Kabar duka itu diterima sivitas akademika ketika tengah mengikuti Bali Festival 2026 yang diselenggarakan Unit Kegiatan Kerohanian Hindu Ubaya di Kampus Tenggilis.

”Papa sempat dirawat selama dua pekan di Surabaya. Karena kondisinya tidak membaik, kami membawanya ke Singapura,” kata Haris, anak sulung dari tiga bersaudara.

Menurut Haris, kondisi ayahnya sempat membaik dua hari sebelum wafat. Namun, kesehatannya kembali menurun hingga akhirnya mengembuskan napas terakhir. ”Kami sempat berharap kondisinya pulih. Namun, akhirnya Papa berpulang. Kami sangat kehilangan,” ujarnya.

Jenazah Anton kemudian diterbangkan dari Singapura ke Surabaya dan disemayamkan di Rumah Duka Adi Jasa. Pada Selasa pukul 19.00 WIB digelar Misa Requiem atau Misa Arwah. Rabu (1/7/2026) pukul 19.00 WIB dijadwalkan berlangsung Misa Tutup Peti yang menurut rencana dipimpin Uskup Surabaya Monsinyur Agustinus Tri Budi Utomo.

Kamis (2/7/2026) pukul 08.00 WIB akan dilaksanakan ibadat pemberangkatan dari Adi Jasa menuju Kampus Tenggilis. Pukul 09.00 WIB, jenazah Anton akan menerima penghormatan dan pelepasan dari sivitas akademika di Lantai 1 Gedung Perpustakaan Ubaya. Selanjutnya, pukul 10.00 WIB jenazah diberangkatkan menuju tempat peristirahatan terakhir di Puncak Nirwana Memorial Park, Kabupaten Pasuruan.

”Sempat direncanakan dikremasi lalu dimakamkan di Kembang Kuning, Surabaya. Namun, karena sudah sangat padat, keluarga akhirnya memutuskan untuk tidak melakukan kremasi dan memakamkannya di Puncak Nirwana,” ujar Haris.

Anton lahir pada 17 Mei 1949 dan berpulang dalam usia 77 tahun. Ia meninggalkan istri, Irma Windra Syahrial, tiga anak, yakni Haris Riyadi, Harini Riana, dan Hardina Riani, serta tiga cucu.

Rektor Ubaya Benny Lianto mengatakan, almarhum mendedikasikan hampir seluruh hidupnya untuk kampus tersebut. ”Pak Anton adalah 100 persen untuk Ubaya,” katanya.

Ketua Umum Yayasan Ubaya Anton Prijatno yang juga Rektor Ubaya 1994-1999 dan 1999-2003 semasa hidup.
Suasana di Rumah Duka Adi Jasa, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (30/6/2026), tempat disemayamkan Ketua Umum Yayasan Universitas Surabaya (Ubaya) Anton Prijatno.

Ubaya resmi berdiri pada 6 Maret 1968 sebagai kelanjutan dari Universitas Trisakti (Usakti) Surabaya. Embrio perguruan tinggi itu telah ada sejak 1960 dengan nama Universitas Sawerigading Surabaya. Pada 1963 namanya berubah menjadi Universitas Res Publica (Ureca) Surabaya, kemudian menjadi Usakti pada 1966, sebelum akhirnya menjadi Ubaya pada 1968.

Pada masa awal berdirinya Ubaya, Anton menempuh pendidikan di Fakultas Hukum. Semasa kuliah, menurut keluarganya, ia bercita-cita menjadi aktivis. Kesibukannya sebagai Ketua Dewan Mahasiswa menjadi bagian dari perjalanan tersebut.

Selepas lulus, Anton justru memilih mengabdikan hidupnya di Ubaya. Ia memulai karier sebagai asisten dosen. Sejak itu, Ubaya seolah menjadi jalan hidupnya. Kariernya terus berkembang, mulai dari dosen, sekretaris, hingga asisten pembantu rektor.

Pada 1976-1984, Anton menjabat Pembantu Rektor III. Selanjutnya, pada 1984-1994, ia dipercaya sebagai Pembantu Rektor I. Setelah itu, selama dua periode, 1994-2003, Anton memimpin Ubaya sebagai rektor. Seusai purna tugas, sejak 2007 hingga akhir hayat, ia mengemban amanah sebagai Ketua Umum Yayasan Ubaya.

Kompas masih mengingat perbincangan dengan Anton pada 2004, tidak lama setelah ia menyelesaikan masa jabatannya sebagai rektor. Saat itu Anton mengenang bahwa periode 1968-1978 merupakan masa-masa paling sulit bagi Ubaya. Kampus itu bahkan sempat terancam bubar karena hanya memiliki sekitar 400 mahasiswa di tiga fakultas.

Selepas lulus, Anton justru memilih mengabdikan hidupnya di Ubaya. Ia memulai karier sebagai asisten dosen.

Sebagai mahasiswa aktivis, Anton ikut mempertahankan keberlangsungan kampus bersama Rektor pertama Ubaya, Prof Mr Boedisoesetya (1968-1976), serta jajaran Yayasan Ubaya.

Boedisoesetya ketika itu memegang prinsip alis volat propriis atau ”terbang dengan sayap sendiri”. Prinsip tentang kemandirian itu kemudian menginspirasi dan dipegang teguh Anton sepanjang pengabdiannya di Ubaya.

Selain itu, Anton juga menjadikan prinsip pacta sunt servanda atau ”janji harus ditepati” sebagai bagian dari budaya organisasi di Ubaya. Nilai tersebut diwujudkan melalui etika yang bertumpu pada kejujuran dan integritas. Kehidupan akademik pun dibangun di atas nilai keberagaman, kemanusiaan, antidiskriminasi, dan toleransi.

Mengutip arsip.ubaya.ac.id, pada masa kepemimpinan Anton sebagai rektor ketiga, Ubaya berkembang menjadi perguruan tinggi swasta yang semakin dikenal di tingkat nasional maupun internasional. Ia juga menjadi salah satu tokoh yang membidani lahirnya Forum Rektor Indonesia. Selain itu, Anton aktif di Association of Universities of Asia and the Pacific (AUAP), organisasi yang memiliki status konsultatif di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan UNESCO.

Pada masa kepemimpinannya pula, Ubaya memperoleh berbagai program pendanaan, antara lain Technological and Professional Skills Development Sector Project (TPSDP) dan Program Hibah Kompetisi Institusi (PHKI). Gedung perpustakaan enam lantai yang mulai dibangun pada 1989 resmi dioperasikan pada 1995.

Ketika Reformasi 1998 bergulir, Anton bersama sivitas akademika Ubaya turut mengawal gerakan yang mengakhiri pemerintahan Presiden ke-2 RI Soeharto.

Pada masa kepemimpinan Anton sebagai rektor ketiga, Ubaya berkembang menjadi perguruan tinggi swasta yang semakin dikenal di tingkat nasional maupun internasional.

Di bidang akademik, Ubaya membentuk dan mengembangkan berbagai pusat studi, antara lain Pusat Studi Hak Asasi Manusia (1995), Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan (Pusbangdaya) (1995), Pusat Studi Lingkungan (1995), Pusat Pembinaan (Pusbin) (1995), Pusat Informasi Obat dan Layanan Kefarmasian (PIOLK) (1999), serta Pusat Informasi dan Pengembangan Obat Tradisional (PIPOT) (2001).

Ubaya juga memperluas jejaring internasional melalui konsep International Village pada 2001. Setahun kemudian, Anton menginisiasi pendirian Pusat Arsip dan Museum Ubaya sebagai upaya melestarikan sejarah perjalanan kampus yang berkembang dari tiga fakultas menjadi delapan fakultas.

Di antara para rektor Ubaya, hanya Anton yang berlatar belakang pendidikan strata satu dengan gelar Sarjana Hukum. Namun, keunggulannya tidak terletak pada jenjang akademik semata, melainkan pada keteguhan, kepemimpinan, kompetensi, dan kemampuannya membangun jejaring dengan berbagai pihak demi kemajuan Ubaya.

Rektor Universitas Surabaya (Ubaya) periode 1994-2003 sekaligus Ketua Umum Yayasan Ubaya Anton Prijatno telah berpulang. Namun, dedikasinya selama puluhan tahun meninggalkan warisan kemajuan yang patut dilanjutkan oleh seluruh sivitas akademika kampus tersebut.

”Hidup Papa didedikasikan untuk kemajuan Ubaya sejak menjadi mahasiswa sampai akhir hayatnya. Papa itu 100 persen Ubaya,” ujar Haris Riyadi, putra sulung Anton, di Rumah Duka Adi Jasa, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (30/6/2026) siang.

Anton berpulang saat menjalani perawatan di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura, Sabtu (27/6/2026) pukul 18.21 WIB atau 19.21 waktu setempat. Kabar duka itu diterima sivitas akademika ketika tengah mengikuti Bali Festival 2026 yang diselenggarakan Unit Kegiatan Kerohanian Hindu Ubaya di Kampus Tenggilis.

”Papa sempat dirawat selama dua pekan di Surabaya. Karena kondisinya tidak membaik, kami membawanya ke Singapura,” kata Haris, anak sulung dari tiga bersaudara.

Menurut Haris, kondisi ayahnya sempat membaik dua hari sebelum wafat. Namun, kesehatannya kembali menurun hingga akhirnya mengembuskan napas terakhir. ”Kami sempat berharap kondisinya pulih. Namun, akhirnya Papa berpulang. Kami sangat kehilangan,” ujarnya.

Baca JugaAnton Prijatno, ”Pejuang” Universitas Surabaya BerpulangBaca JugaUniversitas Surabaya

Jenazah Anton kemudian diterbangkan dari Singapura ke Surabaya dan disemayamkan di Rumah Duka Adi Jasa. Pada Selasa pukul 19.00 WIB digelar Misa Requiem atau Misa Arwah. Rabu (1/7/2026) pukul 19.00 WIB dijadwalkan berlangsung Misa Tutup Peti yang menurut rencana dipimpin Uskup Surabaya Monsinyur Agustinus Tri Budi Utomo.

Kamis (2/7/2026) pukul 08.00 WIB akan dilaksanakan ibadat pemberangkatan dari Adi Jasa menuju Kampus Tenggilis. Pukul 09.00 WIB, jenazah Anton akan menerima penghormatan dan pelepasan dari sivitas akademika di Lantai 1 Gedung Perpustakaan Ubaya. Selanjutnya, pukul 10.00 WIB jenazah diberangkatkan menuju tempat peristirahatan terakhir di Puncak Nirwana Memorial Park, Kabupaten Pasuruan.

”Sempat direncanakan dikremasi lalu dimakamkan di Kembang Kuning, Surabaya. Namun, karena sudah sangat padat, keluarga akhirnya memutuskan untuk tidak melakukan kremasi dan memakamkannya di Puncak Nirwana,” ujar Haris.

Anton lahir pada 17 Mei 1949 dan berpulang dalam usia 77 tahun. Ia meninggalkan istri, Irma Windra Syahrial, tiga anak, yakni Haris Riyadi, Harini Riana, dan Hardina Riani, serta tiga cucu.

Rektor Ubaya Benny Lianto mengatakan, almarhum mendedikasikan hampir seluruh hidupnya untuk kampus tersebut. ”Pak Anton adalah 100 persen untuk Ubaya,” katanya.

Pelayat memberikan penghormatan kepada Ketua Umum Yayasan Surabaya (Ubaya) Anton Prijatno di Rumah Duka Adi Jasa, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (30/6/2026).
Ketua Umum Yayasan Ubaya Anton Prijatno yang juga Rektor Ubaya 1994-1999 dan 1999-2003 semasa hidup.
Suasana di Rumah Duka Adi Jasa, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (30/6/2026), tempat disemayamkan Ketua Umum Yayasan Universitas Surabaya (Ubaya) Anton Prijatno.

Ubaya resmi berdiri pada 6 Maret 1968 sebagai kelanjutan dari Universitas Trisakti (Usakti) Surabaya. Embrio perguruan tinggi itu telah ada sejak 1960 dengan nama Universitas Sawerigading Surabaya. Pada 1963 namanya berubah menjadi Universitas Res Publica (Ureca) Surabaya, kemudian menjadi Usakti pada 1966, sebelum akhirnya menjadi Ubaya pada 1968.

Pada masa awal berdirinya Ubaya, Anton menempuh pendidikan di Fakultas Hukum. Semasa kuliah, menurut keluarganya, ia bercita-cita menjadi aktivis. Kesibukannya sebagai Ketua Dewan Mahasiswa menjadi bagian dari perjalanan tersebut.

Selepas lulus, Anton justru memilih mengabdikan hidupnya di Ubaya. Ia memulai karier sebagai asisten dosen. Sejak itu, Ubaya seolah menjadi jalan hidupnya. Kariernya terus berkembang, mulai dari dosen, sekretaris, hingga asisten pembantu rektor.

Pada 1976-1984, Anton menjabat Pembantu Rektor III. Selanjutnya, pada 1984-1994, ia dipercaya sebagai Pembantu Rektor I. Setelah itu, selama dua periode, 1994-2003, Anton memimpin Ubaya sebagai rektor. Seusai purna tugas, sejak 2007 hingga akhir hayat, ia mengemban amanah sebagai Ketua Umum Yayasan Ubaya.

Kompas masih mengingat perbincangan dengan Anton pada 2004, tidak lama setelah ia menyelesaikan masa jabatannya sebagai rektor. Saat itu Anton mengenang bahwa periode 1968-1978 merupakan masa-masa paling sulit bagi Ubaya. Kampus itu bahkan sempat terancam bubar karena hanya memiliki sekitar 400 mahasiswa di tiga fakultas.

Selepas lulus, Anton justru memilih mengabdikan hidupnya di Ubaya. Ia memulai karier sebagai asisten dosen.

Sebagai mahasiswa aktivis, Anton ikut mempertahankan keberlangsungan kampus bersama Rektor pertama Ubaya, Prof Mr Boedisoesetya (1968-1976), serta jajaran Yayasan Ubaya.

Boedisoesetya ketika itu memegang prinsip alis volat propriis atau ”terbang dengan sayap sendiri”. Prinsip tentang kemandirian itu kemudian menginspirasi dan dipegang teguh Anton sepanjang pengabdiannya di Ubaya.

Selain itu, Anton juga menjadikan prinsip pacta sunt servanda atau ”janji harus ditepati” sebagai bagian dari budaya organisasi di Ubaya. Nilai tersebut diwujudkan melalui etika yang bertumpu pada kejujuran dan integritas. Kehidupan akademik pun dibangun di atas nilai keberagaman, kemanusiaan, antidiskriminasi, dan toleransi.

Baca JugaUbaya Terima Penghargaan Standar Nasional Indonesia Kelima KaliBaca JugaNugget Daun Kelor Karya Mahasiswa Ubaya

Mengutip arsip.ubaya.ac.id, pada masa kepemimpinan Anton sebagai rektor ketiga, Ubaya berkembang menjadi perguruan tinggi swasta yang semakin dikenal di tingkat nasional maupun internasional. Ia juga menjadi salah satu tokoh yang membidani lahirnya Forum Rektor Indonesia. Selain itu, Anton aktif di Association of Universities of Asia and the Pacific (AUAP), organisasi yang memiliki status konsultatif di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan UNESCO.

Pada masa kepemimpinannya pula, Ubaya memperoleh berbagai program pendanaan, antara lain Technological and Professional Skills Development Sector Project (TPSDP) dan Program Hibah Kompetisi Institusi (PHKI). Gedung perpustakaan enam lantai yang mulai dibangun pada 1989 resmi dioperasikan pada 1995.

Ketika Reformasi 1998 bergulir, Anton bersama sivitas akademika Ubaya turut mengawal gerakan yang mengakhiri pemerintahan Presiden ke-2 RI Soeharto.

Pada masa kepemimpinan Anton sebagai rektor ketiga, Ubaya berkembang menjadi perguruan tinggi swasta yang semakin dikenal di tingkat nasional maupun internasional.

Di bidang akademik, Ubaya membentuk dan mengembangkan berbagai pusat studi, antara lain Pusat Studi Hak Asasi Manusia (1995), Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan (Pusbangdaya) (1995), Pusat Studi Lingkungan (1995), Pusat Pembinaan (Pusbin) (1995), Pusat Informasi Obat dan Layanan Kefarmasian (PIOLK) (1999), serta Pusat Informasi dan Pengembangan Obat Tradisional (PIPOT) (2001).

Ubaya juga memperluas jejaring internasional melalui konsep International Village pada 2001. Setahun kemudian, Anton menginisiasi pendirian Pusat Arsip dan Museum Ubaya sebagai upaya melestarikan sejarah perjalanan kampus yang berkembang dari tiga fakultas menjadi delapan fakultas.

Di antara para rektor Ubaya, hanya Anton yang berlatar belakang pendidikan strata satu dengan gelar Sarjana Hukum. Namun, keunggulannya tidak terletak pada jenjang akademik semata, melainkan pada keteguhan, kepemimpinan, kompetensi, dan kemampuannya membangun jejaring dengan berbagai pihak demi kemajuan Ubaya.